Kunjungan Paus Fransiskus: Telaah Keteladanan, Hentikan Cibiran untuk Masyarakat!

Muallifah

10/09/2024

3
Min Read

On This Post

Harakatuna.comDi media sosial, khususnya Twitter, sedang ramai soal sebuah cuitan salah satu akun yang mempertentangkan berbagai cuitan atas kesederhanaan Paus Fransiskus, ketika melakukan kunjungan apostolik di Indonesia pada 3-6 September beberapa waktu lalu. Dalam cuitan tersebut, sebuah akun menggugat bahwa, seorang Muslim tidak pantas untuk kagum terhadap kesederhanaan Paus Fransiskus karena bukan seorang Muslim. Lebih jauh, ia membandingkan dengan Rasulullah Saw, yang seharusnya menjadi suri teladan masyarakat Muslim atas kesederhanaan dan ketakwaan sebagai manusia paling sempurna.

Di sinilah analogi yang digugat oleh sebagian kelompok warga Twitter. Bahwasanya mengagumi Paus Fransiskus sebagai salah satu pemimpin di dunia yang meneladankan kesederhanaan adalah satu fenomena. Mengagumi Rasulullah Saw., sebagai makhluk yang paling sempurna dan tidak ada tandingannya dengan manusia siapa pun, adalah fenomena yang lain. Keduanya tidak bisa dibandingkan, sebab sebagai umat Muslim, Rasulullah Saw., adalah makhluk sempurna yang diciptakan oleh Allah Swt. Keteladanan atas kepemimpinan, kesederhanaan, kejujuran, bahkan seluruh perjalanan hidupnya, adalah bukti bahwa Rasulullah adalah seorang yang sempurna.

Jika kita mengagumi Paus Fransiskus, salah satunya karena ia adalah sosok yang baru saja kita lihat secara kasat mata. Manusia yang hidup di era modern, dengan berbagai privilege yang sangat bisa memanfaatkan kekayaan dan kemewahan, di mana kesederhanaan seperti berlian yang sangat berharga dan tidak semua pemimpin mampu hidup seperti itu di era saat ini. Ada ruang kekaguman terhadap sosok Paus, yang tidak bisa disamakan atau dibandikan dengan Rasulullah Saw.

Jika kita sebagai umat Muslim mengagumi Paus sebagai pemimpin yang sederhana, tidak perlu digugat ataupun dicibir. Sebab kita sedang menonton secara riil seorang pemimpin yang sederhana, yang tidak dicontohkan oleh pemimpin yang ada di negara Indonesia.

Selain fenomena di atas, aktivis khilafah juga ikut-ikutan menyebarkan propaganda berupa cibiran kepada masyarakat Muslim di Indonesia. Melalui tulisan yang dipublish di Muslimahnews.net, mereka menyebut bahwa kunjungan Paus adalah pengukuhan penjajahan Barat. Di tengah euforia masyarakat Indonesia menyambut kehadiran Paus, nyatanya mereka masih sibuk menyebarkan kebencian, cibiran yang berpotensi merusak keutuhan masyarakat beragama.

Membaca tulisan tersebut, rasanya kita perlu menegaskan diri sebagai umat Muslim bahwa, aktivis khilafah bukanlah kelompok yang sedang memperjuangkan Islam, justru memperburuk citra Islam itu sendiri. Sebab narasi atas kedatangan Paus yang disampaikan oleh mereka, berisi kebencian antar umat beragama yang sama sekali tidak melambangkan ajaran Islam sebagai ajaran yang saling mengasihi terhadap sesama umat manusia.

Keteladanan atas Sikap Sederhana Seorang Pemimpin

Kunjungan Paus Fransiskus memiliki banyak sekali kesan dan pesan bagi masyarakat Indonesia, khususnya umat Katolik. Berbagai sambutan yang disampaikan oleh Paus, menunjukkan sebuah keteladanan atas kepemimpinan yang selama ini dipraktikkan. Pembelaan dirinya terhadap kaum papa, masyarakat miskin dan tertindas, menjadi kritik keras kepada para pemimpin negeri ini yang terus hidup di tengah kemewahan dan kenyamanan.

Paus tidak hanya membela masyarakat miskin dalam sambutannya, namun juga dalam praktik kehidupan yang dilakukan, mulai dari pakaian, kendaraan yang digunakan, hingga tempat tinggal yang dipilih ketika berkunjung ke Indonesia, menjadi sebuah bukti bahwa kualifikasi seorang pemimpin dibuktikan dengan ketidakinginannya menjadi seorang pemimpin.

Sikap-sikap tersebut yang dikagumi oleh bangsa Indonesia di tengah krisis seorang pemimpin yang mencerminkan demikian. Begitu banyak pemimpin di negara kita, yang hidup di tengah kemewahan, kenyamanan dan berupaya untuk memperkaya diri. Kita lihat Paus sebagai seorang pemimpin, yang bisa dijadikan teladan pemimpin masa kini. Maka tidak perlu lagi untuk memperdebatkan agama Paus, yang berpotensi untuk merusak kerukunan umat beragama di Indonesia.

Sebab, bangsa Indonesia adalah bangsa yang memiliki toleransi yang tinggi, khususnya dalam hubungan antar umat beragama. Hentikan kelompok yang berusaha menciderai karakter bangsa Indonesia tersebut. Mari jadi generasi cerdas dan kritis sehingga tidak bisa dibodoh-bodohi oleh para aktivis khilafah. Wallahu A’lam.

Leave a Comment

Related Post