Refleksi Kunjungan Paus Fransiskus: Sebarkan Humanisme, Berantas Intoleransi!

Ahmad Miftahudin Thohari

10/09/2024

5
Min Read
paus Toleransi

On This Post

Harakatuna.com – Kedatangan Paus Fransiskus adalah sebuah momen berkesan dan penuh makna bagi bangsa Indonesia, juga seluruh warganya. Tak ayal, banyak akademisi, pengamat sosial, hingga para agamawan yang kemudian mencoba merefleksikan lawatan Paus Fransiskus ke Indonesia untuk hal-hal baik bagi masa depan bangsa, khususnya hal-ihwal toleransi.

Banyak tulisan reflektif bermunculan yang mengkaitkan kedatangan Paus Fransiskus untuk melakukan perenungan dan perbaikan diri sekaligus bangsa dari persoalan-persoalan yang muncul di Indonesia, yang satu harinya bisa muncul 4-5 tulisan, mulai dari persoalan politik, lingkungan, interaksi kaum beragama, hingga persoalan-persoalan kemanusiaan.

Bangsa Indonesia memang sedang mengalami guncangan dalam banyak bidang. Kita semua harus mengamininya. Akan saat naif kalau kita menganggap bahwa bangsa ini sedang baik-baik saja. Kita harus menyadari “dosa-dosa bangsa” baik yang terhimpun secara kultural maupun yang terjadi secara struktural demi kita mendapati gambaran apa yang mesti dilakukan untuk memperbaikinya.

Ada banyak PR, sebagai suatu masalah atau persoalan-persoalan bangsa kita, yang itu mesti kita terima dan selesaikan bersama-sama secara bahu-membahu. Kita mesti melakukannya, mau tidak mau, demi masa depan bangsa yang baik. Kunjungan Paus Fransiskus yang menyapa bangsa kita dengan segala keteladanan yang tergambar dari sosok beliau, haruslah menjadi titik awal kita untuk pertama-tama menyudahi “dosa bangsa”, dan berusaha memperbaikinya.

Paus Fransiskus dan Keteladanan Toleransi

Pertama-tama, dan yang paling utama mesti kita refleksikan dari kearifan yang tergambar dari sosok Paus Fransiskus adalah keteladanannya untuk menumbuhkan nilai toleransi bangsa kita, baik dalam wilayah agama, budaya maupun pilihan politik. Sebagai manusia, misalnya, dalam strata atau status sosial apa pun, membingkai diri dengan sikap arogan sekaligus sombong adalah hal yang berpotensi mencederai makna penting toleransi itu sendiri.

Ada banyak kejadian yang terjadi di Indonesia—di mana bagi mata pandang kebijaksanaan kita sebagai manusia yang arif—menyalahi aturan main dan nilai toleransi itu sendiri. Bahkan, sebagai bangsa yang memiliki level kebudayaan cukup prural terlepas dari apa pun faktornya, kita ternyata masih sangat latah untuk benar-benar menatar diri agar bisa bersikap toleran terhadap sesama yang lain.

Arogansi politik yang memunculkan anasir-anasir polarisasi di elemen masyarakat kita menjadi contoh paling sering muncul yang dapat digunakan untuk mengatakan bahwa bangsa kita ini nyatanya belum cukup dewasa untuk memahami dan mengarifi makna penting dari toleransi. Sehingga, toleransi selalu saja menjadi barang langka yang mahal harganya untuk bisa kita beli dan nikmati pesan moralnya.

Arogansi budaya juga sedikit banyak mengalami hal yang sama. Ketika, misalnya, ada contoh-contoh di mana sikap stereotipe yang selalu muncul dalam cara kita memandang mereka yang lain secara rasis. Ada persentuhan sikap batin menarik ketika saya hendak mengajar TPA di musala terdekat beberapa waktu lalu. Salah seorang murid kelas 3 SD bertanya seolah memberikan tebak-tebakan kepada saya: “Apa sifat utama netizen Indonesia, Mas?” Tentulah, saya tidak langsung menjawab. Dan, balik bertanya, “memangnya apa?”. Murid itu kemudian berkata, “Rasis, Mas.”

Saya kemudian berpikir, dan apa yang dikatakan oleh murid itu tidak bisa benar-benar saya bantah. Karena demikianlah memang. Penggunaan media sosial kita, misalnya, menjadi kawah paling keruh untuk persoalan-persoalan toleransi. Maka tak heran, kalau kampanye memerangi sikap intoleransi masih harus selalu dilakukan pemerintah yang bertugas demi mendidik warga untuk menumbuhkan sikap toleransi. Tentu saja, harus dibarengi dengan pemerintah memberikan keteladanan yang selaras dengan napas kampanye tersebut. Tidak malah sebaliknya.

Kemudian, ini yang paling penting, pesan dan keteladanan Paus Fransiskus mesti benar-benar kita wujudkan dalam wilayah toleransi beragama. Sentimen agama dan gesekan-gesekan ormas selalu timbul di negara ini. Polemik nasab habaib dengan segala dinamikanya, adalah satu dari sekian banyak masalah yang semakin memperkeruh wujud intoleransi dalam wilayah keberagamaan. Sebagai bangsa, faktanya kita masih belum benar-benar terbebas dari masalah radikalisme dan terorisme beragama, indoktrinasi takfiri masih sangat mungkin muncul dan menjalar di mana-mana, apalagi kelompok pengusung ideologi yang bertentangan dengan gagasan tolerensi bangsa masih pula beredar di mana-mana dan menjadi ancaman.

Menyemai Benih-benih Kemanusiaan

Kita tidak boleh kehilangan harapan untuk nasib baik masa depan bangsa. Dan, kunjungan Paus Fransiskus adalah suplemen penting untuk semakin menumbuhkan asa atas harapan tersebut. Kedatangannya sungguh memberikan energi positif yang mesti kita alirkan ke dalam saraf-saraf kehidupan bangsa, diawali dari diri kita masing-masing sebagai satuan terkecil yang membangun bangsa ini.

Kesederhanaan Paus Fransiskus, barang kali, adalah pertama-tama yang mesti kita teladani dalam pribadi hidup kita. Ibarat energi, kita mesti menyamakan frekuensi kesadaran diri yang selaras agar apa yang tumbuh dan menjalar dalam pribadi sosok Paus Fransiskus beresonansi pula dengan tubuh dan kepribadian kita. Sehingga, sebagai manusia, misalnya, kita dapat selalu memandang manusia lain juga sebagai manusia seperti diri kita—bukan sebagai kelompok sebelah, kelompok yang tidak se-ideologis, atau bahkan musuh.

Kebanyakan dari kita memang sesungguhnya masih terlalu kekanak-kanakan dan belum cukup dewasa untuk memandang, memahami, dan menempatkan manusia yang lain sebagaimana juga manusia yang sama seperti diri kita. Selalu saja, kita cenderung mengedepankan egosentrisme dan arogansi yang destruktif dalam cara kita memandang sesama yang lain. Karena itu, kita mesti mendidik diri sungguh-sungguh, berkaca diri pada sosok Paus, merefleksikan diri. Kita harus mencabut akar-akar intoleransi dalam diri kita, dan menyemainya dengan benih-benih kemanusiaan yang arif dan penuh cinta damai.

Dalam sosok Paus Fransiskus terdapat pesan yang dapat kita arifi dan maknai bersama, yakni bahwa beliau membawa pesan sebagaimana pernah disabdakan Rasulullah Saw. demikian: “Perumpamaan kaum mukminin dalam saling mencintai, saling mengasihi dan saling menyayangi bagaikan satu tubuh. Apabila ada salah satu anggota tubuh yang sakit, maka seluruh anggota tubuhnya yang lain ikut merasakan sakit juga dengan tidak bisa tidur dan merasa demam” (HR. Muslim).

Tentulah, kita mesti secara dewasa memberikan tadabbur terhadap apa yang dimaksud mukmin di situ tidaklah eksklusif pada kelompok Islam semata, tapi meluas kepada siapa pun saja manusia yang secara alam bawah sadarnya kita menyadari mereka adalah juga hamba Allah dengan pilihan jalan keimanannya masih-masing. Sehingga, dengan demikian, kita akan secara dewasa lebih bijak dan punya kemanusiaan dengan level advance.

Toh, seandainya kita mesti menyadarkan mereka yang mungkin kurang benar secara moral dan pemahamannya terhadap tafsir agama, umpamanya, sisi utama yang mesti kita kedepankan terlebih dahulu adalah rasa iguh kita sebagai manusia yang mesti memanusiakan manusia yang lain. Lalu, berdakwah dengan cara yang baik, berdebat dengan cara yang benar dan bijak, tanpa mengolok-ngolok dan mencaci-maki, seperti pesan dalam surah An-Nahl ayat 125.

Leave a Comment

Related Post