Peringatan September Hitam: Wajah Kelam Penegakan Keadilan atas Pelanggaran HAM di Indonesia

Muallifah

07/09/2024

3
Min Read

On This Post

Harakatuna.com – Tanggal 7 September tahun 2004 silam, Munir Said Thalib, S.H. tewas diracun pada saat di pesawat. Ia meninggal dalam penerbangan dari Jakarta menuju Amsterdam. Hasil autopsi mengungkapkan bahwa ia diracun dengan arsenik. Kematian Munir menjadi catatan sejarah kelam bagi penegakan keadilan di Indonesia. Peristiwa yang sudah menyita perhatian publik bahkan dunia internasional, menimbulkan kemarahan dan duka yang mendalam. Masyarakat Indonesia tidak hanya kehilangan seorang pejuang HAM, akan tetapi juga karena kematian ini ada dugaan keterlibatan aparat negara dalam pembunuhan aktivis HAM.

Sudah 20 tahun sudah Cak Munir, sapaan akrab dari salah satu pendiri lembaga swadaya masyarakat Komisi untuk Orang Hilang dan Tindak Kekerasan dan Imparsial (KontraS dan Imparsial), meninggalkan kita. Tapi napas perjuangan dan pergerakan yang selama ini ditorehkan semasa hidup, masih menyala sampai hari ini. Setiap tahun upacara kematian Cak Munir, adalah cara kita merawat ingatan bahwa ada salah satu kasus pelanggaran HAM yang pelakunya adalah pemerintah sendiri.

Tidak hanya itu, catatan hitam pada bulan September tidak hanya atas kematian Cak Munir. Akan tetapi juga ada beberapa peristiwa seperti: pertama, tragedi Tanjung Priok (12 September 1984). Peristiwa tersebut merupakan kerusuhan yang melanda Tanjung Priok, Jakarta Utara dan menelan banyak korban jiwa, luka-luka serta kerusakan sejumlah gedung. Para demonstran yang tewas dalam kejadian tersebut karena perlakuan aparat yang brutal.

Kedua, penembakan Pendeta Yeremia (19 September 2020). Pendeta Yeremia adalah tokoh agama yang aktif dalam mendukung perdamaian dan keadilan yang ditembak mati oleh orang tak dikenal di Distrik Hitadipan, Kabupaten Intan Jaya pada 19 September 2020. Kematiannya menimbulkan kemarahan masyarakat Papua dan menambah daftar panjang kekerasan yang melibatkan aparat dan kelompok bersenjata di Papua.

Ketiga, reformasi dikorupsi (23-30 September 2019). Pada rentang waktu tersebut, Indonesia mengalami serangkaian demonstrasi besar yang dikenal sebagai “reformasi dikorupsi”. Para demonstran menuntut pembatalan revisi UU KPK dan menolak rancangan undang-undang (RUU) yang bermasalah. Tidak hanya kasus di atas, beberapa kasus pelanggaran HAM di bulan September seperti tragedia Semanggi II (24 September 1999), peristiwa penembakan 2 mahasiswa Papua (26 September 2019), pembunuhan Salim Kancil (26 September 2015), serta pembantaian (1965-1966) adalah tragedi kelam yang tidak bia dilupakan oleh kita sebagai bangsa Indonesia.

Bangsa yang Besar Tidak Lupa Sejarah

Dari sekian banyak terjadinya pelanggaran HAM di Indonesia, di mana sampai hari ini belum ada kejelasan dari pemerintah, kita sebagai masyarakat tidak bisa diam begitu saja melihat ketidakadilan yang terjadi. Pemerintah menjadi aktor utama dalam kasus pelanggaran HAM dan ketiadaan penegakan keadilan. Apabila kita terus diam tanpa perlawanan, maka pelanggaran HAM dengan wujud yang berbeda, akan terus terulang karena kita apatis dan tidak ingin ikut campur dalam berbagai kasus yang terjadi.

Keterlibatan kita sebagai masyarakat untuk ikut menyuarakan berbagai pelanggaran HAM yang terjadi, bukan untuk menjadi bangsa yang tidak berterima kasih kepada negara. Akan tetapi, untuk terus mengingatkan kepada anak-cucu, bahwa banyak sekali korban/keluarga korban yang sampai hari ini tidak mendapatkan keadilan.

Segala jenis peringatan atas kematian karena pelanggaran HAM, serta berbagai perlawanan seperti aksi yang dilakukan oleh kita, merupakan ikhtiar panjang sebagai bangsa Indonesia. Ini bukan tentang hasil apa yang didapat setelah bertahun-tahun melakukan perlawanan, akan tetapi tentang napas perjuangan dan perlawanan yang akan terus menyala dari kita sebagai penerus bangsa, untuk mengingat bahwa pemerintah bertanggung jawab penuh atas berbagai kasus pelanggaran HAM yang terjadi di Indonesia dan harus dituntaskan.

Kita cinta terhadap negeri ini. Sebab bagaimana pun, negeri ini adalah negeri yang besar, yang sudah memberikan banyak kehidupan bagi bangsanya. Tapi sebagai rakyat Indonesia, kita tidak tunduk pada kekuasaan yang korup, pelaku pelanggaran HAM dan semua itu hanya bisa dilakukan dengan perlawanan. Panjang umur perjuangan dan mari kita terus melawan ketidakadilan yang terjadi di negeri ini. Wallahu A’lam.

Leave a Comment

Related Post