Harakatuna.com – Jika kita berbicara tentang konsep pemerintahan khilafah, kita tentu langsung memahami betul bahwa ini adalah sebuah aliran ideologi pemikiran yang menginginkan berdirinya pemerintahan berdasarkan hukum Islam. Aliran ideologi pemikiran khilafah sendiri tentunya tidak asing lagi di Indonesia, apalagi ada kelompok-kelompok Islam yang menganut ideologi tersebut. Kita sebut saja salah satunya kelompoknya yaitu HTI. Sebuah gerakan kelompok Islam transnasional yang mengusung pendirian kembali khilafah islamiah secara global.
Agar cita-cita pendirian kembali khilafah islamiah bisa terwujud, kelompok khilafah berusaha menyebarkan berbagai macam propaganda dan narasi, bahwa Islam akan kembali jaya atau bisa meraih masa keemasannya jika dasar negara bangsa tersebut diganti dengan dasar Islam. Dalam artian mengganti dasar negara Indonesia yaitu Pancasila dengan dasar hukum Islam. Mengganti dasar negara menjadi Islam dianggap sebagai solusi oleh kelompok ini. Sebuah solusi untuk membesarkan Islam. Lantas benarkah khilafah itu sebuah solusi? Atau jangan-jangan malah justru menjadi sebuah cobra effect? Lantas apa itu cobra effect?
Konsep Cobra Effect
Istilah cobra effect berasal dari sebuah anekdot era penjajahan Inggris di India pada pertengahan abad XIX. Saat itu, India dijajah oleh Inggris. Pemerintah Inggris pada masa itu sangat khawatir dengan banyaknya warga India yang meregang nyawa karena digigit oleh ular kobra. Jenis ular beracun ini banyak berkeliaran, dan sering memakan korban jiwa warga Kota Delhi.
India sendiri memang sudah dikenal lama sebagai negara yang banyak terjadi kasus gigitan ular. Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), sekitar 5 juta gigitan ular terjadi setiap tahun di India. Mengakibatkan hingga 2,7 juta kasus keracunan. Laporan yang dipublikasikan menunjukkan bahwa antara 81.000 dan 138.000 kematian terjadi setiap tahun. Keracunan akibat gigitan ular menyebabkan sebanyak 400.000 amputasi dan cacat permanen.
Melihat banyaknya ular di India, untuk mengatasi persoalan tersebut, pemerintah penjajah Inggris membuat sebuah kebijakan baru dalam menangani ular yang telah banyak memakan korban jiwa. Kebijakan pemerintah Inggris yang dikeluarkan adalah akan memberikan hadiah (reward) berupa uang kepada siapa pun bagi penduduk India yang berhasil menangkap atau membunuh setiap ekor ular kobra. Stephen (2012) menyebutnya a bounty of every dead cobra body. Awalnya, strategi ini cukup efektif sebagai solusi bahkan populasi ular kobra semakin sedikit, sehingga korban gigitan ular pun semakin berkurang.
Namun sayangnya solusi ini sifatnya hanya sementara. Banyak masyarakat India yang memanfaatkan kebijakan ini untuk meraup uang. Mereka banyak beternak ular kobra agar mereka dapat meraup uang. Dengan demikian populasi kobra terus bertambah dan pemerintah Inggris pada masa itu harus membayar mahal untuk setiap kobra peliharaan masyarakat tersebut. Akhirnya pemerintah Inggris menghentikan kebijakan ini. Sebab kebijakan dengan penawaran hadiah ini malah akhirnya bukan memecahkan solusi tetapi memperparah situasi.
Bermula dari fenomena itulah, muncul terminologi efek kobra atau the cobra effect. Yaitu suatu kebijakan yang awalnya diharapkan menjadi solusi, namun dalam perkembangannya justru hal tersebut memperburuk situasi.
Pendirian Khilafah Itu Cobra Effect!
Jika kita kaitkan dengan narasi khilafah, bahwa Islam akan lebih baik dan bisa meraih masa keemasannya jika mengganti dasar negara Pancasila. Maka, solusi yang mereka buat itu sama persisnya dengan cobra effect. Seakan-akan khilafah itu adalah sebuah solusi, padahal nyatanya hal tersebut akan memunculkan masalah baru. Lalu apa saja masalah baru yang akan ditimbulkan jika andaikata khilafah mengganti dasar negara Indonesia yaitu Pancasila?
Pertama, disintegrasi bangsa. Indonesia adalah negara yang sangat beragam, baik dari segi etnis, agama, budaya, maupun bahasa. Pancasila sebagai dasar negara telah terbukti mampu menjadi perekat yang menyatukan seluruh elemen bangsa. Jika khilafah diterapkan sebagai dasar negara, maka akan ada pengabaian terhadap keberagaman ini.
Hal ini berpotensi memicu konflik horizontal antar kelompok masyarakat yang merasa identitas dan hak-haknya terancam oleh penerapan hukum Islam secara menyeluruh. Beberapa daerah yang mayoritas non-Muslim mungkin akan menuntut pemisahan dari Indonesia yang dapat berujung pada disintegrasi bangsa.
Kedua, mengganggu hubungan internasional. Indonesia selama ini dikenal sebagai negara yang menerapkan politik luar negeri bebas aktif, serta menjadi salah satu negara dengan pengaruh besar di antara negara-negara Islam melalui organisasi seperti Organisasi Kerjasama Islam (OKI). Dengan mengganti Pancasila dengan khilafah, Indonesia akan menghadapi tantangan besar dalam menjaga hubungan diplomatik dengan negara-negara lain, terutama negara-negara yang tidak berlandaskan hukum Islam.
Dunia internasional, yang sebagian besar mendukung demokrasi dan hak asasi manusia akan memandang Indonesia sebagai negara radikal. Sebab memaksa ideologi Islam agar diterima oleh masyarakat non-Muslim. Hal ini tentu ke depannya bisa memengaruhi hubungan bilateral dan multilateral serta menurunkan posisi tawar Indonesia di kancah global.
Ketiga, penolakan dari dalam negeri. Penerapan khilafah tidak hanya akan mendapat tentangan dari masyarakat internasional, tetapi juga dari dalam negeri sendiri. Indonesia adalah negara dengan mayoritas Muslim, namun penerapan khilafah tidak serta-merta diterima oleh seluruh umat Islam di Indonesia.
Sebagian besar umat Islam di Indonesia menerima Pancasila sebagai dasar negara yang sudah sejalan dengan ajaran Islam, sehingga penolakan terhadap khilafah bisa datang dari ormas-ormas Islam moderat, cendekiawan, dan masyarakat luas. Penolakan ini bisa berujung pada konflik internal yang berkepanjangan sehingga pada akhirnya akan merugikan stabilitas nasional.
Khilafah sebagai solusi dianggap oleh sebagian kelompok khilafahers, sebagai jalan untuk mengembalikan kejayaan Islam. Namun, seperti yang diilustrasikan dalam realitas cobra effect tadi, bahwa solusi ini justru akan menimbulkan lebih banyak masalah daripada kebaikan. Mengganti Pancasila dengan khilafah akan mengorbankan keberagaman, dan hubungan internasional Indonesia.
Hal ini tidak hanya akan memecah-belah bangsa, tetapi juga berpotensi membawa Indonesia menuju kondisi yang lebih buruk daripada sebelumnya. Karena itu, menjaga dan mempertahankan Pancasila sebagai dasar negara adalah langkah yang paling bijak untuk mempertahankan persatuan dan kemajuan Indonesia. Semoga genrasi bangsa Indonesia bisa terhindar dari tawaran narasi kelompok khilafah yang justru memberikan sebuah cobra effect. Aamin.








Leave a Comment