Harakatuna.com – Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) masih terus menghantui Indonesia. Beberapa waktu lalu, salah satu influencer mereka, Aab Elkarimi, jadi penyusup saat demo RUU Pilkada di Senayan. Sebagaimana kader HTI pada umumnya, Aab tampil sebagai pahlawan rakyat. Padahal, mau ada kasus ataupun tidak, HTI tidak akan pernah pro-NKRI. Bukan itu saja. Mereka ternyata juga punya warisan radikal-terorisme yang mengerikan.
Namun, selama ini masyarakat kerap salah paham dan tertipu propaganda mereka. Misalnya, mereka menganggap doktrin-doktrin HTI sangat islami, Qur’ani, dan religius, bebas dari intervensi manusia yang liberal, kapital, dan sekuler. Banyak masyarakat yang terjebak dalam propaganda HTI semacam itu. Mereka melihat HTI bahkan sebagai ormas sakral, padahal kenyataannya HTI punya agenda politik yang sangat sekuler.
HTI berhasil menarik perhatian masyarakat dengan citra sebagai pembela kaum Muslim tertindas oleh rezim sekuler, baik dari Barat maupun negara-negara Muslim non-islami seperti NKRI. Mereka menuduh rezim Muslim yang tidak menerapkan khilafah sebagai tidak islami, dan mempromosikan khilafah sebagai satu-satunya sistem pemerintahan yang sesuai dengan Islam. Sungguh, itu propaganda yang amat radikal.
Sebab, seperti diuraikan Ahmed an-Naim, semua sistem pemerintahan adalah hasil dari kehendak politik manusia, bukan kehendak politik Tuhan. Sistem politik apa pun, termasuk yang HTI sebut khilafah, adalah produk interpretasi dan pemahaman elite Muslim terhadap doktrin, ayat, teks, dan sejarah Islam. Islam sebagai agama dan teologi tidak menyediakan petunjuk yang jelas mengenai sistem pemerintahan atau kenegaraan.
Dalam konteks itulah, HTI harus dilihat sebagai bagian dari warisan radikal-terorisme yang membingkai ideologinya dalam selubung keislaman. Padahal, mereka adalah proyek politik yang berbahaya. Masyarakat perlu memahami bahwa HTI bukanlah representasi tunggal Islam, dan bahwa pluralitas dalam sistem politik di negara-negara Muslim adalah sesuatu yang alami dan sah. HTI tidak bisa menyangkal keniscayaan itu.
HTI Bukan Agen Perdamaian!
Kesalahan lain masyarakat dalam menilai HTI ialah menganggapnya sebagai penganut pasifisme—pecinta gerakan perdamaian dan nir-kekerasan. Anggapan tersebut hanya setengah benar. HTI tidak dapat disamakan dengan kelompok-kelompok Kristen Anabaptis seperti Amish, Mennonite, atau Quaker, misalnya, yang menganut filosofi pasifisme total. HTI menggunakan cara-cara damai bukan sebagai tujuan akhir, tetapi siasat belaka.
Siasat yang dimaksud ialah merealisasikan agenda utama mereka: tegaknya khilafah. Strategi HT untuk mencapai tujuan tersebut dibagi menjadi tiga tahap: pembentukan kader inti yang berperan sebagai agen penyebar ideologi alias mesin parpol HTI, pengarahan dakwah dan kampanye propagandis khilafah di berbagai platform, serta perubahan rezim alias revolusi. Yang terakhir ini, negara khilafah, mereka anggap sebagai pengganti NKRI.
Kendati demikian, HTI tetap mengklaim diri sebagai gerakan anti-kekerasan, kendati jelas-jelas punya doktrin kudeta militer yang mereka sebut sebagai al-nusrah. Secara historis, HTI pernah terlibat dalam kudeta militer di Yordania (1968) dan Mesir (1974), namun gagal. HTI di Indonesia pun tidak jarang merayu para militer agar mendukung visi, misi, dan cita-cita mereka ihwal kudeta. Jadi, sudah jelas irisan radikal-terorismenya, bukan?
HTI menyebarkan radikal-terorisme melalui taktik yang tampaknya damai, namun berujung pada tujuan yang barbar—pemberontakan. Itu adalah warisan HTI yang perlu diwaspadai masyarakat dan pemerintah. Keberadaan HTI bukan hanya soal perbedaan ideologi, tetapi ancaman nyata terhadap stabilitas negara dan tatanan sosial yang telah dibangun atas prinsip persatuan dan kesatuan.
Selain itu, penting juga untuk dicatat bahwa meskipun doktrin HTI secara resmi tidak membolehkan kekerasan fisik, dakwah, narasi, kampanye, dan propaganda HTI selalu sangat provokatif. Misalnya, doktrin dan wacana HTI yang sangat anti-Barat, anti-Semit, anti-sekularisme, dan anti-demokrasi, sering disampaikan dengan cara yang hiperbolik dan simplistik. Polarisasi umat kerap terjadi karena narasi propaganda tersebut.
HTI Mempolarisasi Umat
Mereka menggambarkan “Barat kafir” sebagai musuh Islam dan umat Muslim, serta menyebarkan narasi bahwa rezim sekuler-demokrasi menindas umat Islam. Narasi-narasi semacam itu rentan sekali memengaruhi kader dan simpatisan HT untuk terlibat dalam kekerasan dan radikal-terorisme. Fanatisme dan indoktrinasi yang berlebihan serta antagonistis telah mendorong proses radikalisasi yang barbar.
HTI selalu memupuk rasa kebencian berlebihan terhadap non-Muslim maupun umat Islam yang tidak sejalan dengan pandangan HT. Akibatnya, umat yang mengalami proses radikalisasi semacam itu bisa digiring dan dimobilisasi untuk melakukan tindakan kekerasan ketika waktu dan momentum dianggap tepat. RUU Pilkada kemarin, contohnya, atau aksi-aksi bela Palestina yang terjadi sebelumnya. HTI selalu jadi penyusup.
Selain itu, berbagai studi akademik mengaitkan HTI dengan sejumlah peristiwa teror global dan kekerasan domestik baik di Barat, Asia Tengah, maupun di Asia Tenggara seperti Indonesia. Rata-rata kajian memiliki benang merah yang sama, yakni bahwa HTI telah menjadi agen polarisasi umat melalui propanda antagonistis antara Islam dan Barat, antara khilafah dan NKRI, dan lainnya.
Meskipun HTI belum terbukti secara langsung terlibat dalam kekerasan fisik di negara ini, namun mereka telah melakukan “kekerasan kultural” melalui penyebaran kebencian terhadap siapa saja yang tidak sejalan dengan doktrin-doktrinnya, baik Muslim maupun non-Muslim. Selain itu, HTI juga terlibat dalam “kekerasan struktural” melalui perlawanan wacana terhadap pemerintah, Pancasila, dan UUD 1945.
Jelas, semua tindakan tersebut sangat membahayakan persatuan, kebhinekaan, dan kelangsungan hidup bangsa dan negara Indonesia. Karena itu, masyarakat Indonesia terutama umat Muslim jangan sampai terpolarisasi oleh narasi HTI. Pada saat yang sama, mereka justru wajib melawan semua narasi propagandis tentang khilafah ala HTI. Menghadapi upaya polarisasi oleh HTI, umat hanya punya satu kata: lawan.
Wallahu A’lam bi ash-Shawab…








Leave a Comment