Harakatuna.com – Judul sekaligus pertanyaan seputar literasi ini, seakan memantik perdebatan yang tentunya memiliki alasan masing-masing. Jika kita mengacu pada frasa “kemampuan”, ini artinya mengandung nilai ukur normatif. Dalam imajinasi kita, muncul deretan angka-angka yang digunakan sebagai data pembanding.
Merujuk pada laporan PISA (Programme for International Student Assessment), skor Indonesia pada tahun 2022 mengalami penurunan dibanding tahun 2018. Secara umum, PISA tidak menjadi tolok ukur dalam literasi. Tetapi indeks PISA ini bisa dianggap setara dengan kualitas pendidikan di bawah standar kebutuhan pasar global. Maka salah satu solusinya dengan membenahi sistem pendidikan nasional.
Kemampuan literasi tentu tidak terlepas dari minat baca. Seyogianya seorang penulis, dalam kegiatan menulis harus berbanding lurus—secara teoretis—dengan kegiatan membaca. Tapi hal ini sering menjadi perkecualian dalam karya-karya fiksi. Tanpa membaca pun, seorang penulis dapat menghasilkan karya yang bagus, karena ide dan daya imajinasinya begitu kuat.
Persoalan kini yang kita hadapi, kenapa minat baca turun drastis atau sangat rendah di masyarakat. Anak muda zaman kini lebih cenderung dengan penggunaan bahasa gaul, terutama yang tinggal di perkotaan. Sedikit demi sedikit, mengikis penutur bahasa (terutama bahasa lokal/daerah) atau bahasa formal yang sesuai dengan pedoman KBBI dan juga PUEBI (Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia).
Sementara dalam sebuah riset para penggerak literasi, kemampuan bahasa yang rendah akan berbanding lurus dengan ekosistem budaya. Artinya, kerusakan bahasa juga menciptakan kondisi budaya yang buruk. Ada stigma yang menganalogikan, bahwa rusaknya atau punahnya bahasa membawa dampak pada pergeseran nilai-nilai budaya sebuah bangsa.
Maka, kenapa kegiatan membaca harus dibudayakan? Tentu, selain meningkatkan kualitas pikiran seseorang, juga menjadi keseimbangan dalam penciptaan karakter positif seseorang. Seorang yang berpikir positif, akan menghasilkan karya tulis yang rasionalitas, edukatif dan imajinatif.
Jadi, kegiatan atau gerakan literasi tidak sekadar memahami teori menulis dan teori motivasi. Ada problem dasar yang harus diperhatikan secara serius. Kenapa kemampuan analisis sebab-akibat begitu rendah? Sebetulnya sederhana, jika kita mengamati perilaku masyarakat, khususnya anak usia sekolah hingga anak muda, jika kelompok usia ini malas belajar, itu bisa dianalogikan sama dengan malas membaca.
Alibi pembenaran pada masa kini, karena alasan kemajuan teknologi, maka membaca tidak lagi bergantung pada minat. Melalui teknologi informasi, metode konvensional berubah menjadi transformasi digital. Lebih praktis dan hemat waktu. Orang tidak perlu lagi membeli buku yang harus dibaca berjam-jam untuk menemukan jawaban. Konsep teknologi cepat dan tepat mengubah pemikiran lama.
Terminologi membaca seakan menyimpang dari prinsip-prinsip literasi. Sebab literasi tidak sekadar membaca, menulis dan berhitung. Dengan bantuan dan ketersediaan teknologi informasi digital, masyarakat juga diharapkan bisa meningkatkan kemampuan analisis sebab-akibat. Faktanya, sebagian besar masyarakat Indonesia masih sangat rendah dalam memahami karakteristik literasi.
Ada paradigma yang keliru, bahwa membaca atau belajar lewat layar digital, sudah dianggap bagian dari memahami literasi. Apalagi penyajian informasi dilengkapi dengan audio visual. Masyarakat khususnya anak usia sekolah diposisikan hanya sebagai konsumen atau audiens.
Pada fase pembelajaran, seyogianya ada interaksi antara kedua pihak. Tujuannya untuk memancing kreativitas dan olah pikir, termasuk juga untuk meningkatkan motivasi dan empati, yang pada akhirnya membentuk keterampilan bagi anak muda atau anak usia sekolah. Dalam penelitian beberapa kasus ditemukan adanya kesalahan dalam penerapan edukasi kepada anak usia dini. Mereka seakan dipaksakan untuk memahami huruf, angka dan simbol dalam literasi.
Perkembangan psikologis dan kecerdasan anak, sangat bergantung pada pola edukasi. Karena pada titik ini, anak lebih banyak mengenal dan memahami keilmuan melalui kegiatan bermain. Jadi, pembelajaran untuk mengenal literasi dapat digunakan dengan bermain.
Cara ini akan lebih efektif untuk membangkitkan potensi anak. Dengan edukasi bermain, anak lebih dapat mengembangkan kreativitas berpikir kritis. Karena anak akan merasa nyaman dan bahagia dalam dunia mereka.
Kita tidak bisa menampik, bahwa kemampuan literasi pada anak usia dini hingga remaja, sangat bergantung kepada lingkungan dan sistem pendidikan nasional. Apakah dengan makin banyaknya tugas yang diberikan kepada anak didik, bisa menjamin anak semakin cerdas? Sementara minat baca makin menurun, yang akhirnya memengaruhi kualitas penguasaan literasi di kalangan anak muda. Kenapa penyerapan dan penggunaan bahasa gaul di kalangan anak muda semakin tinggi?
Sejauh ini, literasi lebih cenderung untuk kegiatan menulis. Sehingga memunculkan stigma, siapa saja dapat menjadi seorang penulis. Banyak penulis yang gagal, karena mereka menulis hanya karena ingin disebut sebagai penulis. Tidak ada yang ingin disampaikan dalam tulisannya, bahwa sebuah karya tulis juga mengandung keilmuan dan seni yang kemudian menjadi interaksi dalam membangun pemahaman baru.
Contoh sederhana, dalam karya sastra tidak terhitung seberapa banyak karya sastra yang dihasilkan. Ruang sastra dianggap sebagai alat pemuas menuju identifikasi sosial. Tidak sedikit karya sastra, terutama di platform yang menyajikan cerita-cerita fiksi dengan bahasa yang amburadul.
Kembali pada esensi literasi, yang diartikan sebagai pengetahuan atau keterampilan dalam bidang atau aktivitas tertentu. Literasi juga dapat diartikan sebagai kemampuan individu dalam mengelola informasi dan pengetahuan untuk kecakapan hidup. Apakah masih banyak masyarakat termasuk anak muda masih peduli terhadap esensi ini? Bagi sebagian besar pelaku atau penggiat literasi, masih memiliki persepsi klasik, yang penting menulis tanpa ada tujuan dalam tulisannya apa yang akan disampaikan. Hanya sekadar alat pemuas diri.
Maka di sini sangat diperlukan kemampuan analisis sebab-akibat dalam peningkatan peran dan fungsi literasi. Peran ini harus bisa bermanfaat dalam sendi-sendi kehidupan. Sekaligus juga menjadi refleksi diri, bahwa dampak dari kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi juga akan menciptakan peluang bagi permasalahan-permasalahan kompleks.
Fenomena yang sering terjadi di ruang maya atau jejaring sosial, makin maraknya perdebatan yang berawal dari persoalan sepele. Yang akhirnya berbuah pada penyerangan dengan menggunakan bahasa sarkasme hingga modus-modus penipuan. Ini menunjukkan betapa rendahnya kualitas pemahaman etika, karena rendahnya mutu literasi secara individual.
Tingkat literasi rendah, salah satu penyebabnya karena minat baca yang menurun dan keengganan penggalian sumber-sumber informasi yang akurat. Di sisi lain, dunia siber senantiasa berseliweran isu-isu hoaks yang begitu cepat. Sementara sebagian besar masyarakat hanya menjadi konsumen dalam pemanfaatan pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Pergeseran nilai-nilai sosial akibat revolusi logika di zaman yang modern, membawa dampak positif sekaligus menumbuhkan kerusakan sosial. Di antaranya, makin punahnya bahasa lokal yang berimbas pada pengikisan nilai-nilai budaya. Generasi muda kian terjebak dalam situasi dan kondisi yang berorientasi pada pencitraan, tanpa peduli dengan nilai-nilai historis yang harus terus dipertahankan.
Maka perlu adanya penguatan dalam membangun bangsa yang kuat. Salah satu cara untuk meningkatkan ketahanan nasional adalah menguasai informasi dan pengetahuan tentang literasi. Kenapa terorisme terus tumbuh, karena pemikiran kritis terhadap nasionalisme yang menurun dan pemahaman tentang pemanfaatan literasi masih minim.
Jadi, literasi bukan hanya sekadar menulis dan membaca. Tapi bagaimana generasi muda mampu menghasilkan pemikiran kritis terhadap nilai-nilai sosial melalui kegiatan literasi.







Leave a Comment