Harakatuna.com – Salah satu kenikmatan dunia yang diharapkan oleh banyak orang adalah memiliki pangkat dan jabatan dalam kekuasaan. Oleh karenanya banyak orang yang berkontestasi untuk menjadi kepala pemerintahan baik di tingkat pusat maupun di tingkat daerah. Menjadi penguasa memang menyenangkan karena akan bergelimang sanjungan dan tentunya harta. Namun demikian, berdasarkan hadis Nabi, penguasa itu harus adil, jika menyalahgunakan kekuasaannya maka neraka adalah tempat tinggalnya kelak.
Dalam hadisnya, Rasulullah dengan tegas menyatakan bahwa penguasa yang menyalahgunakan kekuasaannya maka neraka adalah ancamannya.
لَيْسَ مِنْ وَالِي أُمَّةٍ قَلَّتْ أَوْ كَثُرَتْ لَا يَعْدِلُ فِيهَا إِلَّا كَبَّهُ اللَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى عَلَى وَجْهِهِ فِي النَّارِ
Artinya: “Tidaklah seorang pemimpin suatu umat, baik sedikit atau banyak, kemudian ia tidak adil dalam memimpinnya, kecuali Allah akan melemparkan wajahnya ke neraka.” (HR Ahmad).
Selain akan masuk neraka, Penguasa yang menyalahgunakan kekuasaannya juga akan diharamkan masuk surga, itu artinya neraka adalah kekal abadi untuknya. Ketika surga sudah diharamkan untuk seseorang, maka ia akan berdiam diri selamanya di neraka tanpa adanya keringanan masuk surga walaupun dosa-dosanya telah terbakar api neraka.
مَا مِنْ عَبْدٍ يَسْتَرْعِيهِ اللَّهُ رَعِيَّةً يَمُوتُ يَوْمَ يَمُوتُ وَهُوَ غَاشٌّ لِرَعِيَّتِهِ إِلاَّ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ
Artinya, “Tidaklah seorang hamba yang dipasrahkan oleh Allah untuk memimpin rakyat, kemudian ia meninggal dunia dalam keadaan curang terhadap rakyatnya, kecuali Allah mengharamkannya masuk surga.” (HR Muslim).
Walhasil, jika ingin menjadi penguasa, maka hal yang harus dilakukan tiada lain adalah menegakkan keadilan, memperjuangkan rakyat. Dan yang terpenting membuat kebijakan yang pro kepada rakyat. Penguasa yang tidak melakukan ini dan malah menyalahgunakan kekuasaannya untuk kepentingan diri sendiri maka ingatlah hadis Rasulullah diatas, Wallahu A’lam Bishowab.








Leave a Comment