Darurat Terorisme di Sekitar Kita: Bagaimana Upaya Pencegahan yang Bisa Dilakukan?

Muallifah

13/08/2024

3
Min Read

On This Post

Harakatuna.com – Kehadiran TikTok, membawa babak baru dalam kehidupan media sosial kita. Di samping karena popularitasnya yang semakin naik dengan adanya fitur berbelanja dan video pendek yang membuat setiap individu bisa viral, TikTok adalah aplikasi yang sangat praktis untuk bikin konten sekaligus menyebarkan informasi melalui video yang berdurasi 15 detik hingga 10 menit tersebut. Pengguna media sosial bisa membuat video, untuk menyampaikan informasi dengan durasi waktu yang singkat. Bagi anak muda, durasi waktu yang singkat ini sangat diminati karena bisa mendapatkan informasi dalam waktu yang cepat.

Meski begitu, ancaman nyata dari aplikasi TikTok ini adalah penyebaran propaganda terorisme. TikTok sudah disusupi oleh ISIS dengan memanfaatkannya untuk menarik perhatian dan menyebarkan propaganda. Berdasarkan laporan CNBC Indonesia tahun 2019, ISIS mempromosikan organisasinya untuk merekrut teroris baru. Salah satu akun yang digunakan tersebut sudah memiliki 1.000 followers dan 1 video teror serta mendapatkan 68 respons suka dari netizen.

Berdasarkan laporan tersebut, kita bisa menyimpulkan bahwa video teror propaganda yang diproduksi oleh ISIS diminati oleh sebagian kelompok masyarakat. Tentu, respon suka yang diberikan oleh netizen akan memantik pengguna akun lain untuk menyukai konten serupa dan memantik netizen untuk bergabung dalam organisasi tersebut. Tidak hanya itu, video teror yang diproduksi oleh ISIS tersebut bagi sebagian orang justru merupakan video bagus. Mengapa demikian? Masih ingatkah kita tentang kisah anak muda yang bergabung ISIS lantaran pada mulanya suka melihat orang menggunakan seragam dan memegang senjata?

Kisah serupa bisa jadi akan terjadi. Ditambah dengan narasi propaganda, ketidakbecusan pemerintah dalam pengelolaan negara, hingga narasi pemerintah taghut dan memperjuangkan Islam, akan semakin membuat seseorang jatuh cinta terhadap kelompok tersebut sehingga bergabung dalam kelompok teroris.

Ancaman propaganda ISIS adalah ancaman yang sangat kompleks. Sebab hal tersebut akan memberikan dampak negatif terhadap masyarakat sosial, budaya utamanya generasi muda. Mengapa generasi muda sering kali menjadi sasaran dari berbagai ancaman yang ada, khususnya teroris? Populasi yang sangat besar, ditambah dengan penggunaan media sosial sangat masif yang dilakukan oleh anak muda, disertai rasa ingin tahu yang besar dan loyalitas cukup tinggi, menjadikan anak muda sebagai sasaran utama dalam rekrutmen terorisme.

Penyebaran pandangan ekstremis ISIS melalui media sosial dapat mengancam stabilitas dan keamanan masyarakat. Propaganda ISIS di media sosial menunjukkan penyalahgunaan teknologi digital. Meski bukan serangan siber seperti DDoS atau akses ilegal, penggunaan media sosial untuk menyebarkan propaganda merupakan salah satu bentuk penyalahgunaan internet. ISIS menggunakan internet untuk menyebarkan radikalisme dan terorisme yang secara langsung mengancam ideologi Pancasila dan keutuhan negara Indonesia.

Pergerakan ISIS di TikTok, nyatanya belum seberapa. Bagaimana dengan aplikasi lain seperti Facebook, Instagram, Telegram, WhatsApp, hingga Discord? Belum selesai dengan satu aplikasi, aplikasi lain juga menjadi sarang penyebaran terorisme.

Kerja Sama Pemerintah, Masyarakat, dan Keluarga

Menyadari bahwa ancaman tersebut sangat besar, kesadaran kolektif semua pihak harus dibangun. Pertama, lingkungan keluarga. Keluarga adalah lingkungan paling dekat yng bisa dijangkau oleh seorang anak. Meski begitu, aktivitas berselancar di media sosial perlu perhatian orang tua untuk menghindari ancaman berbahaya, utamanya terorisme. Sejauh ini, aktivitas online yang dilakukan anak tidak hanya menghindari upaya penyebaran radikalisme dan terorisme.

aAda banyak bahaya lain yang perlu disadari oleh orang tua seperti kekerasan berbasis gender online, penipuan, hingga upaya berbahaya lain. Dari sinilah orang tua akan terus mengawasi aktivitas anak di dunia digital dengan sikap hati-hati. Kesadaran orang tua, yang merupakan bagian dari masyarakat perlu dipupuk. Makanya, adanya literasi tentang terorisme di dunia digital dengan memperbanyak konten di media sosial, akan membantu orang tua untuk terus belajar tentang bahaya terorisme.

Pemerintah perlu terus bersinergi dengan masyarakat sipil, utamanya literasi tentang terorisme. Masyarakat sipil memiliki daya yang besar untuk melakukan berbagai kegiatan, ataupun strategi dalam memperluas dampak kepada masyarakat. Dengan begitu kesadaran kolektif kolegial terus dibangun untuk memberantas terorisme bersama. Wallahu A’lam.

Leave a Comment

Related Post