Hamas Inginkan Mediasi Gaza Berdasarkan Pembicaraan Sebelumnya

Harakatuna

12/08/2024

2
Min Read
Setelah serangan Israel berakhir, ambulans dan kru pertahanan sipil bergegas ke tempat kejadian. Warga di daerah itu berbagi gambar dan video pendek dari serangan Israel di akun media sosial mereka, yang menggambarkan kerusakan situs dan sekitarnya. Sementara itu, Brigade Al-Qassam, sayap militer gerakan Islam, mengatakan dalam sebuah pernyataan pers kepada The New Arab bahwa gerilyawannya menembakkan rudal permukaan-ke-udara ke jet tempur Israel yang memaksa mereka untuk mundur. Juru bicara Hamas di Gaza, Hazem Qassem, mengatakan serangan udara di Jalur Gaza Selatan adalah usaha yang gagal untuk mencegah rakyat Palestina melawan pendudukan dan mempertahankan kota Yerusalem dan Masjid Al Aqsa. Serangan Israel itu merupakan tanggapan atas tembakan roket dari Jalur Gaza tadi malam, menurut Avichai Adraee, juru bicara tentara Israel. “Jet tempur kami menyerang beberapa target Hamas, termasuk bengkel pembuatan senjata, dan lokasi militer brigade Al-Qassam,” kata Adraee dalam sebuah pernyataan pers dilansir dari The New Arab, Selasa (19/4/2022). Adraee mencatat bahwa rudal Palestina dicegat oleh sistem pertahanan udara Iron Dome Israel. Baik Palestina maupun Israel tidak melaporkan adanya korban dari insiden tersebut. Namun, penduduk lokal di daerah kantong pantai yang terkepung khawatir tentang memburuknya situasi keamanan dan babak baru pertempuran dengan Israel. Berbicara kepada The New Arab, Samah al-Ahmed, ibu dari empat anak, mengatakan, "Kami masih mengingat semua kenangan buruk yang kami alami dalam perang Israel terakhir di Gaza. Saya takut dan cemas untuk memulai persiapan perayaan Idul Fitri setelah beberapa hari," tambah ibu berusia 33 tahun itu. Ahmed lebih lanjut berpendapat bahwa Israel tidak menunjukkan belas kasihan pada siapa pun dalam perangnya, dan tidak membedakan antara warga sipil dan militan ketika menyerang Gaza.

On This Post

Harakatuna.com. Gaza – Kelompok militan Palestina Hamas pada Minggu (11/8) meminta para mediator agar tidak mengingkari rencana gencatan senjata di Gaza. Pihaknya meminta agar para mediator dapat mewujudkan rencana berdasarkan pembicaraan terdahulu dan bukannya terlibat dalam negosiasi baru untuk mencapai kesepakatan gencatan senjata di Gaza.

Pekan lalu, para pemimpin (Amerika Serikat) AS, Mesir dan Qatar meminta Israel dan Hamas untuk bertemu guna melakukan perundingan pada 15 Agustus di Kairo atau Doha. Pertemuan ini digelar dalam rangka menuntaskan perjanjian gencatan senjata dan pembebasan sandera di Gaza.

Israel mengatakan akan mengirimkan perunding untuk ambil bagian dalam pertemuan itu. Hamas pada awalnya mengatakan sedang mempelajari tawaran tersebut tetapi sekarang mengisyaratkan bahwa pihaknya mungkin tidak akan ikut dalam babak pembicaraan baru.

“Hamas meminta para mediator agar mengemukakan rencana untuk menerapkan apa yang telah disepakati oleh Hamas pada 2 Juli 2024, berdasarkan visi Biden dan resolusi Dewan Keamanan PBB,” kata Hamas dalam sebuah pernyataan.

“Para mediator harus memberlakukan hal ini terhadap pihak penjajah (Israel) bukannya melanjutkan babak perundingan atau proposal baru yang akan menutupi agresi Israel dan memberinya lebih banyak waktu untuk melanjutkan genosidanya terhadap rakyat kami,” kata pernyataan itu.

Israel meluncurkan serangannya terhadap Gaza setelah para anggota Hamas menyerbu bagian selatan Israel pada 7 Oktober, menewaskan 1.200 orang, kebanyakan warga sipil dan menangkap lebih dari 250 orang sandera, menurut penghitungan Israel.

Sejak itu, hampir 40 ribu orang Palestina telah tewas dalam ofensif Israel di Gaza, menurut kementerian kesehatan wilayah itu.

Leave a Comment

Related Post