Harakatuna.com. – Al-Qur’an tidak pernah lepas dalam keseharian hidup masyarakat Islam, terutamanya muslim yang taat dalam melaksanakan ritual ibadah. Jangankan muslim yang taat, seorang muslim memiliki kebutuhan wajib melafalkan bagian dari potongan ayat Al-Qur’an di setiap salatnya. Dikata, al-Fatihah yang tidak terlafal dengan benar sesuai aturan baca menghilangkan nilai dari sahnya salat. Oleh karenanya, setiap muslim tertuntut untuk bisa melafalkan dengan baik setiap huruf dan bacaan dalam surat al-Fatihah. Selain pada sifat wajib, nilai sunah juga terdapat dalam beberapa ayat Al-Qur’an lain yang biasa diwiridkan, bisa juga dalam bentuk memanjatkan lantunan ayat sebagai wujud doa.
Bermula atas kebutuhan tersebut maka bermunculan ragam baca yang sampai saat ini masih terus berkembang. Sampai pada tahun 2022, Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama Rl mencatat ada 96 buku metode cara baca Al-Qur’an, sedangkan riset yang dihasilkan Sofian Effendi tercatat sampai 280 metode baca Al-Qur’an. Di antara metode yang sudah kekinian adalah gubahan metode Bil Qalam dengan menambahkan barcode dengan maksud agar bisa kapan pun mengakses video pembelajaran yang telah disiapkan. Sedang metode yang keberadaannya paling tua digunakan oleh mayarakat Indonesia adalah metode Bagdadiyah atau umum juga disebut dengan Turutan.
Penggunaan Turutan menyimpan sejarah sebagai sebab lahirnya metode karya orisinal ulama Indonesia. Penggunaan metode Turutan saat dulu, hampir digunakan oleh keseluruhan dari mayarakat muslim Indonesia. Dikatakan hampir seluruh sebab banyak menuai kritik dari masyarakat atas karya baru yang dilahirkan dari buah pikir Mbah Dahlan. Sikap Mbah Dahlan saat itu belum secara terang-terangan berani mengajarkan metode belajarnya sampai dapat pengakuan layak pakai dari Mbah Arwani Kudus. Bahkan Mbah Arwani juga menyarankan pada khalayak ramai agar menggunakan karya Mbah Dahlan jika ingin belajar baca Al-Qur’an.
Lahirnya karya Mbah Dahlan bermula atas keresahan praktik baca anak yang tidak bisa spontan membaca huruf hijaiyah. Mereka perlu dulu untuk mengurutkan dari awal huruf baru bisa melafalkan huruf yang telah ditunjuk acak. Oleh karenanya, jika dibandingkan, karya Mbah Dahlan tidak memiliki kemiripan dengan yang telah tersaji di Turutan. Turutan mengawali pembelajaran dengan mengurutkan huruf hijaiyah dan masih terus diurut dengan mengganti harakat yang berbeda, sedangkan dalam karya Mbah Dahlan, menyajikan huruf maksimal 2 huruf berharakat fathah yang terus diulang. Jadi anak akan bertahap lebih dulu mengenal satu huruf untuk lanjut ke satu huruf selanjutnya, dst. dengan tidak lupa ditambah pengulangan huruf di sebelumnya. Penyajian dengan konsep tersebut yang kemudian menjadi tumbuh-kembang metode-metode setelahnya seperti Iqra’, Tilawati, Yanbu’an, Bil Qalam, Ummi, Qur’ani Sidogiri, dan masih banyak yang lain.
Muara pembentukan dari banyaknya ragam baca bersumber atas inisiasi metode mengajar Mbah Dahlan yang tersaji rapi menjadi kumpulan jilid bertingkat, yang disebut dengan Qira’ati.
Oleh Ihda Haniatun Nisa (Santri Nurul Ihsan Yogyakarta).








Leave a Comment