Swa-Radikalisasi dan Self Radicalization: Jangan Terjebak Trik Licik Teroris!

Agus Wedi

09/08/2024

3
Min Read
Swa-Radikalisasi

On This Post

Harakatuna.com – Densus 88 Anti Teror Polri menemukan gejala infiltrasi ajaran teroris di media sosial. Gejala ini terbukti adanya setelah ditemukan bukti dari penangkapan seorang pemuda berusia 19 tahun bernama Hamzah Omar Khaled (HOK), di Kota Batu, Jawa Timur, pada Rabu, 31 Juli 2024. Bukti lain terjadi pada RJ dan AM yang ditangkap di Jakarta Barat (Jakbar) pada Selasa, 6 Agustus 2024. Ketiganya terjebak oleh konten-konten radikal yang dimainkan teroris media sosial.

Penangkapan tiga teroris ini mengindikasikan bahwa terorisme tidak benar-benar mati. Mereka masih hidup dan bergentayangan di media sosial. Fenomena penggunaan media sosial untuk tujuan kekerasan disebut swa-radikalisasi.

Swa-Radikalisasi Pada Pemuda

Swa-radikalisasi menghantui anak muda Indonesia. Apalagi mereka hidup dengan media sosial selama 24 jam. Teroris sangat tahu mengenai kehidupan anak muda. Hari ini mereka suka TikTok, game dan ChatGPT. Teroris juga tahu bahwa anak muda sekarang belajar agama juga dari media sosial.

Karena itu, tidak mungkin para teroris ini berdiam diri. Mereka jelas melakukan inovasi bagaimana mendekati para pemuda ini. Melalui bantuan kecerdasan buatan (AI) sangat mudah menjalin hubungan dengan anak muda ini. Bahkan kelompok Al-Qaeda dan ISIS melakukan ini sudah lama sekali. Mereka memanfaatkan AI untuk menunjang propaganda jaringan teror di media sosial.

Terbukti swa-radikalisasi sangat berhasil. Terutama pada kalangan muda Indonesia. Teroris membuat konten-konten yang dekat pada kehidupan anak muda. Misalnya, anak muda yang faktor ekonominya rapuh, dia didekati dengan iming-iming kekayaan ketika berada di surga. Anak-anak yang lelah dan pesimis soal perjodohan, teroris mengiming-imingi akan mendapatkan 72 bidadari. Anak muda yang merasa kalah, kelam, sering dibully dalam kehidupan, teroris menjebak dia dengan narasi bahwa ini semuanya karena sistem sekuler dan sistem kafir. Narasi ini dipakai untuk memikat calon anggota baru dan agar mau menjadi aktor bom bunuh diri. Bagi anak yang pesimis, semua hal di atas itu pilihan masuk akal sebagai pelarian akibat kegagalan hidup yang diimpikan.

Fenomena Self-Radicalization

Kasus penangkapan tiga teroris di atas membuktikan itu. Anak muda tidak mau berpikir panjang. Mereka bergerak tanpa disuruh ataupun masuk dalam organisasi. Mereka secara alamiah sengaja mempelajari materi radikalis melalui kanal medsos, dan kemudian dipraktikkan dalam kehidupan nyata. Fenomena ini disebut sebagai self-radicalization.

Self radicalization bukan hal baru rekrutmen teroris. Tapi faktanya kasus ini yang sulit diidentifikasi dan dideteksi. Buktinya, HOK sudah siap melaksanakan amaliyah dengan bom berdaya ledak tinggi yang digarap sendiri.

Penangkapan HOK adalah warning bagi kita semua. Ke depan, jelas strategi swa-radikalisasi akan terus dilakukan oleh teroris. HOK itu hanyalah satu kasus yang kebetulan ketemu saja. Yang lain, jelas masih banyak tertanam rapi di dalam persembunyian. Adanya anak muda yang sudah pintar merakit bom (jelas ini membutuhkan waktu lama), menandakan bahwa sel teroris itu terus bermetamorfosis. Sel-sel teroris ini akan terus mencari cara supaya hidup dan bisa menebar teror dan ancaman untuk menimbulkan ketakutan dan kecemasan.

Tetap Waspada!

Karena itu, pemerintah atas tangan Kominfo tidak hanya perlu pintar memblokir konten saja. Pemerintah juga harus memberikan narasi dan konten tandingan untuk menutupi konten kelompok teror. Pemerintah bisa berkolaborasi dengan institusi dan masyarakat mana saja (Gen Z dan Alpha) untuk pro-aktif mengisi media sosial dengan konten pesan damai. Hari ini siapa yang memenangkan medsos, dialah yang bisa mengendalikan otak dan kehidupan orang. Dan apabila teroris bisa mengendalikan media sosial di Indonesia, maka sudah pasti mereka bisa mengendalikan manusia Indonesia. Karena itu media sosial menjadi kunci untuk tahap deradikalisasi.

Hari ini kita harus meningkatkan kewaspadaan dalam penyebaran ideologi radikal ekstrem di media sosial. Jangan sampai kita terjebak pada perangkap swa-radikalisasi atau fenomena self-radicalization. Mari sama-sama berjejaring untuk melawan fenomena tersebut dengan pro aktif mengisi media sosial dengan konten kebangsaan. Miminal kita tahu mana konten radikal dan konten moderat.

Leave a Comment

Related Post