Harakatuna.com – Sensitif berarti cepat menerima rangsangan, ataupun peka terhadap sesuatu. Sensitivitas gender berarti kepekaan yang dimiliki oleh seseorang terkait perbedaan gender dan jenis kelamin yang dimiliki setiap individu. Dalam konteks kehidupan sehari-hari, pernahkah kita mempertanyakan mengapa toilet laki-laki dan perempuan perlu dipisah?
Sebab dalam segi kebutuhan air, secara biologis (konstruksi tubuh) perempuan, lebih banyak membutuhkan air dibandingkan dengan laki-laki. Makanya, toilet laki-laki dan perempuan perlu dipisah. Jika dalam suatu gedung pelayanan publik, masjid, mall, ataupun kafe sudah menerapkan toilet pisah bagi pengunjungnya, artinya mereka sudah sensitif terhadap gender.
Contoh lain yang bisa kita lihat adalah tersedianya ruang menyusui di tempat kerja atau pelayanan publik. Bahkan ruangan semacam ini bisa disediakan di kafe agar para perempuan bisa melakukan pumping bahkan direct breastfeeding (DBF). Sensitivitas gender akan membawa seseorang untuk terus menyadari bahwa, laki-laki dan perempuan secara biologis tidak sama, sehingga kebutuhan yang dimiliki oleh keduanya berbeda.
Tidak hanya itu, seseorang yang memiliki sensivitas yang tinggi terhadap gender, akan selalu belajar memahami persoalan laki-laki dan perempuan yang dikonstruksi oleh sosial. Hal ini juga megantarkan seseorang pada kepekaaan tentang banyaknya problem yang merenggut kehidupan perempuan, mulai dari kekerasan, eksploitasi, dll.
Indonesia Adalah Negara Paling Religius
Berdasarkan data analisis terbaru yang dilakukan oleh CEOWORLD, Indonesia menjadi negara paling religius. Religius yang dimaksud adalah pengabdian yang setia kepada realitas atau ketuhanan tertinggi yang diakui, mengabdi pada keyakinan/agama atau setia dengan cermat dan hati-hati. Tidak hanya itu, jika berlandasakan pada Pancasila, masyarakat Indonesia berlandaskan kepada Ketuhanan Yang Maha Esa, di mana hal ini termaktub jelas pada Pancasila di sila pertama.
Artinya, jika mengacu pada Pancasila sila pertama, seluruh masyarakat Indonesia pasti menganut suatu agama/kepercayaan tertentu dalam upaya menjalankan kehidupan sehari-hari atau menjadikan agama sebagai pedoman hidupnya. Bisa disimpulkan bahwa, setiap individu yang hidup di Indonesia adalah manusia yang beragama.
Lalu, apa hubungannya individu beragama dengan sensitivitas gender? Sejauh ini, agama masih menduduki tempat tertinggi dalam kehidupan masayarakat Indonesia dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Kelompok yang memiliki pengetahuan agama yang baik, bisa menginfluence orang lain untuk melakukan suatu. Tidak heran, bahwa posisi kiai di tengah-tengah masyarakat menjadi kelompok yang sangat dihormati karena keilmuan yang dimiliki untuk senantiasa membimbing bahkan menegur masyarakat apabila bertentangan dengan nilai-nilai agama.
Setiap individu yang beragama, perlu memiliki sensitivitas gender yang baik agar bisa menciptakan keadilan kepada sesama individu tanpa mempertentangkan jenis kelamin seseorang. Sejauh ini, terjadinya penindasan, ketidakadilan yang dialami oleh perempuan, salah satu faktornya disebabkan oleh ketiadaan sensitivitas gender dalam diri. Sensitivitas gender akan mengantarkan seseorang pada pemikiran bahwa, setiap manusia adalah makhluk yang memiliki kebebasan untuk memilih, mendapatkan hak untuk berpendidikan, bekerja ataupun bersosial, tanpa terkendala oleh jenis kelamin.
Jika sensitivitas gender ini dimiliki oleh seorang kiai, pendakwah ataupun tokoh agama, maka kajian tentang penciptaan keamanan, keadilan bagi setiap individu menjadi salah satu isu yang dibicarakan kepada masyarakat. Sejauh ini, sangat jarang pembahasan tentang kasus pemerkosaan, penindasan bahkan kekerasan kepada perempuan oleh para kiai. Padahal topik tersebut adalah masalah kriminial yang harus dijauhi masyarakat.
Sama halnya dengan kasus korupsi, pencurian, ataupun pembunuhan, kasus kekerasan terhadap perempuan memiliki dampak yang sama bagi perempuan. Namun jarang sekali dibahas pada forum pengajian, dalam rangka mengingatkan pada masyarakat untuk senantiasa menghargai kemanusiaan perempuan. Sensitivitas gender akan mengantarkan seseorang untuk terus belajar menghargai kemanusiaan laki-laki dan perempuan. Wallahu A’lam.








Leave a Comment