Harakatuna.com – Banyaknya masalah dalam kehidupan umat beragama dan sosial bukan karena Indonesia menganut sistem demokrasi. Di negara bersistem Islam pun banyak mengalami masalah yang sama bahkan lebih ekstrem.
Apa yang dituduhkan pegiat khilafah bahwa Indonesia marak masalah karena demokrasi dan Pancasila adalah salah besar. Mereka jelas tidak tahu bagaimana konsep bernegara dan bersosial.
Kasus Prostitusi Anak
Dalam lima tahun terakhir memang banyak masalah yang terjadi di Indonesia. Misalnya dalam kasus prostitusi anak di media online. Pusat Pelaporan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) mengungkapkan, ada lebih dari 130.000 transaksi terkait praktik prostitusi dan pornografi anak. Berdasarkan hasil analisis, praktik prostitusi dan pornografi tersebut melibatkan lebih dari 24.000 anak berusia 10 tahun hingga 18 tahun. Bahkan, frekuensi transaksi yang terkait dengan tindak pidana tersebut mencapai 130.000 kali dengan nilai perputaran uang mencapai Rp127.371.000.000,-.
Pada kasus lain, Badan Reserse Kriminal (Bareskrim) Polri membongkar sindikat pelaku eksploitasi perempuan dan anak di bawah umur melalui media sosial, yaitu aplikasi X dan Telegram. Para pelaku juga menawarkan para pelanggan untuk bergabung ke dalam grup di aplikasi Telegram bernama Premium Place yang melibatkan 1.962 perempuan dewasa dan 19 anak di bawah umur.
Kasus di atas terjadi bukan hanya di Indonesia. Di negara-negara lain juga mengalami hal yang sama. Namun kita tidak boleh membiarkan kasus di atas terus berlanjut. Tapi yang penting, kasus di atas jangan dijadikan sebagai narasi untuk menjelekkan Indonesia. Atau bahkan membuat narasi bahwa kasus di atas mencerminkan kebobrokan masyarakat dalam sistem demokrasi dan Pancasila.
Fitnah Pegiat Khilafah
Pegiat khilafah, dr. Arum Harjanti menyatakan, kasus di atas cermin kebobrokan masyarakat Indonesia. Menurutnya masalah itu makin parah karena ada orang tua yang membiarkan anaknya terjerat dalam kemaksiatan. Pertanyaannya, orang tua mana yang mau membiarkan anaknya terjerat dalam kemaksiatan?
Pernyataan pegiat khilafah di atas jelas ngawur dan tidak berdasar. Apalagi sampai hati mengatakan bahwa hari ini ada banyak orang yang buta mata hatinya membiarkan anaknya masuk ke lubang maksiat. “Mereka tidak lagi melihat anak sebagai sosok yang harus dilindungi dan disayang. Mirisnya lagi, mereka abai bahwa anak-anak adalah generasi penerus peradaban pada masa yang akan datang. Rusaknya generasi hari ini akan membawa keburukan pada masa depan bangsa,” ucapnya.
Di sisi lain dia juga menyalahkan sistem Indonesia. Seperti disinggung di atas, pegiat khilafah, dr. Arum Harjanti mengatakan bahwa ini adalah adalah buah sistem rusak sekularisme kapitalisme. “Sistem ini telah menjadikan kenikmatan duniawi dan materi menjadi tujuan tertinggi dalam kehidupan, menghilangkan rasa kasih sayang terhadap anak-anak, bahkan anak kandungnya sendiri. Anak-anak korban kejahatan akan tumbuh dengan jiwa yang rusak dalam kehidupan yang rusak pula,” jelasnya.
Sudah mengatakan jelek kepada ibu-ibu, dia juga mengklaim bahwa masalah di atas karena sekularisme. Perlu ditegaskan bahwa Indonesia memakai sistem demokrasi dan Pancasila, bukan yang lain. Berulangnya cemooh dan kritik tidak subtantif dari pegiat khilafah, menunjukkan kegagalan mereka dalam melihat kasus, dalam segi ilmu pengetahuan dan juga dalam mengukur kadar sadar diri.
Menumbuhkan Simpati
Pegiat khilafah seharusnya menggugah kesadaran umat Islam bahwa umat Islam harus dibawa ke jalan yang lebih baik. Bukan mencemooh ibu-ibu atau korban anak-anak yang jauh dari kata sejahtera alias kekurangan. Jika hanya cemoohan dan fitnah yang bisa pegiat khilafah ini berikan, maka mereka hanya membawa kerusakan generasi dan umat manusia secara keseluruhan.
Saya percaya, peradaban manusia bisa dibangun di mana pun. Tapi menghina manusia lain adalah jauh dari sisi kemuliaan yang diajarkan Islam. Pegiat khilafah bisanya hanya menghina, ia tidak bisa melindungi dan memberi jaminan keamanan kepada generasi bangsa.
Korban kejahatan akan tumbuh menjadi pribadi penuh trauma, rentan, dan rapuh. Apalagi jika ditambah dicemooh oleh orang waras seperti pegiat khilafah ini. Seharusnya, kita sebagai umat yang tahu agama, sudilah kiranya untuk menjamin perlindungan anak-anak, atau mengatur bahasa dan mekanisme komprehensif dalam mewujudkan perlindungan bagi anak.
Bukan mencemooh dan menfitnah pada anak dan sistem negara Indonesia. Cemoohan itu adalah bukti bahwa mereka tidak simpati. Tidak simpati pada korban dan negara adalah gambaran jelas hati dan pikiran pegiat khilafah.








Leave a Comment