Hukum Jual Beli ASI dalam Islam, Bolehkah?

Ahmad Khalwani, M.Hum

05/08/2024

2
Min Read
Hukum jual beli ASI

On This Post

Harakatuna.com –  Islam adalah agama yang mengatur segala jenis amal muamalah secara rinci. Islam secara jelas memperbolehkan jual beli, asalkan jual belinya tersebut terbebas dari gharar (ketidakjelasan/penipuan) dan barang yang diperjual belikan itu halal. Lantas apakah dalam Islam diperbolehkan jual beli ASI (Air Susu Ibu)?

Adapun terkait jual susu ibu ini, para ulama berbeda pendapat, ada ulama yang membolehkan dan ada juga yang melarang. Diantara ulama yang membolehkan jual beli ASI adalah ulama dari kalangan madzhab Syafi’i

وَيَصِحُّ بَيْعُ لَبَنِ الْآدَمِيَّاتِ؛ لِأَنَّهُ طَاهِرٌ مُنْتَفَعٌ بِهِ فَأَشْبَهَ لَبَنَ الشِّيَاهِ، وَمِثْلُهُ لَبَنُ الْآدَمِيِّينَ بِنَاءً عَلَى طَهَارَتِهِ، وَهُوَ الْمُعْتَمَدُ كَمَا مَرَّ فِي بَابِ النَّجَاسَةِ

Artinya: “Sah menjual susu perempuan karena benda tersebut suci, dapat diambil manfaat, maka disamakan dengan susu kambing-kambing. Demikian pula dengan susu yang dikeluarkan oleh pria (jika memungkinkan). Hal ini berdasarkan atas kesuciannya susu tersebut. Pendapat ini adalah yang dibuat pegangan sebagaimana pada bab najasah” (Muhammad bin Ahmad al-Khatib as-Syarbini, Mughnil Muhtaj, [Darul Kutub al-Ilmiyyah: 1994], juz 2, h. 343).

Dengan dibolehkan jual beli ASI maka ada konsekuensi yang harus dilakukan yaitu terbentuknya hubungan mahram (haram dinikah) antara si anak penerima ASI dan si ibu penyuplai ASI, berikut cabang nasab turunannya. 

Adapun ulama yang melarang jual beli ASI adalah ulama dari kalangan madzhab Maliki dan Hanafi

وَقَالَ أَبُو حَنِيفَةَ وَمَالِكٌ لَا يَجُوزُ بَيْعُهُ وعن أحمد روايتان كالمذهبين * وَاحْتَجَّ الْمَانِعُونَ بِأَنَّهُ لَا يُبَاعُ فِي الْعَادَةِ وَبِأَنَّهُ فَضْلَةُ آدَمِيٍّ فَلَمْ يَجُزْ بَيْعُهُ كَالدَّمْعِ وَالْعَرَقِ وَالْمُخَاطِ وَبِأَنَّ مَا لَا يَجُوزُ بَيْعُهُ مُتَّصِلًا لَا يَجُوزُ بَيْعُهُ مُنْفَصِلًا كَشَعْرِ الْآدَمِيِّ ولانه لا يؤكل لحمها فَلَا يَجُوزُ بَيْعُ لَبَنِهَا

Artinya: “Abu Hanifah dan Malik menyatakan tidak boleh menjual ASI. Dan dari Imam Ahmad menjelaskan ada dua perbedaan pendapat. Bagi ulama yang tidak memperbolehkan menjual ASI karena ASI bukan lah suatu hal yang biasa dijual dalam kebiasaan masyarakat. Dan ASI merupakan kelebihan anggota tubuh manusia, maka tidak boleh menjualnya sebagaimana air mata, keringat dan ingus. Dan setiap barang yang tidak boleh dijual secara global menjadi satu, maka tidak boleh menjualnya secara terpisah seperti rambut manusia. Manusia adalah jenis benda yang tidak diperbolehkan memakan dagingnya, maka dilarang menjual susunya” (Imam Nawani, al-Majmu’ Syarhul Muhadzab, [Darul Fikr], juz 9, h. 254).

Dari keterangan ini menjadi jelas, bahwa jual beli ASI itu ada dua pendapat, ada yang membolehkan dan ada yang melarang. Umat Islam boleh memilih satu dari dua pendapat ini. Penulis sendiri cenderung kepada pendapat yang kedua, yaitu larangan menjual ASI. Wallahu A’lam Bishowab.

Leave a Comment

Related Post