Harakatuna.com – Siapa yang masih ingat peristiwa Bom Surabaya? Tragedi yang terjadi pada tahun 2018 silam tersebut telah menewaskan belasan orang. Menariknya, pelaku bom bunuh diri adalah satu keluarga. Aksi tersebut diawali oleh Yusuf dan Firman, dua anak lelaki yang menggunakan sepeda motor untuk menjadi pengebom bunuh diri di Gereja Katolik Santa Maria.
Disusul Puji Kuswati (istri) beserta kedua putrinya yaitu Famela dan Fadhila Sari yang mengebom Gereja Kristen Indonesia, mereka menggunakan bom yang diikatkan di pinggangnya. Aksi diakhiri oleh Dita Oepriarto, sang kepala keluarga, ia menabrakkan Toyota Avanza miliknya ke Gereja Pantekosta Pusat Surabaya.
Satu keluarga ini dinyatakan terafiliasi dengan sel Jamaah Ansharud Daulah (JAD). Kelompok JAD selama ini tidak hanya menjadikan perempuan sebagai objek sasaran, tetapi juga menjadi subjek. Bahkan perempuan dan anak-anak yang menjadi pelaku tidak kalah militan dari laki-laki.
Sejalan dengan apa yang dikatakan Noor Huda Ismail, seorang pakar terorisme sekaligus pendiri Yayasan Prasasti Perdamaian (YPP), bahwa JAD yang terkait dengan ISIS memiliki proyek wilayah dan komunitas politik untuk membentuk pranata baru. Itu artinya, seluruh gerakannya melibatkan semua isi komunitas baik laki-laki maupun perempuan dan anak-anak.
Fakta tersebut sungguh menyayat hati siapa pun, bayangkan anak-anak yang tidak tahu-menahu turut menjadi korban radikalisme bahkan terorisme. Masa depan mereka terancam, mati sia-sia hanya karena keegoisan orang tua. Hal ini menjelaskan bahwa peran keluarga sangat besar dalam proses rekrutmen, dan adanya ancaman radikalisme, ekstremisme sungguh benar-benar nyata!
Bayang-bayang Radikalisme
Keluarga adalah unit sosial terkecil yang memiliki peran sentral dalam mencegah ancaman radikalisme. Namun, keluarga juga bisa menjadi ancaman itu sendiri. Banyak kasus terorisme anak dikontribusi dari lemahnya pengasuhan orang tua dan keluarga bagi anak. Selain itu, kasus terorisme juga menunjukkan bahwa proses rekrutmen terjadi di dalam keluarga, entah suami merekrut istri atau sebaliknya, atau orang tua merekut anak dan sebaliknya.
Faktor lain timbul dari adanya pendidikan yang berawal dari rumah, orang tua adalah guru bagi anak sebelum mereka mengenyam pendidikan di sekolah formal. Dengan begitu, bagi orang tua yang sudah terdoktrin ideologi radikal akan menanamkan ideologinya kepada anak-anak. Di bawah kuasa dan kendalinya, dengan mudah orang tua akan mendoktrin anak-anaknya agar menjadi radikal juga.
Proses indoktrinasi berlanjut ketika orang tua memasukkan anak-anaknya ke sekolah yang terindikasi radikalisme. Saya tidak menyangsikan itikad baik anggota JI selepas resmi bubar, bahwa mereka akan merubah kurikulum dan materi ajar yang terbebas dari sifat, sikap tatharuf serta merujuk kepada paham ahlussunnah wal jamaah di lembaga pendidikan yang terafiliasi.
Langkah tersebut sungguh dinantikan masyarakat dalam komitmennya, memang tidak mudah, butuh pendampingan dan kerja sama, terlebih jumlah lembaga pesantren yang terafiliasi tidaklah sedikit. Maka, sebaiknya para orang tua agar lebih jeli dan bijak untuk memilih dan memasukkan anak-anaknya ke lembaga pendidikan yang benar-benar bebas dari doktrin radikalisme dan intoleran.
Peran Penting Orang Tua
Anak-anak adalah masa depan bangsa. Di masa-masa inilah, proses pembentukan pola pikir mereka dimulai. Peran dan pengasuhan orang tua sangatlah penting, sebab bagi seorang anak, orang tua adalah hal yang paling dipercaya dalam hal nilai-nilai. Perilaku anak adalah cerminan kepribadian orang tua, anak akan meniru perilaku atau kebiasaan dan merekam semua perkataan orang tua.
Jika perhatian, kasih sayang, komunikasi, dan kebutuhan emosional anak tidak terpenuhi, anak-anak akan mencari kebutuhan ini di luar keluarga, akan sangat bahaya apabila hal tersebut ditawarkan oleh kelompok radikal. Maka, tingkatkanlah pola pengasuhan dan pemahaman tentang bahaya radikalisme.
Bangunlah keluarga dan didiklah anak-anak, berikan pengertian dan pemahaman tentang konsep Islam yang moderat. Berikan dan implementasikan praktik moderat dan toleran di lingkungan keluarga. Baik ayah maupun ibu harus benar-benar bekerja sama dalam hal ini.
Selain itu, peran keluarga besar juga tak kalah penting. Jika kasus Bom Surabaya melibatkan satu keluarga, maka kita lihat bagaimana orang tua atau mertua, kakak atau adik atau paman, mempunyai peran untuk melepas ikatan dengan anggota kelompok radikal. Penting bagi anggota keluarga besar mendeteksi sedini mungkin adanya perubahan-perubahan perilaku korban rekrutmen. Ajak berdialog dan angkat hal-hal positif, peran aktif keluarga adalah upaya yang sangat relevan dalam penanganan dan pencegahan radikalisme.
Sebagaimana yang sudah dipaparkan di atas, pada intinya membentengi anak-anak dari pusaran radikalisme bermula dari orang-orang terdekat. Bahwa orang terdekat dapat menjadi bom, namun orang terdekat juga yang dapat menyelamatkan. Sekali lagi, peran orang tua dalam penanaman nilai-nilai diyakini akan berpengaruh besar pada ketangguhan anak di masa depan. Diharapkan melalui penguatan basis keluarga, benar-benar dapat mencegah paham radikalisme di kalangan anak-anak.
Wallahu A’lam bi ash-Shawab…








Leave a Comment