Harakatuna.com – Awal pekan lalu, ketika saya menunggui bus di sebuah halte dekat kampus, tiba-tiba beberapa orang berpakaian sekolah dengan pandangan ganjil dan terkesan keheranan berujar kepada saya, “Mas, kenapa repot-repot menenteng buku setebal itu?” Saya mengernyit dan membalas pandangan mereka dengan ganjil juga.
Beberapa lama saya diam, dan mencerna, mengapa menenteng atau membawa buku?
Sebetulnya ini perkara mudah. Bisa saja saya menjawab pendek, “membaca, dik” dengan tampang dingin, judes, juga acuh tak acuh. Umumnya, cara semacam itu akan membuat keusilan mereka padam pelan-pelan. Jika saya memandang mereka hanya anak-anak iseng yang coba tidak kesepian menunggu bus. Tetapi saya berpikir sebaliknya.
Saya menduga, dan barangkali bagi mereka, apa yang saya lakukan adalah pekerjaan purba, tak efektif, juga sia-sia. Saya geli membayangkan lanskap pikiran mereka itu dengan embel-embel masalah kronik manusia. Apa-apa yang “dianggap” ketinggalan zaman, selalu dimaklumi dengan perasaan setengah mengejek.
Tetapi apa pun yang menjadi latar belakang mereka, saya menyimpulkan satu hal: masyarakat muda yang diangankan menjadi Generasi Emas 2045, sebetulnya telah sempurna terperangkap pada dunia pragmatis dengan semangat kapitalis yang salah satunya, menekankan keserbacepatan dan keinstanan.
Mereka, yang terkungkung dunia ciptaan barat itu, selalu tergesa dan tak pernah merasa perlu menikmati pengetahuan baru. Toh segala hal yang ingin diketahui tersedia lengkap di dalam ponsel. Tinggal klik dan memasukkan entri apa pun yang diinginkan, akan muncul beserta jawaban dan contohnya.
Sebab itu, saya pelan-pelan simpati. Ada beberapa diagnosa karena pola pikir semacam itu.
Hari itu, saya hendak menuju perpustakaan daerah. Setelah bus tiba, saya menjejalkan diri dekat mereka dan sambil ringan tersenyum, saya berujar, “menikmati pengetahuan baru.” Mereka mengernyitkan dahi. Tidak mengerti dan menjawab dengan seruan pendek, “oooh.” Semula saya berharap mereka mempertanyakan ulang mengapa saya menjawab begitu. Tetapi, bisa kita duga, mereka tenggelam di gawai masing-masing dan entah di dunia mana.
Dunia Kecil
Saya jadi ingat, sewaktu kecil, ibu saya selalu menasihati bahwa buku adalah jendela dunia. Buku, yang saya angankan dulu dan akhirnya saya rasakan, membangkitkan imajinasi tentang suatu hal dengan visual yang bisa saya rekayasa dengan liar. Setiap imajinasi yang tumbuh dalam kepala sehabis membaca buku, selalu saya gugat dan pertanyakan kebenarannya sehingga imajinasi tentang suatu hal saya rasa mendekati kenyataan.
Misalnya, ketika membaca buku sejarah perang kemerdekaan, saya membayangkan bagaimana letupan emosi dan keyakinan para pejuang disalurkan ke bilah bambu runcing sehingga, pejuang-pejuang itu, tak gentar melawan meski kalah teknologi sebab si penjajah menggunakan senapan canggih.
Imajinasi itu, tampaknya, memberi efek memukau terhadap diri saya. Sebuah efek yang tampaknya selalu menjadi landasan saya bertindak.
Pertama, membangun imajinasi dan kedekatan perasaan. Efek ini tampaknya sudah wajar dirasakan setiap orang, sebab, buku tidak menyediakan visual terhadap teks yang tertulis. Setiap pembaca dipaksa mereka ulang dan membangun imajinasi. Ketika proses pembangunan imajinasi berlangsung, ada kedekatan perasaan yang perlahan timbul dan merasukinya. Perasaan tersebut bisa jadi keberpihakan terhadap ajaran, etika, pedoman hidup, atau lainnya yang tersirat di sebuah buku. Sehingga, pembaca mengalami dialog kepercayaan.
Ketika hal demikian didapatkan, kita seolah-olah terlahir dengan menenteng kepercayaan baru dengan kesadaran seperti tafsir kita terhadap teks.
Kedua, latihan berpikir. Menjadi wajar bahwa setiap buku memiliki pandangan dan nilai beragam yang disuguhkan kepada pembaca. Dan jika akhirnya teks buku tersebut bertentangan dengan nilai yang kita pahami, lagi-lagi akan terjadi dialog. Dialog tersebut akan melahirkan tiga hal: memiliki nilai baru, memperkukuh nilai yang selama ini dianut, atau menyangsikan keduanya.
Benturan nilai tersebut melatih kita menimbang dan berpikir keras mengenai banyak hal di dunia ini. Sebab keberagaman nilai atau tafsir terhadap suatu topik adalah niscaya, dan kita sebagai pembaca, terpaksa untuk mengamini salah-satunya. Ketika ada masalah aktual, yang berkaitan dengan topik tertentu, kita sudah dapat memberi sikap dengan pengetahuan yang dipercayai.
Dan ketiga, kekayaan bahasa. Sudah menjadi kecenderungan umum ketika mendapati seseorang berbicara—entah langsung atau tidak—pada kita mendayagunakan bahasa secara tepat dan lugas, atau barangkali indah di dengar, selalu membuat terpukau. Rahasia orang-orang semacam itu hanya satu, membaca. Sebab kegiatan ini, yang berkait-erat dengan diksi, menampilkan beragam permainan bahasa yang dapat kita serap lalu pergunakan ketika dibutuhkan.
Kehendak Membaca
Agaknya, dengan tiga fakta tadi, kita dapat pelan menyimpulkan bahwa membaca, terutama teks berupa buku, menjadi sangat penting bagi pertumbuhan komunikasi serta pengetahuan kita terhadap dunia. Saya sadar, globalisasi menuntut kita terus adaptif. Membaur dan berpartisipasi di dalamnya. Tetapi, kebiasaan-kebiasaan positif yang membangun nampaknya perlu terus digalakkan dan dilestarikan.
Sehingga tidak ada pernyataan-pernyataan mengejek dan skeptis di media sosial tenttang Indonesia Emas 2045. Tidak ada anak-anak muda yang malah menyangsikan orang yang kemana-mana menenteng buku. Tetapi toh sebetulnya pemerintah kita adaptif. Mereka menyediakan iPusnas yang bisa diakses kapan pun lewat gawai. Namun, kenikmatan membaca buku fisik tidak dapat digantikan oleh apa pun. Apa pun.







Leave a Comment