Harakatuna.com – Keputusan pemerintah melalui Kemendikbudristek menghapus jurusan IPA, IPS, dan Bahasa di jenjang pendidikan SMA, sontak dapat sorotan dari aktivis khilafah. Mereka memandang bahwa penghapusan tersebut bagian dari cara mendegradasi pendidikan fundamental dan kompetensi siswa sehingga di satu sisi akan menyulitkan mereka saat masuk ke PT, dan pada sisi yang lain akan menurunkan kualitas PT itu sendiri.
Kurikulum Merdeka Tujuan Maslahat
Meski pemerintah bergeming bahwa penghapusan jurusan IPA, IPS, dan Bahasa di tingkatan SMA sudah melalui kajian mendalam dan bukanlah hal baru, para aktivis khilafah tetap berteriak. Kemendikbud Ristek menyebut, kebijakan itu sudah mulai diterapkan bertahap sejak tiga tahun lalu sebagai bagian dari implementasi Kurikulum Merdeka.
Kepala Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan Kemendikbud Ristek Anindito Aditomo menjelaskan konsep dari peniadaan jurusan tersebut. “Pada kelas 11 dan 12 SMA, murid yang sekolahnya menggunakan Kurikulum Merdeka dapat memilih mata pelajaran secara lebih leluasa sesuai minat, bakat, kemampuan, dan aspirasi studi lanjut atau kariernya,” ujarnya. Anindito berharap Kurikulum Merdeka itu mampu membuat murid bisa lebih fokus untuk membangun basis pengetahuan yang relevan untuk minat dan rencana studi lanjutnya.
Salah satu yang diteriaki oleh aktivis khilafah adalah tujuan penghapusan jurusan IPA, IPS, dan Bahasa di jenjang pendidikan SMA itu sendiri. Menurut mereka, tujuan penghapusan itu adalah mempersiapkan peserta didik bagi terealisasinya tujuan pendidikan di tingkat pendidikan tinggi dengan industrialisasi dan sekularisasi sebagai spiritnya.
Saya akan kutip secara verbatim kritik mereka: “Memang, sekilas tidak ada yang perlu disoal selain aspek teknis penerapan. Hanya saja, ketika ditelisik, akan tampak bahwa konsep ini merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari keseluruhan prinsip batil pada Kurikulum Merdeka, khususnya dalam aspek tujuan pendidikan. Artinya, alih-alih membawa maslahat, justru yang terjadi adalah pembajakan potensi generasi untuk kepentingan kapitalisme. Padahal, begitu kasat mata bahwa kapitalisme sekularisme adalah yang paling bertanggung jawab atas penderitaan dunia hari ini, sebut Dr. Rini Syafri salah satu aktivis khilafah.
Bukan Industrialisasi dan Sekularisasi Pendidikan
Mereka melihat bahwa tujuan Kurikulum Merdeka ini hanyalah perangkap untuk industrialisasi dan sekularisasi pendidikan. Di mata aktivis khilafah, kata sekularisasi adalah bahasa yang paling ditakuti sejauh ini. Karena itulah mereka membuat tandingan dengan bahasa-bahasa lain, seperti syariat Islam dan sebagainya.
Kurikulum Merdeka tidak cocok bagi aktivis khilafah, meski banyak pendidik yang cukup memberikan kesan positif pada program ini sebagai bagian mencerdaskan generasi bangsa. Menurut aktivis khilafah jika pemerintah tulus bermaksud mencerdaskan generasi dan menjadikan negeri ini sejahtera dan bahagia, hendaknya pemerintah hadir bagi penerapan kurikulum pendidikan khilafah.
Dalam konteks ini, di mata khilafah, pendidikan yang baik adalah pendidikan khilafah. “Sebagai jantung sistem pendidikan, baik dari segi tujuan pendidikan, metode pembelajaran, maupun struktur kurikulum. Kurikulum yang bersifat istimewa tersebut hanyalah kurikulum pendidikan khilafah, ia satu-satunya kurikulum yang akan menjawab berbagai tantangan persoalan pendidikan di sepanjang zaman, termasuk pada abad ini,” tuturnya.
Kurikulum Khilafah Membuat Anak Menjadi Radikal
Melihat kritik yang tidak masuk akal tersebut, menjadi kelihatan sendiri bahwa mereka hanya menginginkan kurikulum pendidikan khilafah sebagai tandingan Kurikulum Merdeka. Kritik mereka tidak berbobot, tetapi mereka hanya ingin menyodorkan negara khilafah berikut politik dan sistem sebagai perkara yang urgen bagi mereka. Aneh!
Terlebih jika melihat bahwa kemampuan penyelenggara pendidikan khilafah sangat amburadul di segala tempat. Anda bisa mengecek pendidikan mereka di berbagai tempat pasti menemukan kegegalan dalam kesiapan para pendidik dan kelengkapan infrastruktur. Bagi mereka saran tersebut tidak penting. Yang penting bagi mereka bagaimana anak didik bisa mengenyam ideologi khilafah.
Konsekuensinya, selain pembelajaran bisa tetap optimal, anak didik tidak menjadi cerdas, mereka hanya bisa mengikat para guru dan murid untuk menjadi radikal. Ini telah terjadi di mana-mana. Karena itu, jika tidak diantisipasi lebih lanjut maka cara berpikir mereka akan terus berlanjut menggerogoti generasi yang menjadi aset bangsa ini. Kurikulum khilafah hanyalah membuat anak menjadi radikal.








Leave a Comment