Sisi Gelap Perempuan Wahabi dan Jihadi: Jadi Budak Seks dan Mesin Pencetak Teroris

Ahmad Khairi

31/07/2024

5
Min Read
Wahabi Jihadi

On This Post

Harakatuna.com – Viralnya hoaks pernikahan salah ustaz Wahabi, Nuzul Dzikri, dengan artis cantik Laudya Cynthia Bella menyingkap banyak ironi. Salah satunya, yang paling fatal, ialah sang penyebar fitnah yang ternyata perempuan Wahabi bernama Sulhidayah Syam. Tidak hanya itu, perempuan Wahabi tersebut merasa bangga jika Bella menikah dengan Dzikri. Hal tersebut kemudian membuka sisi gelap para akhwat Wahabi yang tak banyak orang tahu, yakni “otak mereka sudah rusak”.

Bagaimana tidak, bagi perempuan Wahabi seperti Sulhidayah Syam, dirinya tidak lebih dari seonggok daging yang bebas menjadi santapan nafsu ustaz-ustaz Wahabi. Dia pun berusaha membawa Bella pada jeratan doktrin Wahabi yang ternyata mirip sekali dengan doktrin kaum jihadi, yaitu bahwa perempuan adalah budak seks dan mesin pencetak anak belaka. Berkedok kesunahan poligami, ia mendestruksi perempuan ke kasta paling rendah—sesuatu yang bertentangan dengan Al-Qur’an.

Tentu, tulisan ini tidak hendak menentang keabsahan poligami secara syariat. Nabi Muhammad juga berpoligami dan itu halal. Namun yang perlu ditentang adalah “manipulasi syariat” dan “eksploitasi poligami” oleh para dedengkot Wahabi, terutama di Indonesia. Banyak yang tidak tahu, bahkan mungkin sebagian tidak percaya, bahwa mayoritas ustaz Wahabi itu berpoligami dengan alasan sunah. Padahal, itu demi pemenuhan nafsu birahi mereka belaka.

Di kalangan kaum jihadi, posisi perempuan juga sama hinanya. Boleh jadi masyarakat hanya tahu tentang kekejaman ISIS yang menjadikan perempuan sebagai budak seks mereka. Padahal, ISIS bukan satu-satunya pelaku: semua kelompok teroris—yang mayoritas mereka berlatar belakang Wahabi—cenderung mengeksploitasi perempuan demi nafsu bejat mereka yang diatasnamakan sunah Nabi. Hubungan badan di luar nikah? Itu hal biasa bagi mereka!

Semua kebejatan dan ironi tersebut memang jarang tampil ke permukaan, padahal penting dibahas untuk mengungkap penyimpangan Wahabi dan jihadi terhadap syariat. Terlalu buruk untuk tidak disampaikan bahwa mereka melakukan penyimpangan syariat namun selalu melabelisasi diri sebagai “manhaj salaf”, “pengikut sunah”, dan label-label palsu lainnya. Dan yang paling ironis, sisi gelap Wahabi tentang perempuan itu justru didukung oleh perempuan Wahabi itu sendiri.

Perempuan Wahabi yang Termanipulasi

Perempuan Wahabi—seperti Sulhidayah Syam dan lainnya—adalah perempuan yang termanipulasi. Namun, mengapa mereka justru menerimanya? Jawabannya ialah, saking kuatnya doktrin manipulatif dalam Wahabi itu sendiri. Di tataran kaum jihadi, doktrin manipulatif tersebut bahkan tidak saja memosisikan perempuan sebagai kelas dua atau menjadikan mereka budak seks dan mesin pembuat anak, melainkan menjadikannya martir terorisme.

Hal itu dibuktikan dengan maraknya aksi teror yang pelakunya perempuan. Para lelaki jihadi melibatkan perempuan dalam terorisme sebagai martir, yakni “komoditas” untuk menyelamatkan eksistensi lelaki di medan teror. Sungguh hina perempuan bagi Wahabi dan jihadi, bukan? Dan tentu saja itu bukan tidak berefek buruk. Perlakuan mereka terhadap perempuan menyisakan trauma psikologis mendalam, seperti stres dan depresi.

Manipulasi terhadap perempuan yang dilakukan Wahabi dan jihadi juga menyebabkan luka fisik akibat kekerasan seksual dan perlakuan buruk lainnya. Mereka juga mendapat stigma sosial dan diskriminasi dari masyarakat, menyebabkan hilangnya orientasi hidup. Namun itu bagi sebagian saja. Sisi gelap yang tidak banyak orang tahu ialah, banyak juga perempuan Wahabi dan jihadi yang juga bangga akan manipulasi tersebut karena termakan doktrin ideologis.

Jadi, alasan utama mengapa perempuan Wahabi dan jihadi termanipulasi adalah adanya manipulasi ideologis mendalam. Wahabi dan jihadis mengajarkan doktrin keislaman yang menempatkan perempuan dalam posisi subordinat. Doktrin tersebut kemudian memengaruhi perempuan untuk menerima peran tradisional yang terbatas, seperti menjadi istri yang patuh, ibu yang tidak boleh bekerja di luar rumah, dan objek seksual yang tunduk total pada suami termasuk untuk dipoligami.

Perempuan yang tumbuh dalam lingkungan semacam itu juga tidak memiliki akses ke pendidikan yang memadai, atau eksposur terhadap wawasan keislaman alternatif yang lebih egaliter. Akibatnya, mereka menerima status “manusia kelas dua” sebagai sesuatu yang wajar dan bahkan diberkati syariat. Manipulasi tersebut kemudian diperparah oleh propaganda yang terus-menerus menekankan pentingnya kepatuhan dan pengorbanan kepada suami atas nama Islam. Ironis.

Dari Poligami Hingga Seks Bebas

Di banyak kelompok jihadi, perempuan menjadi budak seks atau mesin pencetak anak belaka. Kelompok-kelompok seperti ISIS, misal, secara terang-terangan mengeksploitasi perempuan untuk kepentingan ideologi mereka. Mereka diculik, dipaksa menikah, dan diperlakukan sebagai properti. Mereka dipaksa untuk melahirkan anak-anak yang kemudian dibesarkan dalam ideologi kebencian dan kekerasan, menjadi kader teroris masa depan.

Sebagaimana disinggung tadi, eksploitasi tersebut dibungkus dalam retorika agama yang mendistorsi ajaran Islam. Misalnya, konsep jihad nikah, pernikahan jihad, digunakan untuk melegitimasi perbudakan seksual. Padahal, tindakan semacam itu jelas kontradiktif dengan prinsip dasar Islam tentang martabat manusia dan hak-hak perempuan. Poligami itu belum ada apa-apanya dibanding sisi gelap perempuan jihadi lainnya: menjadi target seks bebas para teroris.

Tadi sudah dikatakan juga, selain dijadikan budak seks dan mesin pencetak anak, perempuan Wahabi dan jihadi juga dimanipulasi untuk jadi martir. Mereka dipaksa untuk melakukan aksi bunuh diri atas nama Islam. Pemanfaatan perempuan sebagai pelaku bom bunuh diri didasarkan pada anggapan bahwa mereka lebih sulit dicurigai oleh aparat keamanan. Lebih tragis lagi, mereka dicuci otaknya untuk percaya bahwa tindakannya akan membawa kemuliaan di akhirat.

Semua itu berada dalam satu kategori, yaitu sisi gelap perempuan di kalangan Wahabi dan jihadi. Karena mereka utamanya berasal dari latar belakang rentan seperti kemiskinan dan alienasi sosial, maka untuk mengatasi masalah tersebut, perlu pendekatan holistik yang melibatkan pendidikan, pemberdayaan ekonomi, dan reformasi sosial. Pendidikan yang dimaksud harus mencakup pemahaman tentang keadilan Islam dan pentingnya kesetaraan gender.

Sisi gelap perempuan Wahabi dan jihadi, wajib dicatat, merupakan masalah serius yang memerlukan perhatian mendesak. Doktrin yang menindas perempuan mesti diberantas, agar semua perempuan meraih martabat dan kebebasan. Perempuan bukanlah manusia kelas dua, budak seks, mesin pencetak teroris, atau bahkan martir terorisme. Mereka harus diselamatkan, kecuali para perempuan yang memang telah menerima dan bangga akan doktrin manipulatif Wahabi dan jihadi itu sendiri.

Wallahu A’lam bi ash-Shawab…

Leave a Comment

Related Post