Harakatuna.com – Beberapa waktu lalu, ramai di media sosial kabar tentang pernikahan Laudya Cynthia Bella dengan salah satu tokoh Wahabi, Nuzul Dzikri. Salah satu akun Facebook mengabarkan bahwa, Laudya menjadi istri ketiga dan memuji Bella sebagai perempuan terhormat karena sudah memantapkan keputusan mulia itu.
Di beberapa postingan lain, ada pula kisah tiga perempuan bercadar yang menikah dengan ustaz, dengan uang belanja lima ratus ribu setiap bulan dengan kondisi ekonomi jauh di bawah standar bahkan bisa dikatakan tidak layak. Dengan kondisi anak yang banyak dan harus diberikan hak hidup, makan serta pendidikan yang layak, banyak netizen menggugat jalannya rumah tangga tersebut.
Alih-alih hidup dengan pondasi harus bersyukur, namun kondisi tersebut sangat menyayat hati ketika pilihan poligami menyengsarakan perempuan. Tentu, standar sengsara yang dimaksud karena hidup dengan ekonomi yang jauh dari layak untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Dua fenomena di atas adalah tentang pilihan poligami yang dijalankan oleh perempuan. Tulisan ini tidak sedang menolak ajaran poligami yang pernah dicontohkan oleh Rasulullah Saw. pasca ditinggal oleh Siti Khadijah. Namun, seringkali kita melihat bahwa hampir semua para tokoh Wahabi, menjadikan poligami sebagai standar kekafahan dalam beragama dan berumah tangga. Pujian terhadap perempuan yang rela untuk dipoligami adalah dianggap standar kehormatan kehidupan perempuan.
Perlu diketahui bahwa tokoh-tokoh Wahabi menjadikan hijrah sebagai alat kampanye yang sangat masif, di mana secara penampilan, mereka mengajurkan untuk mengikuti sunah Nabi Muhammad yaitu memakai celana di atas mata kaki, memelihara jenggot dan mencukur kumis. Secara gaya berceramah, tokoh Wahabi ini akan lebih banyak membahas kemusyrikan yang terjadi apalagi jika menggunakan hukum selain hukum Allah. Benih-benih permusuhan kepada kalangan umat Islam yang berbeda dengan mereka sangat jelas. Menyuburkan Wahabi di Indonesia, sama halnya dengan menyuburkan kesesatan dan kemunafikan sosial.
Dalam konteks perlakuan terhadap perempuan, sama halnya dengan media MuslimahNews.bet menggambarkan perempuan. Sekalipun media ini menggambarkan perempuan sebagai makhluk domestik, di mana kemuliaannya didapatkan ketika di rumah, ajaran Wahabi juga sama halnya demikian. Berkedok dengan ajaran Islam yang dibawa oleh Rasulullah Saw. Mereka menjadikan perempuan sebagai objek seksual, yang bertugas melahirkan anak tanpa henti dengan tidak melihat perempuan sebagai manusia seutuhnya.
Argumen ini didasarkan pada beberapa pengalaman para perempuan yang merelakan diri menjadi istri kedua, ketiga, atau bahkan keempat dengan hidup nafkah di bawah standar layak. Sedangkan hak anak menerima hidup yang layak dan mendapatkan pendidikan, harus ditunaikan oleh orang tua. Sampai di sini, bukankah sudah jelas mereka adalah makhluk manipulatif yang menjadikan perempuan sebagai objek seksual yang bertugas memproduksi anak saja, tanpa dipenuhi haknya sebagai manusia.
Tidak hanya itu, tanpa disadari oleh perempuan yang sudah masuk dalam lingkaran tersebut, mereka menyudutkan perempuan lain yang berbeda pilihan. Seperti pilihan berkarir, berjilbab tapi tidak bercadar, ataupun pilihan untuk melakukan aktivitas kesukaan yang dimiliki. Di sinilah rivalitas perempuan muncul. Padahal, memperoleh pendidikan, mengembangkan potensi atau bahkan memilih karir, adalah hak setiap orang yang bisa dipilih siapa saja, tanpa memandang identitas kelamin.
Para perempuan-perempuan salaf, berada di bawah bayangan ideologi manipulatif yang diciptakan oleh para ustaz Wahabi dengan jaminan surga. Sekalipun mereka diperalat dengan dijadikan objek seksual, makhluk domestik, masih banyak perempuan yang masuk perangkap ideologi yang tidak memanusiakan perempuan tersebut. Wallahu A’lam.








Leave a Comment