Harakatuna.com – Media sosial tengah ramai dengan isu pernikahan artis Laudya Cynthia Bella dengan salah satu tokoh Wahabi, Nuzul Dzikri. Ironisnya, pemeran utama Surga yang Tak Dirindukan itu dikabarkan menjadi istri ketiga dari ustaz yang kerap mengeklaim dakwahnya dengan “manhaj salaf” tersebut. Warganet pun pro-kontra, antara yang memuji Bella dan yang mengagumi sang ustaz. Sebenarnya, siapa Nuzul Dzikri itu?
Sebelum membahas itu, penting untuk dicatat bahwa tren dakwah dan keislaman di Indonesia hari ini berada dalam sebuah paradoks: orang semakin suka kajian-kajian keislaman, namun yang diikuti adalah kajian Wahabi. Ironisnya, para dai Wahabi membungkus dakwah mereka sebagai “manhaj salaf” dan diri mereka sebagai “pengikut salaf”, sebuah trik yang berhasil memancing animo masyarakat Muslim.
Nuzul Dzikri adalah salah satu ustaz Wahabi yang berkamuflase sebagai salafi tersebut. Tren dakwahnya tentang pemurnian Islam, sebagaimana dai Wahabi lainnya, yang ujung-ujungnya membid’ahkan, menyesatkan, dan mengkafirkan sesama. Selain itu, Dzikri kerap membahas tentang jodoh ideal—suatu tema yang paling digemari Muslim yang baru mengenal Islam. Tidak perlu heran, Wahabi memang suka membahas yang gitu-gituan.
Ada beberapa penyimpangan yang Wahabi lakukan untuk membodohi umat. Manipulasi identitas mereka sebagai antek-antek Bin Wahhab, Bin Baz, dan tokoh Wahabi lainnya melalui label “manhaj salaf” bukanlah satu-satunya. Namun dari sekian manipulasi tersebut, “manhaj salaf” menjadi yang paling berbahaya karena efek penyesatannya sangat besar. Bayangkan, mereka mengaku pengikut ulama salaf padahal aslinya pengikut dajjal.
Pernah dengar fatwa Wahabi yang menghalalkan onani di siang hari Ramadan? Pernah dengar fatwa kebolehan nikah misyar yang sangat merugikan perempuan? Semua itu adalah serangkaian manipulasi manhaj sesat Wahabi yang, ironisnya, lagi digemari mayarakat Muslim awam di tanah air. Karena itu, Wahabi tidak boleh dibiarkan dan harus dilawan. Umat Islam tidak boleh sampai jatuh ke dalam kebobrokan mereka.
Manhaj Salaf, No! Manhaj Saraf, Yes!
Label “manhaj salaf” atau metode Salafi telah menjadi titik perdebatan dan kontroversi berkepanjangan. Ia merupakan upaya kelompok Wahabi untuk memperluas pengaruh mereka di Indonesia. Label “manhaj salaf” digunakan oleh Wahabi sebagai alat manipulasi untuk mempropagandakan Wahabisme. Alih-alih manhaj salaf, Wahabi sebenarnya lebih pas disebut sebagai “manhaj saraf”, yakni manhaj sesat yang menyelisihi jumhur ulama.
Bagaimana tidak dikatakan ‘saraf’ jika para jemaah Wahabi itu pandir, naif, dan terlampau tolol. Kalau diselisik isu pernikahan Bella dengan Dzikri yang lagi viral, misalnya, penyebarnya adalah akun jemaah perempuan Wahabi bernama Sulhidah Syam. Artinya, para perempuan Wahabi sudah terdoktrin kesesatan Wahabi dan rela diri mereka diinjak-injak demi memuaskan nafsu bejat para ikhwan Wahabi itu sendiri.
Doktrin Wahabi mematikan rasionalitas dalam berislam. Yang haram menurut jumhur ulama, dihalalkan oleh Wahabi. Misyar, misalnya. Sementara itu yang jelas-jelas halal menurut jumhur ulama justru disesatkan dan dicemooh. Baca Al-Qur’an dan tawasul, misalnya. Jadi mereka itu bukan pengikut salaf, melainkan umat Muslim yang sarafnya terganggu. Ikut manhaj salaf? Tidak, mereka ikut nafsunya sendiri.
Apalagi manipulasi manhaj sesat Wahabi melalui label salaf? Wahabi berhasil memosisikan diri sebagai penjaga autentisitas Islam, yang kemudian memberikan mereka daya tarik kuat kepada, dan animo tinggi terhadap, Muslim awam yang ingin menjaga kemurnian ajaran agama mereka. Oleh Wahabi, “manhaj salaf” dieksploitasi untuk menolak berbagai pemikiran ulama di satu sisi dan menjustifikasi pemikiran sesat mereka di sisi lainnya.
Selain itu, dengan menggunakan berbagai cara, Wahabi menyebarkan ceramah yang mendiseminasi pandangan Wahabi sembari mengkritik dan merendahkan praktik-praktik Islam lokal yang berbeda dengan doktrin mereka. Meresahkan, bukan? Klaim manhaj salaf yang manipulatif tersebut tidak hanya mengakibatkan polarisasi umat, tetapi juga menimbulkan ketegangan yang tak seharusnya terjadi.
Efek Buruk “Manhaj Salaf” Palsu
Upaya penyebaran Wahabisme di Indonesia menyebabkan perpecahan antar-Muslim lokal. Praktik-praktik Islam tradisional yang telah lama ada dianggap bid’ah dan disesatkan. Tidak hanya itu, tafsir keislaman Wahabi yang kaku memantik radikalisasi di kalangan generasi muda Muslim yang tengah mencari identitas religius, seperti Bella dan rekan-rekan artisnya. Mereka dijejali doktrin manhaj salaf palsu hingga sarafnya terganggu.
Praktik-praktik keagamaan dan local wisdom yang telah menjadi bagian integral dari identitas Muslim Indonesia selama berabad-abad dibabat habis oleh manhaj palsu tersebut. Sehingga untuk mengatasi manipulasi tersebut, urgen bagi umat Islam di Indonesia untuk memiliki pemahaman mendalam dan kritis terhadap sejarah, teologi, dan dinamika politik di balik gerakan-gerakan Wahabisme.
Manipulasi manhaj salaf palsu dan sesat yang Wahabi gunakan untuk membodohi umat berdampak buruk pada polarisasi Muslim, tergerusnya budaya-tradisi lokal, turunnya toleransi antarumat beragama, hingga semaraknya radikalisasi dan ekstremisme. Manhaj salaf yang palsu, sekali lagi, membuat otak seseorang menjadi beku, bebal, dan sarafnya terganggu—tidak waras. Dan tentu, ini bukan tuduhan belaka.
Betapa banyak artis yang disesatkan Wahabi dan betapa banyak tokoh Wahabi yang bergerak menyesatkan umat di Indonesia. Umat Muslim di negara ini benar-benar dihimpit oleh propaganda salaf palsu Wahabi yang dampak buruknya dapat dirasakan dalam kehidupan sosial dan iklim keberagamaan masyarakat. Maka, waspadalah dan tetap awasi Wahabi beserta gerakannya. Jika semakin meresahkan, berantaslah sampai ke akar-akarnya.
Wallahu A’lam bi ash-Shawab…








Leave a Comment