Digitalisasi dan Potensi Penyebaran Terorisme yang Lebih Luas

Muallifah

25/07/2024

3
Min Read

On This Post

Harakatuna.com- Kehadiran Aritificial Intelligent (AI), yang merupakan salah satu produk dari kemajuan teknologi yang begitu pesat, menjadi salah satu tantangan tersendiri bagi kita semua. Di satu sisi, kehadirannya bisa membuat manusia semakin mudah dalam melakukan pekerjaan. Ada banyak sekali bidang pekerjaan yang terbantu oleh kehadiran AI, seperti: bisang kreatif hingga kepenulisan. Meski begitu, ancaman dalam bidang terorisme ternyata terus menghantui.

Misalnya dalam beberapa waktu lalu, kelompok ekstremis (ISIS) menggunakan deepfake dan chatbot untuk menciptakan karakter AI sebagai medium propaganda. Salah satu bentuk propaganda yang dikembangkan oleh mereka adalah menyebarkan buletin/tulisan dengan para pembawa acara yang dihasilkan oleh AI dengan berbagai bahasa. ISIS secara resmi memanfaatkan ini, empat hari setelah serangan di Gedung musik Moskow pada 22 Maret yang menewaskan 145 orang. ISIS juga mengklaim bertanggung jawab atas serangan ini. Tidak hanya itu, video propaganda yang dihasilkan oleh AI muncul di khalayak publik dan mengungkapkan bahwa ISIS bertanggung jawab atas sebuah serangan yang terjadi di Afghanistan.

Di sisi lain, kelompok Al-Qaeda juga sudah memulai mengadakan workshop sosialisasi kecerdasan buatan bagi seluruh anggotanya untuk melakukan rekrutmen secara masif. Upaya ini menjadi sangat nyata bahwa, pemanfaatan teknologi, khususnya AI memiliki potensi besar terhadap penyebaran terorisme yang lebih luas. Kecepatan para ekstremis dalam merespon kemajuan teknologi menunjukkan bahwa kelompok mereka adalah orang yang paham tentang IT. Strategi mereka dalam menyebarkan propaganda dan mengelabuhi masyarakat sangat bagus.

Argumen tersebut diperkuat oleh faktwa bahwa, pada tahun 2014 ketika mereka membuat video propaganda untuk disebarkan ke publik, mereka memproduksi video dengan kualitas tinggi agar bisa mengintimidasi para musuh dan menjaring banyak pengikut. Sejak awal adanya ISIS, mereka sudah memiliki SDM yang mumpuni dalam melakukan kaderisasi keberlanjutan.

Apa yang Bisa Dilakukan oleh Kita?

Kontra terorisme yang kita lakukan dalam bentuk tulisan, melalui bulletin atau penyebaran informasi di media sosial, rasanya belum cukup jika dibandingkan dengan upaya kelompok ekstremis dalam penyebaran propaganda. Kita juga perlu melangkah dalam upaya pemanfaatan AI untuk kontra terorisme sebagai bagian dari pencegahan dan peningkatan literasi masyarakat terhadap pengetahuan tentang terorisme.

Salah satu langkah penting dalam menghadapi tantangan ini adalah membangun SDM/masyarakat untuk cerdas secara digital. Tentu, upaya ini membutuhkan kerjasama semua pihak. Kontra narasi terorisme yang selama ini dilakukan kelompok masyarakat sipil, perlu terus dimasifkan. Hal ini harus ditambah pula dengan produksi dengan pemanfaatan AI untuk disebarkan di media sosial sebagai upaya edukasi kepada masyarakat. Dengan begitu, peningkatan literasi masyarakat tentang terorisme terus berjalan.

Tidak hanya itu, masalah internasional semacam ini perlu kolaborasi internasional dari pemerintah agar mampu Menyusun kebijakan atau upaya yang bisa dilakukan oleh kelompok masyarakat, agar bisa menekan maraknya propaganda melalui AI yang dihasilkan oleh para kelompok ekstremis. Sekalipun kasus di atas merupakan kasus yang terjadi di luar negeri, di Indonesia akan terjadi juga hal serupa. Sebab para kelompok ekstremis memiliki koneksi secara internasional yang bisa diakses oleh seluruh kelompoknya. Gerak cepat yang dilakukan oleh pemerintah dalam mencegah penyebaran propaganda ISIS yang dihasilkan oleh AI, akan berdampak terhadap upaya yang dilakukan oleh masyarakat. Pelibatan masyarakat berpengaruh besar terhadap pencegahan penyebaran terorisme yang lebih luas. Wallahu A’lam.

Leave a Comment

Related Post