Harakatuna.com – Ada banyak persepsi yang menyebut soal betapa potensialnya anak muda. Misalnya kalimat masyhur dari Soekarno ini, “Beri aku 1.000 orang tua, niscaya akan kucabut Semeru dari akrnya. Beri aku 10 pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia”; atau adagium Arab yang sangat populer ini, “Syubban al-yaum, rijal al-ghad (Pemuda hari ini adalah pemimpin di kemudian hari)”. Dua pernyataan termaktub sudah cukup menjadi bukti bahwa keberadaan pemuda tidak bisa dipandang sebelah mata.
Digitalisasi telah berhasil mendorong anak-anak muda berbakat muncul ke permukaan. Selain itu, kekuatan besar anak muda juga tampak—salah satunya—pada kampanye di media sosial beberapa waktu lalu untuk memboikot berbagai produk yang mendukung Israel. Hal ini pada akhirnya membuahkan hasil, di mana sebagian produk yang diboikot tersebut kemudian melakukan klarifikasi dan mengirimkan donasi ke Gaza. Fenomena ini memberi kita satu kesimpulan bahwa kekuatan anak muda selalu patut diperhitungkan meski di dunia maya sekalipun.
Namun, anak muda bagaimana pun juga merupakan manusia. Tidak hanya memiliki kekuatan, anak muda kadang juga ditimpa permasalahan. Modernisasi yang menjadi bagian dari transformasi peradaban nyatanya tidak sekadar melahirkan hal-hal positif. Ia juga membawa krisis di masyarakat, salah satunya adalah disorientasi.
Dalam KBBI, kata ‘disorientasi’ bermakna ‘kekacauan kiblat’. Senada dengan itu, Riwanto menulis dalam artikelnya, Globalisasi Perubahan Sosial Budaya dan Krisis Multidimensi di Indonesia, bahwa yang dimaksud disorientasi adalah perasaan tidak memiliki pegangan hidup dan hilangnya identitas.
Disorientasi—sebagai bagian dari krisis psikologis—tentu tak mudah diidentifikasi oleh orang awam lantaran ia tak seperti permasalahan fisik yang tampak oleh mata. Kendati demikian, disorientasi tak dapat diremehkan. Orang-orang yang kehilangan identitas diri akan sangat mudah disuapi doktrin terorisme. Saat pikiran mereka telah bersinggungan dengan doktrin terorisme, tak perlu waktu lama bagi “ide bom bunuh diri” untuk tumbuh. Mereka akan berpikir, “Daripada hidup sia-sia, lebih baik mati untuk membela agama”.
Jelas sangat ironis ketika anak muda mempunyai pikiran seperti di atas, apalagi sampai mengeksekusinya di kehidupan nyata. Mereka yang diharapkan menjadi pemimpin, malah berakhir sebagai pembunuh. Semangat muda yang sangat menggebu ditambah pikiran yang tidak mempertimbangkan risiko jangka panjang adalah kombinasi di mana “ide bom bunuh diri” dapat mudah terealisasi. Oleh sebab itu, anak muda kadang perlu diawasi. Bukan diawasi dalam arti dikekang atau dibatasi ruang geraknya, melainkan diawasi supaya mereka tidak sampai merasa bahwa hidupnya sia-sia belaka.
Hidup anak muda di balik bayang-bayang media sosial kadang begitu rentan. Kemewahan, popularitas, dan pencapaian tiap waktu berlabuh di beranda kita. Fenomena ini kerap kali memancing overthinking pada kita sebab biasanya kita—baik secara langsung maupun tidak—membandingkan kondisi hidup kita dengan apa yang tampak di media sosial. Disorientasi umumnya tumbuh dari titik ini.
Pertanyaannya sekarang, apa langkah yang bisa kita ambil untuk memitigasi tumbuhnya disorientasi, sementara media sosial sendiri seolah sudah menjadi fragmen tak terpisahkan dalam hidup kita di era sekarang?
Bagi beberapa orang, media sosial adalah tempat untuk menyambung hidup. Hal ini tentu tak memungkinkan bagi mereka untuk menjaga jarak dari media sosial. Sementara di sisi lain, disorientasi sendiri dapat hinggap pada diri siapa pun, entah itu pada mereka yang tiap waktu menatap media sosial maupun mereka yang cukup jarang menyentuhnya. Karena itu, hal-hal berikut ada baiknya dilakukan sebagai antisipasi.
Pertama, memahami bahwa apa yang tampak di media sosial itu tak sepenuhnya nyata. Ada banyak hal yang bisa dimanipulasi sedemikian rupa sebelum diposting di media sosial. Kita sendiri, sebelum memposting sesuatu di media sosial, pasti melakukan pemilahan terlebih dahulu.
Foto yang paling memikat dan caption yang mencuri atensi adalah dua hal yang kita pikirkan mati-matian sebelum meng-upload-nya. Orang lain pun melakukan hal yang sama. Jadi, intinya, supaya kita tidak larut dalam overthinking, kadang kita perlu berpikir bahwa apa yang ada di media sosial itu ‘sekadar konten belaka’.
Kedua, memiliki visi yang jelas. Sebagaimana telah dipaparkan di atas, disorientasi dapat mendorong siapa pun, terutama anak muda, untuk jatuh dalam terorisme. Guna mencegah hal buruk semacam itu, kita mesti memiliki visi hidup yang jelas dan positif. Apabila kita mempunyai visi seperti itu, maka kita akan mafhum ke mana mesti melangkahkan kaki dan mana jurang yang harus dijauhi. Visi hidup yang teguh dan positif akan menuntun kita menjauhi hal-hal yang merugikan diri sendiri, keluarga, dan agama.
Ketiga, tidak tergesa-gesa menyimpulkan segala sesuatu. Dunia ini tidak sekadar hitam dan putih. Apa yang seolah tampak buruk, tidak selalu benar-benar buruk. Pun demikian sebaliknya. Sebagai misal, orang yang tidak memeluk agama Islam bukan berarti dia adalah orang yang dipenuhi kejahatan. Atau, bila kita membunuh orang lain hanya atas dasar perbedaan iman, bukan berarti kita adalah pahlawan. Allah Swt. banyak memerintah kita untuk berpikir dan merenung. Jadi, tidak sepatutnya kita tergesa-gesa menyimpulkan dan mengambil tindakan tanpa terlebih dahulu mempertimbangkan. Wallahu A’lam.








Leave a Comment