Harakatuna.com – Salah satu komentar yang saya terima ketika membagikan tulisan tentang Jama’ah Islamiyah (JI) melalui akun Instagram pribadi, adalah balasan melalui direct massage: “Bapak temanku dari JI pindah ke Majelis Mujahidin Indonesia, pasca pembubaran itu,” tulisnya.
Sejenak nama Majelis Mujahidin Indonesia tidak asing dalam dunia organisasi keislaman Indonesia. Ia hampir sezaman dengan Jama’ah Islamiyah meskipun tidak berdiri di tahun yang sama. Napas perjuangan yang dimiliki, satu tujuan dengan FPI, HTI, JI, dkk. Majelis Mujahidin Indonesia, eksistensinya bisa dilihat melalui majelismujahidin.com. Dalam website tersebut, tulisan dengan spirit khilafah islamiyah, serupa dengan tulisan yang ada di website MuslimahNews.com. Sampai hari ini, tulisan terbaru dengan topik-topik populer bisa diakses melalui laman tersebut.
Jika statement di atas bisa dijadikan contoh bahwa, tidak semua anggota JI tunduk terhadap Pancasila dan NKRI, kenyataan ini sama dengan tulisan saya beberapa waktu lalu pasca pembubaran JI bahwa, akan ada organisasi serupa dengan JI yang akan dibentuk oleh anggota JI yang tidak setuju dengan pembubaran tersebut atau anggota JI yang tidak setuju dengan pembubaran tersebut bergabung dengan organisasi yang senapas dengan spirit perjuangan Jama’ah Islamiyah.
Majelis Mujahidin Indonesia, Organisasi Jenis Apa?
Era Reformasi membawa babak baru dalam fenomena gerakan Islam di Indonesia. Formalisasi syariat Islam dan pembentukan daulah/khilafah adalah spirit utama yang diusung oleh mereka. Gerakan keagamaan Islam yang berdiri di era Reformasi ini menawarkan gagasan secara terang-terangan menolak demokrasi, termasuk menolak Pancasila serta militansi untuk menegakkan syariat Islam sangat besar sampai hari ini.
Tidak heran, jika pasca runtuhnya Orde Lama, Abdullah Sungkar dan Abu Bakar Ba’asyir kembali dari Malaysia, tempat persembunyiannya. Sebab keduanya merasa bahwa, era Reformasi secara terbuka memberikan ruang bagi mereka untuk terus mensyiarkan agama Islam kepada publik tanpa diganggu oleh pemerintah.
Majelis Mujahidin Indonesia (MMI) lahir dari Kongres Mujahidin I di Yogyakarta pada 5-7 Agustus 2000. Abu Bakar Ba’asyir (ABB) diangkat sebagai Amir Majelis Mujahidin Indonesia. Sampai di sini, bukankah kita sudah bisa menyimpulkan bagaimana gerakan mereka? Meski begitu, pada tahun 2008 ABB mengundurkan diri dan MMI pecah menjadi beberapa kelompok seperti Mujahidin Indonesia Barat (MIB), Mujahidin Indonesia Timur (MIT), Jama’ah Ansharud Daulah (JAD), hingga Jama’ah Ansharul Khilafah (JAK). Di sinilah MMI berubah menjadi Majelis Mujahidin (MM). Meskipun hari ini, eksistensi MM agak buram. Tapi dakwah yang dilakukan secara online, masih trus membara melalui majelismujahidin.com
Dalam melakukan siasat untuk menuju tujuan besarnya, perjuangan Majelis Mujahidin Indonesia menggunakan dua pola: kultural (dakwah Islam) dan struktural. Sama seperti organisasi keagamaan lain, pendekatan kultural dilakukan dengan pembinaah akidah, dakwah antar individu, kelompok ataupun dalam peningkatan pendidikan, sosial dan ekonomi. Usaha tersebut dilakukan melalui kelompok pengajian atau lembaga pendidikan.
Selain pola kultural, pola struktural dilakukan dengan memiliki target pencapaian kepemimpinan politik, yakni kekuasaan dipegang oleh seorang Muslim yang memiliki komitmen kuat terhadap Islam serta memiliki militansi yang besar untuk menerapkan syariat Islam dalam ruang lingkup sosial hingga negara.
Dakwah Media MMI
Sama seperti organisasi HTI, FPI atau yang serupa, dakwah adalah napas perjuangan yang dilakukan oleh semua kelompok keagamaan. Sebab dakwah adalah jalan untuk menyebarkan strategi ataupun ideologi kepada masyarakat. Sejauh ini, melalui majelismujahidin.com, semangat perjuangan menebarkan ideologi khilafah islamiyah terus dilakukan. Artinya, gerakan mereka masif dan perlu diwaspadai oleh masyarakat. Jika anggota JI yang tidak setuju dengan pembubaran JI bergabung dengan MM, maka pergerakan terorisme di Indonesia bisa dikatakan besar.
Selain media tersebut, ada pula arrahmah.id, sebagai basis penyebaran ideologi yang sama posisinya dengan majelismujahidin.com. Bahkan pasca pembubaran JI beberapa waktu lalu, media ini masih menuliskan artikel tentang JI dengan perspektif mereka. Spirit menegakkan khilafah islamiyah di Indonesia, terus membara dalam tubuh mereka.
Dengan begitu, sikap waspada terhadap organisasi MM perlu terus dilakukan oleh pemerintah dalam upaya memberantas terorisme di Indonesia. Keberadaan MM, menjelma sebagai musuh lama yang membesar bagi masyarakat Indonesia karena bertambahnya anggota JI. Wallahu A’lam.








Leave a Comment