Harakatuna.com – Keberadaan internet alias dunia maya tidak selalu menjadi positif atau dipakai dengan cara yang positif. Ada hal-hal negatif yang ditimbulkan dan sangat berbahaya, yakni propaganda dan penyebaran paham ideologi radikal yang kerap dilakukan para pelaku terorisme. Mereka memahami dengan betul bahwa internet menjadi media efektif dalam peningkatan jaringan komunikasi, alat propaganda bahkan bisa digunakan sebagai sarana rekrutmen baru.
Sifat internet yang dapat menyebarkan informasi secara cepat, mudah, efisien, dan sangat murah, disadari oleh kelompok terorisme untuk menunjukkan aksi dan eksistensi dalam menyebarkan ideologinya. Ibarat gunung es, pergerakan jaringan terorisme terlihat tenang dan beku di atas, namun sejatinya di bawah permukaan tidak pernah berhenti.
Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) RI, sepanjang 2023 lalu menemukan sebanyak 2.670 konten digital bermuatan radikalisme dan terorisme atau IRET (Intoleransi, Radikalisme, Ekstremisme, Terorisme) yang sebagian besar terdapat di media sosial Facebook dan Instagram. Potensi paling rentan terpapar radikalisme dan terorisme juga lebih tinggi pada perempuan, generasi muda, khususnya gen Z, serta mereka yang aktif di internet.
Kini, JI telah bubar dan orang-orangnya berkomitmen dalam menjamin kurikulum dan materi ajar yang terbebas dari sifat dan sikap tatharruf, serta merujuk kepada paham ahlussunnah wal jamaah. Adalah sebuah keniscayaan bila adanya gerakan bawah tanah yang akan dilakukan mereka, terlebih, lembaga pendidikan yang terafiliasi JI selama ini cukup eksis di media sosial.
Menelisik Dakwah JI di Media Internet
Imam Samudera termasuk orang pertama yang mengenalkan cyber-jihad di Indonesia, ia melakukan jihad online dan bagaimana cara melakukannya. Dia bahkan menjadi kontributor tetap pada salah satu laman Yahoo Jamaah Islamiyah yang bernama al-Bunyan, fokus utamanya ialah menyebarluaskan berita tentang jihad di Ambon dan Poso.
Pelaku Bom Bali ini memakai nama samaran Rere Tambusai, ia mengelola beberapa website di antaranya, www.istimata.com, www.tibb.beritaislam.com, www.muharridh.com. Selain menggunakan media online untuk propaganda, Imam Samudera juga menggunakan media online untuk mengumpulkan dana dan menyerang musuh dengan melakukan peretasan.
Nama lain ada Noordin M. Top dan Abdul Azis, mereka membangun situs khusus sebagai medium untuk melakukan koordinasi semua kegiatan yang terkait dalam pelaksanaan aksi teror. Ada juga Max Fiderman yang mempunyai nama asli M. Agung Prabowo, ia membuat situs anshor.net dari kartu kredit.
Tidak hanya itu, Max Fiderman cukup terkenal sebagai hacker di Indonesia yang pernah berhasil membobol Bank of Amerika. Ia juga aktif melalui Internet Relay Chat (IRC), di mana di ruang chat itu, ia bertemu dan sering berdiskusi dengan Imam Samudera untuk membuat website yang berisi ajakan jihad dan cara membuat bom.
Melihat sepak terjang anggota JI dalam dunia internet cukup mengkhawatirkan bagi saya. Sebab, meskipun secara organisasi mereka sudah resmi menyatakan bubar, namun bisa jadi secara ideologi belum utuh melebur, dan adanya gerakan bawah tanah yang akan tetap dilakukan.
Terlebih di media sosial, dakwah JI akan berada di balik layar, bersembunyi, berkamuflase, dan cukup dengan membungkus kontennya dengan kreatif, agar nampak biasa, tapi sejatinya memuat propaganda ideologi tertentu.
Kontra-Narasi dan Pesan Damai
Dalam merespons dan menyikapi kuatnya pengaruh internet dan media sosial yang dijadikan sebagai media propaganda dan indoktrinasi, BNPT terus berupaya memantau jaringan yang ada di bawah permukaan dengan patroli siber. Sebanyak 1.922 konten juga telah diusulkan untuk dihapus atau take down. Saya mengapresiasi betul kinerja BNPT dan polisi siber, kendati demikian perlu mengoptimalkan lagi, sebab propaganda melalui media sosial sudah terjadi secara massif bahkan semakin tumbuh subur.
Selain itu, peran media Islam moderat sebagai situs keislaman, harus saling berkolaborasi dan bersama-sama konsisten menampilkan konten-konten kontra-narasi. Upaya untuk terus memerangi dan melawan konten-konten bermuatan radikal dengan menyebarkan pesan damai dan banyak melakukan uji kesahihan serta validitas pendapat keagamaan dari kelompok ekstremis.
Di sini, anak muda sebagai pengguna media sosial juga diharapkan menjadi duta damai dunia maya. Mereka harus aktif menggaungkan perdamaian melalui tulisan, gambar, video, dan blog yang disertai dengan kreativitas, bahasa yang mudah dipahami, argumentasi kuat, dan pendekatan yang lebih populer. Sinergisitas bersama merupakan kekuatan untuk terus melawan derasnya arus informasi dan media sosial yang menyebarkan radikalisme dan terorisme. Terus lawan!








Leave a Comment