Harakatuna.com – Ada stigma yang seakan menjadi polarisasi dalam pandangan masyarakat, ketika mempelajari literasi Arab selalu dianggap berhubungan dengan ajaran agama (Islam). Pernahkah kita berpikir bahwa dalam sejarah peradaban muslim, ada banyak tokoh muslim yang menciptakan teori-teori dalam ilmu sains dan teknologi?
Sebut saja Ibnu Sina di bidang kedokteran; al-Khawarizmi di bidang matematika; dan masih banyak tokoh muslim lainnya. Atau Jalaludin Rumi yang terkenal dengan majas dalam syair-syairnya. Semua ini berawal dari keterampilan dan kemampuan dalam literasi.
Dalam sebuah studi di masa kini, akibat orientasi sebagian besar penulis yang kebanyakan idenya berorientasi modern, hingga kita seperti kehilangan sejarah masa lalu.
Membaca adalah pencarian ilmu tanpa batas. Dan buku adalah jendela dunia. Kita dapat mengenal dan memahami dunia luar, itu karena kebiasaan membaca.
Dari penjelajahan waktu, telah berabad-abad lamanya dikenal literasi Arab melalui karangan-karangan penulis Jazirah Arab, baik dalam bentuk kitab atau teks indah dalam bentuk majas, kaligrafi dan lainnya. Yang hingga kini sering digunakan dalam karya sastra. Literasi tidak hanya sekadar ilmu pengetahuan, tetapi juga menjadi unsur seni dalam konstruksinya.
Ada yang menarik jika kita lihat dalam peradaban literasi Arab, dalam bertransformasi dengan peradaban kini atau zaman modern. Bacaan yang dikemas dalam kitab-kitab keilmuan, seakan tidak habis-habisnya untuk dikaji dan dipelajari. Setiap tahun, buku-buku yang diterbitkan terus berkembang, meski dalam keprihatinan kita semua, buku cetak mulai ditinggalkan pembaca.
Secara kontekstual, dalam kajian-kajian keilmuan, lebih dikenal dengan literasi ilmu keislaman. Jadi, literasi Islam tidak hanya mencakup budaya dan linguistik Arab, tetapi juga menjadi konteks universal. Artinya, menulis tidak hanya mengenal teknik bacaan, tetapi juga sebagai edukasi pembelajaran dalam keilmuan dan seni.
Tidak semua penulis mampu berliterasi secara baik dan benar. Karena ada aspek keterampilan yang dibutuhkan, agar sebuah karya tulis bisa tersajikan secara runut. Termasuk di dalamnya ada unsur sejarah hingga berabad-abad lamanya. Dalam teori penulisan, ada banyak pengarang yang gagal dalam mengeksplorasi cerita atau naskah. Ini karena sumber referensi terkait sejarah dan analisis sebab-akibat tidak dikuasainya.
Dalam benak pembaca, tentu akan muncul pertanyaan. Apa pentingnya mengenal peradaban dan literasi Arab. Bukankah menulis dapat dilakukan dengan cara sederhana, menuangkan ide dan gagasan dalam pikiran? Tanpa perlu merujuk pada pengetahuan yang berbasis peradaban kuno?
Bukankah kebanyakan penulis, lebih memilih untuk menghadapi tuntutan zaman dan tantangan masa depan? Hanya saja, banyak penulis tidak memiliki tujuan dalam menulis. Mereka menulis hanya karena ingin disebut sebagai penulis. Dan orientasi masa depan digambarkan dalam bentuk-bentuk animasi dan imajinasi liar, hanya untuk mencari kepuasan belaka.
Dalam penjelajahan masa, sejak awal masa peradaban Islam, budaya literasi sudah mulai dikembangkan. Salah satu tokoh perempuan pada masa itu adalah Hafshah binti Umar bin Khattab.
Di era berbeda, seorang tokoh perempuan muslim yang dianggap sebagai pejuang literasi Andalusia, memakmurkan istana dengan memiliki sekitar 50.000 buku. Perempuan itu bernama Lubna yang bekerja sebagai juru tulis pada masa pemerintahan Sultan Abdul al-Rahman III di Kerajaan Andalusia. Lubna tidak hanya menulis dan menerjemahkan, tetapi dia juga seorang ahli matematika. Sejak saat itu ilmu literasi berkembang pesat terutama menulis kaligrafi dan syair/sajak.
Dari riwayat yang ada, disebutkan bahwa peradaban Islam dari tahun ke tahun semakin berkembang pesat. Hingga melahirkan penulis handal yang juga tetap menjaga keutuhan peradaban, dan dianggap sebagai manifestasi ilmu. Sehingga ada slogan yang membenarkan “ilmu tanpa adab adalah sia-sia”. Maka, jika kita menelisik kitab-kitab keilmuan Islam, tidak hanya berorientasi pada objektivitas literasi, tetapi juga selalu diiringi ilmu adab.
Sederet nama dalam sejarah peradaban Islam, meletakkan dasar-dasar keilmuan termasuk teori-teori penulisan, tidak cukup hanya dengan semangat berliterasi. Tetapi juga bagaimana tulisan tersebut bisa bertransformasi menjadi bahan keilmuan sebagai kebutuhan jasmani dan rohani. Antara duniawi dan akhirat.
Bahkan kitab Al-Funun dianggap sebagai peletak peradaban Islam, yang ditulis oleh Ibn Aqil. Kitab ini menjadi mutiara peradaban Islam. Artinya, literasi yang digunakan dalam kitab tersebut seperti memiliki ruh.
Tentu ini bukan untuk membandingkan, tetapi tidak terlepas dari terjadinya perubahan serta pergeseran sosial. Jika berabad-abad lamanya hingga masuk pada awal zaman modern, buku menjadi jendela untuk membaca dunia. Tetapi karena pergeseran ini, fungsi buku cetak mulai ditinggalkan dan beralih pada transformasi digital. Bukan hanya itu, zaman kini mulai mengadopsi revolusi logika. Pikiran dianggap tempat kebenaran.
Tetapi jika kita bandingkan dengan kitab-kitab agama, seharusnya banyak pelajaran yang dapat kita petik. Kitab-kitab agama masih banyak dicetak secara konvensional. Segmen pasar atau pembaca, dalam kondisi bagaimana pun terbilang stabil. Coba kita bayangkan dengan buku-buku fiksi, atau juga buku filsafat. Semakin hari, semakin sepi pembelinya. Ini tentunya akan berbanding lurus dengan budaya minat baca.
Jadi dalam perenungan ini, seharusnya bagi penulis harus bisa membaca perubahan-perubahan sosial yang terjadi. Salah satu cara untuk meningkatkan motivasi menulis dan membaca, adalah menggali sumber-sumber bacaan yang dijadikan sumber referensi penulisan. Sekali lagi, mempelajari literasi Arab tidak harus diartikan sebagai proses memahami Islam.
Menulis seyogianya juga menjadi ruang dalam meningkatkan motivasi dan keterampilan dalam berolah pikir kritis. Harus diimbangi dengan bacaan-bacaan yang mampu mengasah sikap perilaku positif dan berpikir jernih bagi penulisnya. Penulis jangan sampai tidak mengenal dengan riwayat sejarah masa lalu.
Penulis tentu akan menemukan cara dan nasibnya sendiri-sendiri. Tetapi tidak ada salahnya, belajar memahami literasi dan peradaban Islam. Yang banyak digunakan sebagai rujukan oleh penulis-penulis yang berorientasi keilmuan.
Mungkin sedikit aneh dalam pencetakan dan penerbitan buku, yang bertema sastra. Antara pengarang dengan pengarang saling menawarkan buku (jual-beli). Ini menyiratkan bahwa sebagian besar penulis (sastra) di Indonesia tidak memiliki pangsa pasar (pembaca) yang jelas. Sudah saatnya pengarang mengubah perspektif ini.
Kehadiran literasi dan peradaban Islam, dapat membantu membuka khazanah literasi bagi penulis yang sering dibenturkan oleh sumber inspirasi yang minim. Hal lain yang juga menghambat seorang penulis dalam menghasilkan sebuah karya literasi bagus, karena pemikirannya terkungkung oleh sikap pencitraan yang terlalu berlebih-lebihan.
Akhirnya, kini memunculkan teori-teori dalam penulisan yang sifatnya prismatik. Sering kali kita lihat atau dengar perdebatan di seputar teori menulis yang tidak kunjung selesai pada satu titik. Karena orang menganggap karya tulis itu (terutama sastra) adalah pemikiran subjektif.
Merujuk pada Khuttab Arabic: “hidup ibarat sekolah, dan kita adalah murid-muridnya”. Ini bisa menjadi simpulan, bahwa dalam literasi Islam mengajak untuk memahami makna luas dari ilmu literasi.
Simpulan ini memaksa kita belajar dan terus belajar sepanjang napas kita. Belajar menjadi baik; Belajar menjadi jujur; Belajar menjadi diri kita sendiri.
Kita berimajinasi seolah-olah ingin menjadi seorang Rumi, menjadi seorang Chairil Anwar, menjadi seorang Kahlil Gibran, menjadi von Goethe, atau seribu cermin dan bayang-bayang orang lain—tetapi kita tidak akan pernah meninggalkan entitas dan watak diri kita sendiri.
Kita adalah kata-kata terpenggal yang mencari makna sebuah kalimat. Yakni literasi tertinggi: kehidupan!







Leave a Comment