Moderasi Beragama dalam Negara Multikultural: Sebuah Telaah

Qoriatun Nafiah

16/07/2024

8
Min Read
Moderai Multikultural

On This Post

Harakatuna.com – Toleransi merupakan sikap saling menghormati, memahami dan menghargai orang lain dalam lingkup perbedaan agama, ras, budaya, bahasa, dan suku. Dengan adanya toleransi, akan menghilangkan yang namanya konflik antarkomunitas dengan kepercayaan berbeda-beda. Seperti yang kita ketahui, pengertian toleransi memiliki banyak arti. Maka dari itu, penting sekali untuk bisa memahami makna sebenarnya dari kata tersebut.

Dalam keanekaragaman bangsa Indonesia dan perbedaan kebudayaan, potensi untuk memiliki sikap toleransi berada di tengah-tengah. Namun, dengan banyaknya keanekaragaman ini dapat terjalin kerukunan sebagai urgensitas dalam toleransi. Agama yang berada di negara Indonesia ini sejumlah enam dengan kepercayaan terbanyak memeluk agama Islam yang persentase nilainya sekitar 90 persen.

Dengan jumlah minoritas agama selain Islam yang sedikit terkadang masih terdapat gesekan atau perbedaan yang diakibatkan dari ketidaksesuaian dalam menjalankan norma dan nilai yang dianut masyarakat. Kejadian ini membuat cemas masyarakat karena agama tersebut terkesan dapat menjadi sebuah nama.

Konflik seperti ini memang sering muncul dalam masyarakat yang multikultural. Konflik dalam agama juga kerap terjadi di semua lingkup: antarmasyarakat, masyarakat dengan mahasiswa, ataupun mahasiswa dengan mahasiswa. Semuanya dipicu oleh perbedaan dan intoleransi di antara mereka. Islam mengajarkan pentingnya toleransi, sikap dalam menerima perbedaan pendapat, kepercayaan, dan pandangan masing-masing orang.

Seperti kasus yang sedang ramai di perbincangan saat ini, mengarah kepada betapa pentingnya bersikap toleran. Faktor kasus ini mengenai perbedaan keyakinan yang terjadi di kalangan masyarakat dengan mahasiswa. Warga setempat ada yang mengatakan bahwa di daerah tersebut tidak boleh ada kegiatan ibadah umat non-Muslim. Adanya kejadian semacam itu mengakibatkan konflik yang mengatasnamakan pelanggaran atas kebebasan beragama dan berkeyakinan.

Artikel ini dibuat, dengan melihat dari kasus di atas bahwa penting bagi setiap individu untuk memahami konsep dari toleransi sendiri. Bagaimana nantinya ketika terjadi sebuah kasus yang serupa, para individu yang menangani masalah tersebut bisa segera tuntas tanpa memunculkan korban. Proses inilah yang nanti akan memunculkan rasa peduli terhadap sesama tanpa harus melaporkan kepada pihak yang berwajib dengan alasan anti toleransi atau berpaham radikal. 

Keragaman yang terjadi di wilayah Indonesia adalah fenomena mutlak, bersifat sunah yang mempunyai keterkaitan dengan alam semesta dan memang sudah ditetapkan oleh Sang Pencipta. Mereka yang abai dan tidak menerima keanekaragaman ini bisa memunculkan konflik sosial yang berujung pada kekerasan seperti kasus yang sudah dijelaskan di atas. Di sini Kemenag mempunyai tugas untuk ikut andil dalam menjaga kerukunan umat beragama dan persatuan Indonesia dengan muncul salah satu istilah yakni moderasi beragama.

Kata moderasi ini merujuk pada sebuah kata sifat yaitu turunan dari kata moderation atau moderat dengan arti tidak berlebih-lebihan. Dalam Islam nama lain dari moderasi beragama adalah Islam wasatiah yang menjadi garda terdepan menebar kedamaian. Dalam bahasa Indonesia, istilah moderation ini diserap menjadi moderasi yang berarti “anti-kekerasan”. Dari konteks inilah, eks-Menag Lukman Hakim menggabungkan kata moderasi dengan kata beragama yang berarti sikap dalam mengurangi ekstremisme beragama.

Moderasi beragama ini sangat cocok dilakukan di bumi Indonesia dan sudah teruji oleh dinamika sejarah. Dari keberagaman ini kemudian muncul satu semboyan yang dipakai sampai saat ini untuk merekatkan persatuan bangsa yaitu semboyan Bhinneka Tunggal Ika. Di zaman sekarang, Muslim Indonesia yang mengedepankan toleransi mulai berkurang. Fakta ini dapat dilihat dari berbagai macam kasus yang mengatasnamakan agama.

Sebanyak 32 kasus penolakan agama, 17 kasus penolakan pendirian tempat ibadah dan beberapa kasus lainnya termasuk 8 kasus pelarangan aktivitas ibadah. Data ini diambil sepanjang tahun 2020 yang memang pada saat itu persentase kasus kebebasan beragama dan berkeyakinan sangat tinggi.

Untuk data pada tahun 2023 belum dijelaskan secara rinci akan tetapi seperti yang diketahui masih terdapat sikap intoleransi dan kekerasan agama dengan persentase cukup tinggi. Kasus tahun 2023 yang bisa dijadikan pembelajaran untuk ke depannya agar lebih menjaga kerukunan antar semasa agama, ras, suku, budaya, maupun etnis ialah kasus pembubaran paksa ibadah serta penolakan dan perusakan tempat ibadah.

Moderasi beragama dalam bentuk toleransi dijelaskan dalam Surah Al-Baqarah [2]: 143 yang berbunyi:

 وَكَذَلِكَ جَعَلْنٰكُمْ اُمَّةً وَّسَطًا لِّتَكُوْنُوْا شُهَدَاۤءَ عَلَى النَّاسِ وَيَكُوْنَ الرَّسُوْلُ عَلَيْكُمْ شَهِيْدًاۗ وَمَا جَعَلْنَا الْقِبْلَةَ الَّتِيْ كُنْتَ عَلَيْهَآ اِلَّا لِنَعْلَمَ مَنْ يَّتَّبِعُ الرَّسُوْلَ مِمَّنْ يَّنْقَلِبُ عَلٰى عَقِبَيْهِۗ وَاِنْ كَانَتْ لَكَبِيْرَةً اِلَّا عَلَى الَّذِيْنَ هَدَى اللّٰهُۗ وَمَا كَانَ اللّٰهُ لِيُضِيْعَ اِيْمَانَكُمْۗ اِنَّ اللّٰهَ بِالنَّاسِ لَرَءُوْفٌ رَّحِيْمٌ

Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat Islam), umat yang adil dan pilihan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu. Dan Kami tidak menetapkan kiblat yang menjadi kiblatmu (sekarang) melainkan agar Kami mengetahui (supaya nyata) siapa yang mengikuti Rasul dan siapa yang membelot. Dan sungguh (pemindahan kiblat) itu terasa amat berat, kecuali bagi orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah; dan Allah tidak akan menyia-nyiakan imanmu. Sesungguhnya Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada manusia.”

Asbabunnuzul ayat di atas berawal dari penantian Rasulullah akan turunnya perintah untuk memindahkan arah kiblat dari Baitulmaqdis ke Ka’bah. Jalaluddin al-Mahalli dan Jalaluddin as-Suyuti dalam kitab tafsirnya menjelaskan:

{ وكذلك } كما هديناكم إليه { جعلناكم } يا أمّة محمد { أُمَّةً وَسَطًا } خياراً عدولاً { لِّتَكُونُواْ شُهَدَاءَ عَلَى الناس } يوم القيامة أنَّ رسلهم بلَّغتهم { وَيَكُونَ الرسول عَلَيْكُمْ شَهِيدًا } أنه بلغكم { وَمَا جَعَلْنَا } صيرنا { القبلة } لك الآن الجهة { التى كُنتَ عَلَيْهَا } أولاً وهي الكعبة وكان صلى الله عليه وسلم يصلي إليها فلما هاجر أُمِرَ باستقبال بيت المقدس تألُّفا لليهود فصلى إليه ستة أو سبعة عشر شهراً ثم حُوِّلَ { إِلاَّ لِنَعْلَمَ } علم ظهور { مَن يَتَّبِعُ الرسول } فيصدقه { مِمَّن يَنقَلِبُ على عَقِبَيْهِ } أي يرجع إلى الكفر شكا في الدين وظنا أن النبي صلى الله عليه وسلم في حيرة من أمره وقد ارتد لذلك جماعة { وَإِن } مخففة من الثقيلة واسمها محذوف أي : وإنها { كَانَتْ } أي التولية إليها { لَكَبِيرَةً } شاقة على الناس { إِلاَّ عَلَى الذين هَدَى الله } منهم { وَمَا كَانَ الله لِيُضِيعَ إيمانكم } أي صلاتكم إلى بيت المقدس بل يثيبكم عليه لأن سبب نزولها السؤال عمن مات قبل التحويل { إِنَّ الله بالناس } المؤمنين { لَرَؤُوفٌ رَّحِيمٌ } في عدم إضاعة أعمالهم و ( الرأفة ) شدّة الرحمة وقُدّم الأبلغ للفاصلة     

(Demikian pula) sebagaimana Kami telah membimbing kamu padanya. (Kami jadikan kamu) hai Muhammad (sebagai umat yang pertengahan) artinya sebagai umat yang adil dan pilihan, (agar kamu sekalian menjadi saksi terhadap umat manusia) pada hari kiamat bahwa rasul-rasul mereka telah menyampaikan risalah kepada mereka (dan agar rasul menjadi saksi terhadap kamu sekalian) bahwa ia telah menyampaikan risalahnya kepadamu. (Dan tidaklah Kami jadikan kiblat) kamu sekarang ini (menurut arah kiblatmu dulu) yaitu Ka’bah yang menjadi kiblatmu yang mula-mula. Di Makkah Nabi saw. ketika salat menghadap ke sana dan tatkala ia hijrah ke Madinah disuruhnya menghadap ke Baitulmaqdis guna mengambil hati orang-orang Yahudi. Ada 16 atau 17 bulan lamanya Nabi menghadap ke Baitulmaqdis, lalu kembali menghadap ke Ka’bah (melainkan agar Kami ketahui) menurut ilmu lahir (siapa yang mengikuti rasul) lalu membenarkannya (di antara orang-orang yang membelot) artinya murtad dan kembali pada kekafiran disebabkan keraguan terhadap agama dan dugaan bahwa Nabi saw. dalam kebimbangan menghadapi urusannya. Memang ada segolongan orang yang murtad disebabkan ini. (Dan sungguh) ‘in’ berasal dari ‘inna’, sedangkan isimnya dibuang dan pada mulanya berbunyi ‘wa-innaha’, artinya ‘dan sesungguhnya ia’ (adalah ia) yakni pemindahan kiblat itu (amat berat) amat sulit diterima manusia, (kecuali bagi orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah) di antara mereka (dan Allah tidak akan menyia-nyiakan keimanan mereka) maksudnya salat mereka yang dulu menghadap ke Baitulmaqdis, tetapi akan tetap memberi pahala kepada mereka karenanya. Sebagaimana kita ketahui sebab turun ayat ini adalah datangnya pertanyaan mengenai orang yang meninggal sebelum pemindahan kiblat. (Sesungguhnya Allah terhadap manusia) yakni yang beriman (Maha Pengasih lagi Maha Penyayang) sehingga Dia tidak akan menyia-nyiakan amal perbuatan mereka. Ra’fah artinya amat pengasih dan didahulukan agar lebih tepat menemui sasaran.”

Ayat di atas termasuk ke dalam ayat moderasi beragama berasal dari makna ummatan wasatha yang penafsirannya, menurut Ahmad Musthafa al-Maraghi, merupakan sikap umat Islam yang berada di antara dua kubu. Pertama, mereka yang cenderung pada kepentingan dunia seperti kaum musyrikin dan kaum Yahudi. Kedua, mereka yang terbelenggu diri dengan adat kebiasaan atau kepentingan rohani, sehingga hal-hal yang sifatnya duniawi mereka tinggalkan. Kaum Nasrani termasuk ke dalam pengertian ini. Terdapat beberapa penafsiran yang sebagian pengertiannya kurang lebih sama.

Ayat di atas juga memiliki indikator di dalamnya berupa komitmen, toleransi, anti akan kekerasan, dan akomodatif akan kebudayaan lokal. Adanya indikator yang disebutkan sebisa mungkin dapat menumbuhkan rasa nasionalis terhadap negara Indonesia kepada para masyarakat. Urgensi moderasi beragama dalam bentuk toleransi dapat diorientasikan untuk mengurangi dan menghindari sikap fanatisme berlebihan terhadap suatu kepercayaan maupun pandangan yang dianut dalam masyarakat.

Agama adalah hak individu setiap orang, bisa juga dikatakan sebagai pengalaman spiritual yang memiliki identitas dan makna tersendiri bagi setiap pemeluknya. Indonesia mempunyai 633 suku yang memiliki ragam kebudayaan dan bahasa yang berbeda-beda. Konsep seperti ini memberikan kebebasan kepada setiap manusia untuk memilih agama. Islam menjunjung tinggi nilai persatuan dan kesatuan secara universal, baik sesama Muslim maupun non-Muslim.

Kunci utama menjaga persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia adalah dengan toleransi akan keberagaman. Toleransi sendiri memberikan suatu kompensasi atau kesempatan terhadap suatu perbedaan. Toleransi sendiri dapat dibangun melalui jalan pendidikan multikultural karena keduanya tidak dapat terpisahkan.

Pendidikan multikultural ini juga dapat mengakhiri perbedaan mengenai keragaman budaya, suku, bahasa, etnis, dan bahasa. Pendidikan multikultural dapat dilakukan dengan mendalami arti toleransi dalam pembelajaran, mengadakan diskusi tentang ragam kebudayaan, peningkatan kepedulian dalam ranah sosial dan membuka pola pikir mahasiswa agar tidak terjadi echo chamber.

Namun di Indonesia, pendidikan multikultural ini terkenal relatif baru sebagai sebuah pendekatan. Lahirnya pendekatan ini dimulai dari adanya sistem politik yang demokratis pada era Reformasi. Multikulturalisme ini adalah paham yang menekankan pada kesetaraan berbagai budaya lokal tanpa mengabaikan hak-hak dan eksistensi budaya lain. Semangat multikultural ini juga membawa koeksistensi kehidupan yang damai.

Toleransi merupakan fondasi yang sangat penting di negara Indonesia dengan segala keberagaman yang ada. Pemahaman mengenai perbedaan agama, ras, bahasa, suku, dan etnis ini dapat membantu masyarakat Indonesia dalam menghindari konflik yang terjadi. Ketenteraman dalam bermasyarakat akan terjalin dengan saling menghormati tanpa memandang perbedaan yang ada.

Moderasi beragama juga pendidikan multikultural sangat penting ditanamkan dalam masyarakat. Pemahaman tersebut diutamakan untuk generasi muda agar mereka dapat membangun lingkungan yang damai. Indonesia dapat menjadi contoh negara lain bahkan dunia tentang bagaimana sebuah perbedaan dapat dipersatukan dengan Bhinneka Tunggal Ika dengan mengedepankan nilai-nilai toleransi.

Leave a Comment

Related Post