Harakatuna.com – Noor Huda Ismail, Visiting Fellow at S Rajaratnam School of International Studies (RSIS), Nanyang Technological University (NTU), Singapore, mengatakan bahwa pembubaran Jama’ah Islamiyah (JI) adalah upaya menyembunyikan strategi JI sesungguhnya untuk mencapai tujuan yang lebih tinggi.
Strategi Pura-pura JI?
Menurutnya, anggota JI sudah terlatih untuk melakukan strategi apa yang dalam bahasa terorisme disebut dengan cara taqiyyah atau berpura-pura. Mereka berpura-pura membubarkan diri dengan berjanji tidak akan lagi menggunakan jalan jihad kekerasan. Mereka juga mengeklaim bakal meninggalkan pola pikir ekstrem dalam menyebarkan ajaran-ajarannya dan lebih pada jalan yang moderat dan dakwah.
Tujuan lebih tinggi yang dimaksud Noor Huda Ismail apakah memang ke arah bagaimana anggota JI bisa diterima oleh masyarakat dan melebur di dalamnya? Semata hanya ingin mengubah citra agar ajaran mereka dapat diterima masyarakat dan pemerintah? Jika demikian, maka bubarnya JI memang benar-benar patut diwaspadai.
Takutnya jika penerimaan dan kecintaan masyarakat benar terjadi, maka mereka bisa jadi membentuk gerakan baru dengan nama berbeda tapi misinya tetap JI. Dengan demikian, mereka sangat mudah mengotak-atik emosional keagamaan masyarakat dengan cara memengaruhi kebijakan, opini publik, dakwah, pendidikan, dan politik tanpa menimbulkan kecurigaan.
Nasib Lembaga Pendidikan Pasca Bubarnya JI
Pasca bubarnya JI, hari ini mereka sudah bermain isu dengan menyetrumkan opini kebangsaan dan pendidikan kepada publik. Anggota JI berkata bahwa lembaga pendidikannya ingin diganti kurikulum moderat. Karena inilah Kemenag sempat melirik dan meminta untuk digandeng bersama Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT).
Sebab, dalam kurikulum lembaga pendidikan Islam di Indonesia, hanya Kemenaglah yang memiliki reputasi dan kualitas cukup baik di Indonesia. Karena itu, keberadaan 198 lembaga pendidikan JI boleh dirujuk ke Kemenag RI. Supaya, lembaga pendidikan tersebut memiliki kecintaan terhadap Pancasila NKRI, juga bisa cerdas dan mencerdaskan.
Selain itu, kurikulum pendidikan Islam JI yang dulunya berpaham ekstrem, harus diubah menjadi ahlussunah waljamaah. Revitalisasi kurikulum JI ini harus melibatkan ormas keagamaan moderat, lembaga pendidikan negeri dan swasta, intelektual, serta insan segenap lapisan masyarakat.
Jika ini terealiasi, maka program pencegahan bisa dikatakan holistik, komprehensif, dari hulu ke hilir. Bukan sekadar kontra radikalisasi dan deradikalisasi yang seringkali melupakan lembaga pendidikan Islam.
Pasca bubarnya JI, kekhawatiran mendalam saya justru takut hadirnya sempalan JI yang lahir dari lembaga pendidikan. Sebab selama ini, JI sudah memiliki lembaga pendidikan yang subur dan banyak. Anak didiknya juga memiliki kecerdasan dan militansi di atas rata-rata anak sekolah di Indonesia.
Mendesain Lembaga Pendidikan Jama’ah Islamiyah
Sekarang, pembubaran JI adalah momentum bagi JI dan juga bagi warga dan pemerintah Indonesia. Bagi JI, membubarkan diri untuk menjaga aset dan melakukan taktik taqiyyah-nya. Sementara bagi Indonesia, bubarnya JI justru harus disambut baik dengan strategi lebih maju dari biasanya.
Pemerintah Indonesia boleh memegang otak 16 senior anggota JI. Mintai penjelasan tentang target anggota JI di luar sana dan bagaimana peranan mereka sebenarnya. Ini sungguh momentum yang tepat di tengah gusarnya anggota JI di semua tempat di seluruh dunia.
Sementara bagi lembaga pendidikan JI, juga harus diurus dengan tepat dan cepat. Karena jika teledor sedikit, maka Indonesia menghilangkan apa yang mereka tunggu selama ini. Pendidikan JI harus ditarik masuk ke dalam turunan pengawasan pemerintah Indonesia secara ketat dan terarah dengan konsep kebangsaan Indonesia.
Jika terjadi demikian, maka penyakit aktivis jihad itu, menjadi kabar baik bagi warga Indonesia. Anak-anak generasi JI menjadi generasi yang berbeda dengan pendahulunya. Sebelum terjadi aksi-aksi yang sifatnya lone actor dari JI, pemerintah harus selangkah lebih maju, yakni memenangkan apa yang telah dimulai oleh JI. Indonesia harus bisa mendesain ulang lembaga pendidikan Jama’ah Islamiyah dari ekstremisme ke moderatisme.








Leave a Comment