Membendung Manuver HTI di Semua Lini

M. Nur Faizi

12/07/2024

4
Min Read
hti

On This Post

Harakatuna.com – Pada 14 Juni lalu, seorang penceramah kelompok terlarang melakukan perbuatan meresahkan dengan menggelar salat Iduladha di luar waktu ketetapan pemerintah. Mereka menggelar salat Iduladha di Lapangan Keboen Sajoek secara ilegal tanpa mendapatkan izin. Setelah ditelusuri oleh pihak berwajib, ia merupakan oknum ASN aktif dari Dinas Kepemudaan, Olahraga, dan Pariwisata Kota Pontianak dan lulusan IPDN Jatinagor tahun 2000-an.

Setelah lulus, ia mempermalukan negaranya sendiri dengan menyebarkan ideologi Khilafah Tahririyah dan menjadi seorang hizbiyyin—sebutan bagi anggota HT—di Kalimantan. Mereka melakukan aksi propaganda melalui berbagai cara seperti media sosial, majelis taklim, penerbit buku, kajian jalanan, dan lain-lain.

Propaganda tersebut dilakukan lantaran HTI ingin memaksimalkan potensi penyebaran ajaran di semua lini, baik secara daring maupun aktif secara luring dalam kegiatan masyarakat. Potensi HTI untuk menjadi salah satu organisasi besar menjadikan lapisan kepercayaan diri mereka untuk menyebarkan ekstremisme berlipat ganda.

Hingga pada awal tahun 2024, HTI terus berkamuflase melalui beberapa program untuk meraih simpati anak muda. Pada tanggal 19 Februari lalu, di TMII, mereka menggelar acara dengan tajuk “Metamorfoshow: It’s Time to be One Ummah”, tepatnya di Teater Tanah Airku. Kegiatan tersebut bertujuan untuk mempropagandakan ideologi Khilafah Tahririyah oleh HTI.

HTI Tidak Pernah Mati

Perlu diketahui bahwa ideologi yang dianut HTI tidak akan bisa binasa sampai permanen. Hal tersebut dikarenakan, manusia itu seperti rambut dan pemikiran HTI itu seperti kulit rambut. Jadi walaupun kita terus-menerus memotong rambut tersebut tidak akan bisa gundul permanen, karena akan terus tumbuh dengan adanya akar yang kuat dalam kulit rambut tersebut.

Sama halnya dengan ideologi HTI, walaupun pihak aparat telah menangkap para penyebar propaganda khilafah tersebut, ideologi tersebut tidak akan pernah padam karena akan ada seorang penerus yang akan mengajarkan. Mereka terus melakukan regenerasi secara cepat.

Melihat fakta tersebut, maka masyarakat selaku sasaran dari propaganda ideologi tersebut, harus benar-benar jeli untuk membedakan Islam murni dan Islam dengan agenda khusus. Masyarakat harus dituntun menjadi pribadi yang berwawasan kebangsaan, dan menjauhkan diri dari ideologi khilafah.

Menjaga Kebhinekaan

Indonesia adalah negara yang mempunyai berbagai keberagaman masyarakat mulai dari agama, ras, budaya, bahasa, dan suku. Dengan berbagai perbedaan tersebut jangan sampai hanya mementingkan kelompok mayoritas saja karena bisa memicu berbagai konflik-konflik SARA. Oleh karena itu, kita harus bisa merangkul kelompok minoritas untuk menggerakkan persatuan dalam perbedaan tersebut. Indonesia mempunyai ideologi yang bisa mempersatukan berbagai keberagaman tersebut yaitu Pancasila.

Dengan fondasi ideologi Pancasila di Indonesia maka kita bisa hidup bersatu satu sama lain tanpa membedakan kelompok apa pun sehingga bisa meminimalisir terjadinya konflik dalam kehidupan bernegara. Karena, sila pertama mengajarkan bahwa kita harus bertoleransi dalam beragama, mulai dari saling membantu dan menghargai satu sama lain tanpa memandang agama tersebut apa. Dengan bertoleransi kita bisa hidup berdampingan antara kelompok mayoritas dan minoritas dalam negara tanpa mengesampingkan apa pun.

Ideologi HTI hanya menguntungkan satu pihak saja yaitu kelompok mayoritas Islam. Sementara itu, di Indonesia ada berbagai macam agama, sehingga ideologi tersebut tidak cocok jika diterapkan di Indonesia.

Ada salah satu cara untuk mencegah dan menangani propaganda HTI. Pertama, mempelajari lebih dalam mengenai makna dan implementasi Pancasila, khususnya bagi generasi muda Indonesia, karena mereka sangat rentan terhadap berbagai ancaman transnasionalisme.

Seluruh warga negara Indonesia khususnya generasi muda harus bisa mengamalkan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari. Untuk itu, seluruh pemuda harus ikut berkontribusi tanpa memandang status agama atau apa pun sehingga tercipta suatu hubungan yang kuat dalam konteks persatuan dan kesatuan.

Semua masyarakat harus sadar, HTI memiliki ideologi yang ingin mendirikan khilafah Islam global dengan cara mengganti sistem demokrasi dan merombak NKRI. Ideologi semacam itu jelas bertentangan dengan Pancasila dan UUD 1945 yang menjunjung tinggi nilai-nilai demokrasi dan kebhinekaan.

Selain itu, HTI juga memiliki sejarah panjang dalam melakukan kegiatan yang bersifat radikal dan provokatif, seperti demonstrasi anarkis, penyebaran kebencian, dan upaya untuk merekrut anggota baru di kalangan pelajar dan mahasiswa.

Kendati demikian, pemerintah telah melakukan berbagai upaya untuk membendung HTI, seperti pemblokiran website dan akun media sosial HTI, penangkapan anggota HTI yang terlibat dalam kegiatan radikal-ekstrem, dan sosialisasi tentang bahaya HTI kepada segenap masyarakat.

Namun, upaya-upaya tersebut tidak cukup. Masyarakat juga perlu berperan aktif dalam membendung HTI dengan cara meningkatkan wawasan kebangsaan dan kepekaan terhadap ideologi radikal, melakukan kontra-narasi di media sosial, melaporkan kepada pihak berwenang jika menemukan kegiatan HTI yang mencurigakan, dan memperkuat persatuan dan kesatuan bangsa dengan menjunjung tinggi nilai-nilai toleransi dan kebhinekaan.

Intinya, membendung HTI di semua lini adalah tugas bersama. Dengan kerja sama antara pemerintah dan masyarakat, kita dapat menjaga keutuhan NKRI dari ancaman ideologi radikal dan kelompok transnasional perusak NKRI.

Leave a Comment

Related Post