Kenali Cara Wahabi Berargumentasi Biar Gampang Skakmat Mereka

Dr. (c) Khalilullah, S.Ag., M.Ag.

10/07/2024

3
Min Read

On This Post

Harakatuna.com – Melawan Wahabi tentu harus mengetahui cara mereka berargumentasi. Melawan dengan tangan kosong dipastikan akan menuai kekalahan. Kekalahan ini akan menjadi narasi bahwa ideologi di luar Wahabi tidak dapat dipertanggungjawabkan, sehingga dianggap perlu berkiblat kepada pemikiran Muhammad bin Abdul Wahab.

Mengetahui cara berargumentasi Wahabi adalah kunci dasar dalam meng-skatmat Wahabi. Biasanya orang Sunni seperti Kyai Idrus Ramli sudah mengerti cara Wahabi ini berargumentasi. Makanya, beberapa pengikut Wahabi takluk ketika debat dengan Kyai Idrus Ramli, meski mereka tetap berdalih, kekalahan ini bukanlah bukti kesesatan Wahabi.

Cara Wahabi berargumentasi dapat diperhatikan dari tiga hal: Pertama, pola memotong teks-teks yang dikutip. Pola pertama ini bisa dilihat di dalam kitab Al-Tauhid karangan Muhammad bin Abdul Wahab yang memuat pembahasan tauhid, takut kepada syirik, isti’adah, istighasah, syafaat, dan seterusnya. Pada bab-bab ini pendiri Wahabi mengutip ayat Al-Qur’an dan hadis secara sepotong-sepotong.

Pendiri Wahabi itu hanya memberi catatan yang sangat singkat sesuai pemahamannya sendiri, tanpa mengutip pendapat-pendapat ulama secara luas berkenaan dengan penafsiran atas ayat-ayat yang dikutip tersebut, bahkan tanpa menjelaskan sebab turunnya ayat atau hadis yang dipakai. Teks ayat dan hadis hanya dipahami secara tekstual saja. Padahal, memahami teks butuh dilihat dari beragam sisi, agar pemahaman terhadap teks tidak dangkal.

Kedua, pola mendebat atau jadal. Wahabi punya konsep sendiri dalam berdebat. Disebutkan dalam kitab Kasyfu al-Syubhat bahwa dalam membantah lawan hendaknya Wahabi menyebut “katakan juga”; kalau mereka mengatakan begini “kita jawab” begini; dan sebagainya. Wahabi pada bagian ini memperlihatkan kepada lawan debatnya bahwa mereka memiliki argumentasi lain yang lebih benar. Tentu, mereka menggunakan ayat dan hadis yang mendukung terhadap argumentasinya, meskipun teks yang dikutipnya tidak sempurna.

Pembacaan terhadap teks, baik ayat maupun hadis, secara parsial jelas menyesatkan. Karena pembacaan seperti ini hanya disesuaikan dengan kepentingan hawa nafsu si pembaca saja tanpa berusaha mengetahui maksud pengarang teks. Semestinya, Wahabi lebih dalam ketika membaca teks. Pahami teks di sisi munasabah (hubungan teks), sabab nuzul (kronologis turunnya ayat), semantik, dan seterusnya.

Ketiga, pengutipan tokoh-tokoh yang mendukung terhadap argumentasinya. Biasanya Wahabi banyak mengutip pendapat Ibnu Taimiyah dan Ibnu Qayyim. Karena, kedua tokoh ini pendapatnya banyak bersesuaian dengan argumentasi Wahabi. Hal ini dapat dilihat dari kitab Mufid al-Mustafid fi Kufr Tarik al-Tauhid. Pada kitab ini pendapat Ibnu Taimiyah dan Ibnu Qayyim banyak dikutip dan didukung.

Memilih tokoh-tokoh atas dasar pendapat-pendapatnya bersesuaian dengan selera Wahabi jelas tidak objektif. Semestinya, Wahabi jika berpegang kepada kebenaran harus objektif. Mereka harus melihat pendapat-pendapat tokoh-tokoh lain, meski tidak sesuai dengan pemikirannya. Karena, kebenaran yang objektif tidak diintervensi oleh subjektivitas seseorang dan ini kebenaran yang sesungguhnya.

Sebagai penutup, setelah memahami cara berargumentasi Wahabi, kita sudah punya bayangan untuk meng-skakmat mereka. Paling tidak kita tahu bahwa argumentasi Wahabi tumpul dan dangkal. Sehingga, tidak layak dijadikan pedoman bagi umat Islam. Dan, argumentasinya mudah dipatahkan. Saran saja, Wahabi hendaknya segera hijrah dari cara berpikir parsial, tekstual, dan fanatik, agar tidak jadi bulan-bulanan publik.[] Shallallahu ala Muhammad.

Leave a Comment

Related Post