JI Bubar: Awas Organisasi Sempalan Terorisme dan Respons Aksi Teror!

Ahmad Khairi

09/07/2024

6
Min Read
JI Bubar

Harakatuna.com – Postingan Direktur Eksekutif Jaringan Moderat Indonesia Islah Bahrawi di Instagram tentang bubarnya JI mendapat banyak tanggapan menarik. Islah mengunggah foto deklarasi pembubaran JI akhir Juni lalu di Bogor. Ia mengapresiasi Densus 88 atas kinerja menyadarkan JI, baik melalui hard approach maupun soft approach selama dua dekade lebih. Islah juga mencatat, kewaspadaan perlu berlanjut terutama pada transnasionalisme.

Bubarnya JI memang menarik bagi berbagai pihak. Pada postingan Islah, rata-rata komentar justru menunjukkan kekhawatiran serius: bagaimana kalau JI yang tanpa bentuk menyusup ke berbagai ormas, bagaimana kalau JI semakin susah dideteksi gerilyanya, bagaimana kalau tobatnya ideolog JI hanya pura-pura, hipokrisi pembubaran, mutasi kelompok teror, pergantian nama organisasi, dan ratusan komentar lainnya.

Mengapa banyak warganet khawatir dan pesimistis memandang bubarnya JI? Setidaknya ada dua alasan. Pertama, eksistensi ideologi teror dan potensi transformasinya dari masa ke masa. Dalam sejarahnya, JI merupakan metamorfosis dari NII, yang di Indonesia saling berkelindan dengan kelompok teror lainnya, yakni MMI, JAT, JAK, dan lainnya. Masyarakat kemudian punya keyakinan bahwa sebagai ideologi, terorisme tidak akan punah.

Kedua, rekam jejak JI itu sendiri. Ini sudah dibahas pada tulisan sebelumnya. Kesangsian-kesangsian pada JI ditengarai oleh berbagai aksi JI selama ini, yang menjelma sebagai kelompok teror paling mematikan di Indonesia. Dua alasan inilah yang membuat orang-orang pesimis, dan menganggap bubarnya JI hanya akan melahirkan dua fenomena, yaitu kelompok sempalan JI dan aksi teror di berbagai daerah sebagai respons ketidaksetujuan.

Maksud dari respons ketidaksetujuan adalah bahwa deklarasi oleh enam belas petinggi JI di Bogor kemarin adalah sikap para pimpinan pusat JI. Kendati para ikhwan JI yang tanda tangan di situ adalah orang-orang berpengaruh JI dan akan diikuti bawahannya, tidak menutup kemungkinan akan ada ikhwan lainnya di daerah, misalnya di Poso, yang akan mengekspresikan ketidaksetujuannya melalui aksi teror. Waspadalah.

JI dan Dakwah Terbuka Kaum Jihadis

Ada paradoks yang perlu disadari bersama bahwa ketika “JI bubar”, maka “dakwah terbuka eks-JI” secara otomatis dimulai. Artinya, pembubaran tersebut tidak selamanya berdampak positif—sebagaimana yang warganet khawatirkan—dan justru dapat menjadi awal dari malapetaka baru. Dan yang perlu digarisbawahi, dakwah terbuka kaum jihadis jelas bukan gagasan baru, dan justru telah JI lakukan selama satu dekade terakhir.

Dakwah terbuka jihadis yang dimaksud ialah diseminasi ideologi melalui pendidikan. Laporan Institute for Policy Analysis of Conflict (IPAC) berjudul “Is This The End Of Jemaah Islamiyah?” menemukan bahwa basis intelektual JI telah bergerak ke arah mengakhiri kekerasan dan gerakan bawah tanah. JI kemudian fokus pada dakwah dan pendidikan selama bertahun-tahun. Pada 2009, misalnya, JI mendirikan Majelis Dakwah Umat Islam.

Ketika itu, Abu Rusydan, yang memimpin deklarasi pembubaran JI kemarin, berpendapat bahwa JI tidak akan bisa mempertahankan eksistensi dan gerakannya tanpa dukungan masyarakat—dan faktanya masyarakat tidak akan mendukung kekerasan dan terorisme. Lalu pada 2010, Para Wijayanto, amir JI saat itu, melarang JI ikut pelatihan militer di Aceh karena hanya semakin mengikis dukungan masyarakat lokal.

Apakah komitmen JI lantas solid ketika itu? Ternyata tidak. Sempalan JI yang dipimpin Noordin M. Top tetap ikut i’dād ‘askarī di Aceh. Sementara, Para dan JI arus utama menggerakkan JI ke arah yang lebih moderat, memisahkan JI dari penggunaan kekerasan di Indonesia namun tetap mempertahankan komitmennya terhadap Daulah Islam. Mereka hanya akan bergerilya ketika pendirian Daulah tersebut dirasa sudah dekat.

Selain itu, Para juga mendukung transformasi strategi ke yang lebih politis: membentuk partai politik atau bergabung dalam koalisi dengan islamis lain secara terang-terangan namun halus. Transformasi dakwah JI dari bawah tanah (underground movement) menuju dakwah terbuka itulah puncak tekanan atas JI: eliminasi atau kerja sama. Dan para kaum jihadis lebih memilih menyelamatkan aset tanpa mengganti cita-cita ideolognya.

Para pemimpin JI dihadapkan pada dilema. Jika mereka tetap bergerilya, tidak hanya anggotanya yang akan terus diburu dan ditangkap, tetapi juga pesantren dan aset-aset lainnya akan disita. Abu Rusydan, Arif Siswanto, Para Wijayanto, Bambang Sukirno, dan Abu Fatih pun akhirnya sepakat membubarkan JI. Apakah untuk menyudahi terorisme? Tentu saja tidak, melainkan untuk memulai dakwah terbuka kaum jihadis.

Lahirnya Organisasi Sempalan JI

Penting dicatat bahwa, JI adalah hasil metamorfosis NII dan Mujahidin Afghanistan. Seiring waktu, JI juga telah melahirkan beberapa organisasi sempalan, yang lahir karena friksi antar-ikhwan yang tidak setuju dengan dinamika JI itu sendiri. Baik secara langsung atau tidak, JI dapat disebut sebagai genealogi beberapa kelompok teror di Indonesia, seperti JAD, JAT, JAK, JAS, hingga Mujahidin Indonesia Timur (MIT).

Ada banyak alasan mengapa JI melahirkan banyak kelompok teror sempalan. Friksi strategi ideologis, karisma pemimpin atau amir, tekanan pemerintah lewat penangkapan, dinamika konflik internal, fluktuasi situasi regional dan global, serta kelangsungan hidup organisasi adalah alasan-alasan utama. Setiap kelompok sempalan lahir karena ketidakpuasan terhadap strategi dan orientasi JI, di samping cekcok ideologis dan taktik operasionalnya.

Karena itu, tidak heran ketika Irfan S. Awwas—dedengkot kelompok teror MMI—mengejek para deklarator pembubaran JI sebagai ikhwan-ikhwan pragmatis. Label “pragmatis” di situ boleh jadi sebagai tuduhan bahwa JI memperoleh keuntungan dari pembubaran mereka. Namun, labelisasi tersebut juga bisa dipahami sebagai sinyal ketidakseriusan pembubaran di satu sisi dan potensi lahirnya sempalan JI di sisi lainnya.

Kapan sempalan tersebut akan tampil ke permukaan? Tidak terprediksi. Yang jelas, seperti dilaporkan IPAC, “the emergence of a splinter group is possible, but probably not immediately.” Jadi tidak bisa dipastikan kapan kelompok atau organisasi sempalan JI akan muncul, namun kemungkinannya besar. Kelahirannya pasti punya pertanda, di antaranya aksi teror mendadak sebagai reaksi sebagian ikhwan JI yang menentang pembubaran.

Lantas apa yang perlu dilakukan saat ini? Laporan IPAC menyatakan kesimpulan menarik yang bisa menjawab pertanyaan ini. Disebutkan di situ,

For the moment, then, the likely result is the flourishing of JI-affiliated schools and the increasing involvement in public life of the men who signed the 30 June statement. What happens to the rest of the membership remains to be seen.”

Sebelum lahirnya kelompok sempalan, laporan IPAC tersebut memberikan clue bahwa, pertama, pesantren akan menjadi basis gerakan JI dan ideologinya ke depan, dan kedua, para tokoh JI yang deklarasi kemarin akan dapat panggung di depan publik dan berdakwah secara terang-terangan. Ihwal sempalan JI, yang bisa dilakukan hari ini adalah remains to be seen, mengamati dinamikanya setiap waktu.

Tentu, kinerja Densus 88 dalam kontra-terorisme dan deradikalisasi wajib diapresiasi. Segala kesangsian dan perlunya kewaspadaan tentang respons aksi teror oleh JI yang menentang pembubaran atau lahirnya kelompok sempalan mungkin dapat diringkas melalui pernyataan, “kita bukan tidak percaya Densus 88, tetapi rekam jejak jihadis-teroris cukup kuat untuk memantik keraguan”. Tetap waspada dan mawas diri dengan aksi teror sekitar!

Wallahu A’lam bi ash-Shawab…

Leave a Comment

Related Post