Harakatuna.com – Nama organisasi Jama’ah Islamiyah (JI) yang selama ini disebut-sebut menjadi musuh pemerintah karena merupakan organisasi teror di Asia Tenggara, terutama di Indonesia mengumumkan pembubaran diri dan meminta maaf kepada publik. Fakta mengejutkan ini membuat gempar masyarakat, sebab secara logika, publik terus mempertanyakan apa alasan di balik pembubaran tersebut.
Pembubaran ini, juga perlu terus disyiarkan kepada publik mengingat bahwa, terorisme sampai hari ini masih menjadi tantangan besar bagi sebuah negara, terutama Indonesia yang menjadi salah satu negara darurat terorisme.
Artinya, kesimpulan awal yang bisa kita ambil dari pembubaran tersebut adalah, terorisme di Indonesia akan semakin mengecil mengingat salah satu organisasi teror terbesar sudah menyatakan sikap pembubarannya. Meski begitu, menarik untuk ditelisik ketika alasan di balik pembubaran tersebut yakni demi merealisasikan wasiat pendirinya, Abdullah Sungkar, yang tidak menjadikan pemerintah Indonesia sebagai sasaran jihad.
Terlepas dari berbagai spekulasi yang datang dari masyarakat, menarik untuk kita telisik sosok Abdullah Sungkar, yang bisa kita sebut sebagai otak di balik pergerakan JI. Namanya tentu tidak asing dalam lingkaran terorisme di Indonesia, sebab sosoknya satu sirkel dengan Abu Bakar Ba’asyir, dedengkot dari terjadinya berbagai aksi teroris di Indonesia.
Abdullah Sungkar dan Abu Bakar Ba’asyir adalah dua sejoli yang mendirikan Pondok Pesantren Al-Mukmin. Tentu, ini tidak lepas dari peran beberapa tokoh lain seperti Abdullah Baraja, Yoyok Rosywai, Abdul Qohar H. Daeng Matase, dan Hasan Basri. Pondok Pesantren Al-Mukmin Ngruki yang terletak di Sukoharjo, Jawa Tengah berdiri sejak tahun 1972 menjadi sorotan pemerintah lantaran pendirinya adalah orang yang menolak Pancasila sebagai asas tunggal Pancasila.
Sebagai keturunan Yaman, baik Abdullah Sungkar ataupun Abu Bakar Ba’asyir merupakan sosok yang kritik terhadap kekuasaan. Akan tetapi di sisi lain, pesantren ini dianggap sarang teroris karena banyak sekali alumninya terlibat dalam jaringan terorisme. Bahkan sampai hari ini, kalau kita telisik lebih jauh, para alumni pesantren ini perlu terus dikawal pergerakannya karena masih banyak terlibat dalam jaringan terorisme. Bahkan sejak puluhan tahun berdirinya, baru tahun 2022 silam, pondok pesantren tersebut merayakan upacara untuk pertama kalinya.
Siapa Abdullah Sungkar?
Nama Abdullah Sungkar sebenarnya memiliki nama lengkap Abdullah bin Ahmad bin Ali Sungkar. Ia adalah keturunan dari seorang pedagang dari Hadramaut, yang lahir di Solo pada tahun 1937. Ahmad Sungkar, ayahnya sebelum migrasi ke Indonesia, pernah menikah dan dikaruniai 1 orang anak. Namun, setelah tinggal di Indonesia, ia menikah dengan perempuan asal Jombang, Jawa Timur dan lahirlah Abdullah Sungkar sebagai anak tunggal.
Tinggal di kampung Arab, membuat kehidupan sehari-harinya cukup terjamin dari segi ekonomi ataupun pengetahuan agama. Ia belajar pada lembaga pendidikan formal mulai dari Taman Kanak-Kanak hingga SLTA selalu di pendidikan Islam di TK, SD, sekolah di Al-Irsyad. SMP di Islamic School. Adapun SMA di Muhammadiyah Surakarta. Perjalanan pendidikannya tidak sampai perguruan tinggi. Meski begitu, karena kebiasaan dan lingkungannya yang cukup religius dan berpendidikan, ia menjadi pribadi yang terus belajar.
Semangatnya dalam dunia sosial terus diasah. Hal ini dibuktikan dengan terlibatnya dalam organisasi kepemudaan yakni bergabung dengan Kepanduan Al-Irsyad, kemudian Gerakan Pemuda Islam Indonesia (GPII). Dalam karir politiknya, ia menjadi anggota Masyumi. Meskipun dia berkiprah dengan menjadi da’i tanpa menjadi politisi, masuknya ke Masyumi, tidak membuatnya berjuang untuk mendirikan negara Islam melalui Partai Masyumi.
Sikap kritisnya terhadap penguasa, termasuk penentangannya kepada Pancasila, membuat dia keukeuh untuk menerapkan hukum Islam di Indonesia. Baginya, hanya Allah yang memiliki hak untuk membuat undang-undang, sedangkan manusia tidak memiliki kemampuan untuk membuat peraturan. Pemikiran itulah yang membuat dirinya memperjuangkan hukum Islam agar ditegakkan di Indonesia.
Perjalanan hidup yang dijalani dengan penuh penentangan terhadap Pancasila dan bersikeras menegakkan hukum Islam di Indonesia, membawa dirinya pada pertemuan dengan Kahar Muzakkar, tokoh DI/TII yang membentuk Republik Persatuan Indonesia, sebuah negara Islam yang melibatkan kekuatan di Jawa Barat, Sulawesi Selatan dan Sumatera Selatan. Dari sinilah bibit penentangan itu muncul yang akhirnya membuat ia mendirikan Jama’ah Islamiyah.
Dari sejarah inilah kita tidak perlu heran apabila Jawa Barat menjadi salah satu wilayah yang kerapkali menjadi ladang dari kelompok-kelompok radikalisme. Tahun 1976, ia bergabung dengan kelompok NII dengan menjadikannya sebagai afiliasi Jama’ah Islamiyah, hingga akhirnya memisahkan diri.
Pada tahun 1985, di mana keamanaan dan kebebasan berpendapat menjadi barang mahal, ia kabur ke Malaysia untuk menghindari penangkapan yang bisa dilakukan oleh pemerintah. Namun, pada tahun 1999 ia kembali lagi ke Indonesia, setelah lengsernya Soeharto. Sayangnya, ia mendadak terkena serangan jantung yang akhirnya meninggal pada 24 Oktober 1999.
Kepergian tersebut membawa kisah yang masih belum selesai, di mana JI dan seluruh kader yang ada di dalamnya masih dalam proses perjuangan. Kader-kader militan JI terus mensyiarkan dakwah ataupun gerakan hingga sampai hari ini, menyatakan sikap pembubaran sebagai organisasi. Apakah ini tanda terorisme di Indonesia akan punah? Belum tentu. Wallahu A’lam.








Leave a Comment