Harakatuna.com – Tadi malam saya berjumpa dengan Pimpinan Redaksi Harakatuna.com, Ahmad Khoiri. Katanya, rubrik Inspiratif yang tayang saban hari Jum’at tidak perlu dilanjutkan. Alasannya simpel, jumlah tulisan dengan pelaku teror tidaklah seimbang. Lebih banyak jumlah tulisannya dibandingkan para teroris. Jadi, tulisan inspiratif yang tayang setiap Jum’at tampak “repetitif”, mengulang pembahasan yang sudah-sudah.
Padahal, kolom Inspiratif bukan hanya memuat kisah eks napi teroris, tetapi eks radikalis yang meliputi eks-returnis ISIS, eks-HTI, dan eks-Wahabi. Maka, ruang lingkup kisah eks radikalis masih banyak yang belum dibahas, sehingga tidak benar klaim kolom Inspiratif mengalami pengulangan. Semisal, pada tulisan ini akan dibahas kisah keterlibatan Agaton Kenshanahan (berikutnya disebut Agaton) dengan ustaz Wahabi.
Agaton adalah seorang mahasiswa yang gemar mengikuti kajian keagamaan. Dia pernah mengikuti kajian kiai NU di kampung saat Maulid, liqa’/mentoring ala teman-teman Tarbiyah, menonton ceramah Ustaz Felix Siauw yang (eks) HTI itu di YouTube, hingga mencatat-catat apa yang disampaikan ustaz di kajian Salafi. Dia mencoba membuka pikirannya dengan terjun langsung sebelum memberikan penilaian: positif atau negatif dari kajian tersebut.
Baru-baru ini Agaton mengaku menghadiri forum kajian ustaz Wahabi, Firanda Andirja. Waktu itu Firanda mengisi kajian di Masjid Al-Ukhuwah dekat Balaikota Bandung. Dia lebih tertarik menghadiri langsung kajian ustaz Wahabi ini, meski kajiannya sudah tayang di YouTube. Bahkan, jemaah yang hadir di sana terbilang banyak. Buktinya, area parkiran dipadati dengan kendaraan jemaah dan masjid penuh dengan kurang lebih 3.500 jemaah.
Rata-rata jemaah yang hadir di kajian Firanda jelas berbeda dengan jemaah di kajian kiai NU. Jemaahnya berjanggut, celana cingkrang, berpakaian rapi lengkap dengan peci, dan baunya wangi. Mereka biasanya menenteng tas kecil yang isinya pulpen dan buku untuk mencatat isi kajian. Tak lama kemudian, kajian dimulai tepat setelah shalat Maghrib.
Ustaz Firanda datang membawa kitab yang diletakkan di atas sebuah meja. Dia lalu membahas mengenai pengantar kitab hadis Shahih Bukhari. Dia menceritakan mengenai biografi Imam Bukhari secara mendalam dan gamblang. Dari soal kepribadian, sebab penulisan kitab hadisnya yang jadi rujukan ulama, hingga kontroversi Imam Bukhari dengan gurunya sendiri, Muhammad bin Yahya adz-Dzuhli.
Ustaz Firanda menukil kisah ulama hadis tersebut dari kitab syarah atau penjelasan Shahih Bukhari yakni Fathul Bari yang dipegangnya hampir sepanjang kajian. Hal ini membuat Agaton yakin kalau kajian yang disampaikan ustaz Wahabi itu tidak minim referensi.
Selain itu, Firanda membahas bagaimana Imam Bukhari mengambil ilmu dari para guru. Disebutkan bahwa Imam Bukhari mencatat hadis dari 1.080 guru, tidak seorang pun dari mereka kecuali ahli hadis dan Imam Bukhari juga tidak mencatat kecuali dari guru (kalangan ahlussunnah) yang mengatakan iman itu perkataan dan perbuatan.
Melalui penjelasan yang Agaton tangkap, Firanda sedang menekankan keterbukaan berpikir dengan membuang jauh-jauh fanatisme. Sebab, katanya, fanatisme timbul karena keterbatasan dalam berguru. Sehingga, orang yang fanatik melihat kebenaran sebatas dari satu guru saja. Padahal, kebenaran itu terbuka lebar dari guru-guru yang lain. Ini yang membuat Agaton tidak pilih-pilih guru. Dia berguru kepada semua aliran, baik kiai NU maupun ustaz Wahabi.
Sebagai penutup, langkah Agaton dalam menerima ilmu bisa dikatakan bagus. Karena, dia mampu menyaring mana informasi yang benar dan mana informasi yang salah. Ilmu, bagi Agaton, tetap ilmu, meski disampaikan oleh orang yang fasik. Selagi itu ilmu, maka ambillah. Meski disampaikan oleh seorang ulama, jika itu fitnah, maka hindari.[] Shallallahu ala Muhammad.
*Tulisan ini disadur dari cerita pengamat kajian keagamaan Agaton yang dimuat di media online Kumparan.com








Leave a Comment