Transformasi Digital dan Eksistensi Literasi Sekolah

Saiful Bahri

29/06/2024

4
Min Read
Literasi Digital

On This Post

Harakatuna.com – Pendidikan formal dan pesantren merupakan tempat berliterasi ternyaman di dalam mengajarkan etika moral untuk sedikit menyinggung persoalan-persoalan transformasi digital. Dengan asumsi baik, paling tidak instansi sekolah dan madrasah-madrasah mampu mengarahkan dan mengembangkan siswa-siswinya cinta literasi. Dengan kata lain bagi mereka-mereka yang saya kira memang betul-betul mau mendalami budaya literasi.

Arus percepatan digitalisasi dan arus transformasi media sosial menjadi hal yang tak bisa diterjemahkan ke dalam bahasa. Semua hal yang terjadi saat ini selalu saja dikait-kaitkan dengan minimnya literasi sekolah. Tanpa berpikir panjang saya sedikit ingin merangkum hal-hal yang terjadi di madrasah-madrasah.

Saat ini, literasi digital sudah menjadi mudah dinikmati di mana saja dan kapan saja. Milenial dan Gen Z dengan mudahnya mengakses apa saja. Apa lagi generasi Alpha yang saya pikir lebih aktif di media sosial jauh lebih tinggi dari generasi sebelumnya.

Jika ini dibiarkan begitu saja tanpa ada pengawasan dari orang tua, maka yang terjadi adalah penyalahgunaan dalam bermedia sosial yang sebenarnya. Ini yang penulis khawatirkan di masa tahun yang akan datang. Karena digital, katakanlah gadget sudah tidak bisa ditinggalkan bagi generasi Alpha. Apakah ini buruk, tidak selagi kita paham batasan-batasan kaidah tertentu.

Perspektif saya untuk memajukan anak bangsa paham terhadap norma bermedia sosial dan sedikit amanah dalam menerjemahkan mutu berliterasi adalah mampu selektif dalam memilih konten mana yang dikira penting.

Maka di sini yang saya pikir pentingnya beretika di dalam menghadapi amukan zaman. Apakah literasi itu hanya kemampuan membaca dan menulis seperti di kamus? Secara gamblang memang iya. Tetapi literasi yang ideal adalah mereka-mereka yang mau membaca dengan intensif lalu mengembangkan dan mengamalkan apa yang dibaca ke jalan yang sebenarnya. Demikian pula dengan menulis, mampu tidak menulis sesuatu untuk menginspirasi orang lain tapi yang menulis sudah duluan mengedepankan marwah penting dalam tindakannya.

Urgensi Akhlak Berliterasi

Eksistensi literasi sekolah sudah saatnya kita perbaiki, melihat persoalan minat baca bagi Gen Z yang memang rendah dan juga minat untuk mendalami literasi yang sangat minim menjadi alasan yang utama.

Sebetulnya saya ingin mengajak pembaca mengingat inisiatif kesiswaan yang ada di lembaga tempat saya mengabdi sekitar dua tahun yang lalu, bahwa mading di depan kelas hampir satu tahun tidak berjalan. Itu semua dikarenakan ketertarikan siswa membaca dan menulis sangat rendah. Jadi hal yang perlu dipersiapkan adalah mengajak para pegiat literasi mengayomi anak didiknya di masing-masing jenjang untuk tahu apa itu literasi. Itulah jawaban yang saya pikir mampu merubah mindset dari persoalan inti yang ada.

Ketika dianalisis, ternyata siswa tidak melulu disalahartikan dengan alasan yang tidak nyata. Tetapi lebih kepada visioner dan adaptasi siswa di dalam berkarya sebenarnya. Iya kalau tahun 2000-an dulu, di mana android masih belum merata. Jadi wajar kalau anak didik kita di sekolah mau mengisi mading dengan karyanya.

Maka hal yang sangat memungkinkan adalah ajari mereka-mereka untuk menyikapi media massa. Karena kalau ini dibiarkan justru malah mengganggu masa depan siswa-siswi di masa-masa yang akan datang. Di sini pentingnya literasi sekolah untuk serius dan paham informasi sehingga mereka-mereka bukan hanya tahu tapi lebih dari itu adalah mampu membedakan mana informasi yang benar dan mana pula informasi hoaks.

Di madrasah tempat saya mengabdi, setiap hari Senin di waktu jam istirahat, dan ini sudah berjalan satu tahun lebih siswa diajak oleh kesiswaan untuk berdiskusi tentang kaidah pentingya berliterasi. Tujuannya apa, untuk mencerahkan ideologi makna literasi akhlak yang sebenarnya. Apa itu akhlak berliterasi, akhlak berliterasi adalah paham kode etik mengirim karya tanpa harus plagiasi dan menyadur karya dari orang lain serta menjauhi copy-paste dari tulisan karya orang lain. Sekali lagi inilah pentingnya akhlak berliterasi.

Berawal dari kekosongan sekolah di atas, maka muncul ide ini untuk kemudian bagaimana anak-anak generasi muda di sekolah bisa bersaing di jagat raya. Dengan cara apa? Dengan cara mengirim karya ke media massa. Ternyata ini lebih menantang kepada siswa. Seperti halnya diajari dan diperkenalkan untuk mengenal media Harakatuna, misalnya. Itu jauh lebih bangga bagi Gen Z yang native digital daripada hanya stagnan tanpa maju satu langkah lagi.

Makanya, saya dan kesiswaan tidak segan-segan untuk memperkenalkan Harakatuna kepada penggerak dan pegiat literasi yang ada di sekolah guna menambah wawasan mereka ke arah jalan kemajuan. Terakhir yang mesti saya katakan kepada mereka di lingkaran mereka-mereka adalah media Harakatuna, bahwa media pembaharu ini mampu beda dari yang lain. Karena ia memberikan kebebasan bagi mereka untuk memilih membaca apa memutar isi bacaan agar bisa didengar. Ini yang saya pikir menarik untuk selalu diperkenalkan bagi mereka.

Yang paling akhir, semoga saja perspektif ini bermanfaat bagi pembaca Harakatuna yang saya pikir selalu kaya akan khazanah ilmu pengetahuan. Sebenarnya saya sudah lama mengenal media Harakatuna, bahkan sudah saya masukkan list media di dinding Facebook saya atas nama Saiful Bahri guna dibaca anak bangsa, tapi baru kali ini saya berani menulis di laman Harakatuna.

Leave a Comment

Related Post