Harakatuna.com – Kata siapa kurikulum pendidikan khilafah merupakan jantung sistem pendidikan Islam? Terlalu banyak kecerobohan untuk mengatakan bahwa pendidikan khilafah menjadi sesuatu yang bermanfaat bahkan menjadikan anak berprestasi.
Memang aktivis khilafah selalu berkata bahwa sistem pendidikan khilafah tersusun dari sekumpulan hukum syarak yang terpancar dari akidah Islam. Tapi faktanya, sampai hari ini tidak ada pendidikan dari mereka yang sukses mengantarkan santrinya ke podium prestasi bahkan dalam tingkat lokal pun.
Sekadar Bumbu Penyedap
Bila hanya nama Islam dijadikan sebagai bumbu peracik dalam pendidikan khilafah, Kemenag telah menjalankannya dari dulu. Dan kurikulum pendidikan dari Kemenag lebih berhasil dari sekolah yang didirikan aktivis khilafah.
Kurikulum ciptaan Kemenag juga mencakup ajaran Islam, metode pengajaran, metode berpikir, susunan waktu, dan jam pelajaran beserta kompetensi yang harus dicapai. Semua itu demi membentuk kepribadian islami, pola pikir (akliah) dan jiwa (nafsiah) bagi para santri.
Berbeda dari kurikulum pendidikan Khilafah, Kemenag merancang santri untuk menjadi penguat ajaran Islam yang moderat, dan memiliki keislaman yang kuat, baik dari aspek pola pikir maupun sikap. Oleh karenanya, kurikulum pendidikan Kemenag disusun dan dilaksanakan demi merealisasikan secara baik dan kontekstual.
Sementara kurikulum pendidikan khilafah, hanya menanamkan pendidikan berupa akidah, pemikiran, dan perilaku siswa sebagai kelanjutan dari paham khilafah. Kurikulum ini hanya mempersiapkan anak-anak kaum muslim agar menjadi generasi penerus sistem khilafah.
Tugas Pendidikan
Padahal, tugas pendidikan bagaimana mempersiapkan anak-anak menjadi pakar ilmu, baik ilmu-ilmu keislaman (ijtihad, fikih, dan peradilan), maupun berbagai bidang sains (teknik, kimia, fisika, dan kedokteran). Dan yang lebih penting bermanfaat bagi segala makhluk.
Adalah rayuan semata jika kurikulum pendidikan khilafah bisa memecahkan berbagai persoalan kehidupan. Sementara mereka tidak peka terhadap kehidupan sekitar. Mereka belum mampu memberi solusi secara detail dan cermat, baik bagi persoalan yang mudah maupun sulit. Bahkan para pendirinya masih mengidap cara berpikir yang tekstual.
Saya rasa, kurikulum pendidikan khilafah hanyalah bualan. Dia tidak bisa berfungsi apa-apa selain untuk mewujudkan pendirian khilafah. Dia bahkan tidak bisa menjawab berbagai tantangan persoalan pendidikan di sepanjang zaman, termasuk abad ini.
Penerapan kurikulum khilafah ini adalah satu-satunya jalan untuk merusak generasi bangsa. Bukan untuk mewujudkan pendidikan berkualitas, sekaligus mengakhiri kedamian umat Islam.
Hadirnya kembali perbincangan mengenai pendidikan khilafah, berikut politik dan sistemnya, adalah perkara yang rusak dan merusak bagi kehidupan umat Islam di Indonesia. Oleh karenanya, wacana, narasi, dan ide ini harus kita tolak.








Leave a Comment