Wajibnya Membasmi Radikalisme Hingga ke Akar-akarnya

Dr. (c) Khalilullah, S.Ag., M.Ag.

24/06/2024

3
Min Read

On This Post

Harakatuna.com – Apa yang kita dapatkan setelah kontra narasi terhadap radikalisme dilakukan? Apakah radikalisme tumbang? Apakah radikalisme tidak muncul lagi di Indonesia? Penting kita merenung sejenak setelah usaha demi usaha telah kita lakukan. Paling tidak mengevaluasi usaha deradikalisasi yang kita lakukan. Agar kegagalan di masa lalu tidak terulang kembali di masa depan.

Semenjak deradikalisasi dilakukan, terlebih melakukan kontra narasi di beberapa media sosial, radikalisme sedikit banyak berkurang. Buktinya, organisasi Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) berhasil dibubarkan dan aksi-aksi terorisme sudah lama tidak terdengar lagi. Namun, pembubaran HTI dan berhentinya aksi terorisme bukan lantas ideologi radikalisme sudah mati. Jika kita telusuri, masih banyak benih radikalisme yang hidup dan eksis.

Benih radikalisme yang mulai muncul lagi ke permukaan akhir-akhir ini berwajah Wahabisme. Wahabi ini memang sudah lama munculnya, tapi semenjak Indonesia digempur oleh HTI dan terorisme, Wahabi diam dan sepertinya nunggu giliran untuk muncul. Dan ini benar ketika kemunculan kembali Wahabi sekarang setelah HTI dan terorisme rehat sejenak. Kelihatan sekali kerja sama kelompok radikalisme tersebut.

Wahabi memang tidak menyatakan bahwa ia kelompok teroris. Tapi, ideologi yang Wahabi bangun, bagi Prof. Said Aqil Siradj, dapat mengantarkan seseorang menjadi teroris. Wahabi itu kelompok eksklusif yang menekankan pada pemahaman terhadap teks keagamaan secara tekstualis. Pemahaman tekstualis sangat berbahaya terhadap cara berpikir seseorang. Karena, pemahaman tekstualis sangat terbatas dengan berpijak pada teks semata.

Pemahaman tekstualis jelas berbeda dengan pemahaman kontekstualis yang menekankan pemahaman secara luas, mendalam, dan beragam. Dalam pemahaman kontekstualis diperhatikan sisi historisnya, antropologisnya, dan semantiknya. Maka, dengan pemahaman kontekstualis seseorang akan diselamatkan dari kebuntuan berpikir yang menyebabkan seseorang gampang menyesatkan, mengkafirkan, dan menghalalkan darah sesamanya.

Pemahaman tekstualis-eksklusif tersebut mengingatkan kita kepada Khawarij, kelompok puritan yang tiba-tiba muncul pada masa Sayyidina Ali Ibnu Abi Thalib. Khawarij tidak segan-segan mengkafirkan Ali beserta pengikutnya sebab mereka mengambil suatu keputusan (hukum) di luar hukum Allah. Bahkan, saking tragisnya Khawarij menghalalkan darah Ali dan pengikutnya. Sungguh berbahaya ideologi semacam ini. Ini mirip dengan gerakan terorisme.

Maka dari itu, kontra narasi tetap dilakukan, meski HTI dan aksi terorisme tidak muncul kembali. Kelompok radikal ini pasti memiliki ribuan cara untuk tetap eksis. Bisa mereka lakukan dengan mengubah nama gerakannya, sementara ideologi tetap sama, seperti Wahabi dan lain-lain. Mengubah bentuk sedang ideologinya sama, jelas itu radikalisme yang tidak dapat dibiarkan.

Memang tidak mudah membasmi radikalisme hingga ke akar-akarnya. Tapi, bukan tidak mungkin. Jika kontra narasi atau deradikalisasi terus dilakukan maka sedikit demi sedikit radikalisme akan musnah. Intinya, kita harus berani melawan radikalisme, karena yang kita perjuangkan bukan hanya keselamatan negara, tetapi keselamatan diri kita sendiri dan anak-anak kita nanti. Mari berjuang untuk membasmi dan melawan radikalisme hingga ke akar-akarnya.[] Shallallahu ala Muhammad.

Leave a Comment

Related Post