Harakatuna.com – Hari ini umat Islam sedang memasuki hari istimewa yaitu Hari Raya Idul Adha. Hari raya ini seringkali disebut dengan Hari Raya Kurban. Mungkin kita bertanya, kenapa Idul Adha lebih disebut dengan Hari Raya Kurban? Secara bahasa kata “adha” memang bermakna situasi penyembelihan hewan kurban. Makanya, tidak keliru jika hari raya ini dikenal dengan sebutan hari raya kurban.
Membahas soal kurban kita akan diingatkan dengan kisah Nabi Ibrahim yang diperintahkan oleh Allah untuk menyembelih putra tercintanya Nabi Ismail. Kisah ini sudah sering didengar setiap khatib menyampaikannya di podium. Bagaimana pun istimewanya kisah ini karena ketaatan Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail terhadap perintah Tuhan, tetaplah kisah ini sudah berlalu. Ismail tetap diselamatkan dan diganti dengan penyembelihan hewan yang sampai sekarang penyembelihan hewan ini terus digelar saban tahun.
Apa yang dapat kita refleksikan dari kisah Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail tersebut? Apakah kita hanya menjadi pendengar setia saja dari kisah ini yang sudah berlalu? Tentu, sebagai muslim yang diberi anugerah akal sehat, kita hendaknya melihat bahwa kita semua adalah Ibrahim yang lebih mengedepankan ketaatan kepada Tuhan dibanding taat kepada yang lain. Sedangkan, apa yang kita cintai adalah Ismail bagi kita.
Lalu, siapa Ismail kita sekarang ini? Banyak tentunya. Bisa jadi salah satunya adalah ponsel. Kita seringkali menunda shalat dan munajat kepada Tuhan gegara disibukkan dengan ponsel. Kita seakan merasakan hidup kita terlampau bahagia bersama ponsel. Kita lupa bahwa kecintaan kita terhadap ponsel telah menggeser kecintaan kita kepada Tuhan. Naudzubillah! Maka, di hari istimewa sekarang kita hendaknya mengorbankan ponsel dengan tidak meletakkan sebagai benda istimewa yang melebihi keistimewaan bermunajat kepada Tuhan.
Selain ponsel, kita seringkali berlebihan mencintai uang. Seakan uang adalah segalanya bagi kita. Siang-malam banting tulang, jungkir-balik demi uang. Sehingga, kecintaan kepada uang mengalahkan cintanya kepada Tuhan. Tuhan dilupakan bahwa Dia-lah Dzat Yang Maha Kaya yang sangat mampu memberikan rezeki berupa uang kepada hamba-Nya. Kelalaian kita karena uang hendaknya dihentikan karena uang telah menjadi Ismail pada diri kita.
Perlu digarisbawahi bahwa kecintaan kepada ponsel dan uang bukanlah sesuatu yang keliru. Yang terpenting kecintaan itu tidak menggeser kecintaan kepada Tuhan. Karena ponsel dan uang bukanlah tujuan, melainkan sekedar alat mencapai tujuan. Tujuan kita bukankah beribadah kepada Tuhan? Bukankah seluruh manusia (dan jin) diciptakan supaya beribadah kepada Tuhan? Maka, kita hendaknya bisa membedakan mana alat/media dan mana tujuan.
Keberhasilan kita dalam menyikapi kecintaan kepada ponsel dan uang adalah bukti bahwa kita menjadi pemenang. Kita sudah berhasil meletakkan Tuhan di atas segalanya. Kita bagaikan orang-orang sufi yang kaya raya, tapi tidak meletakkan kecintaannya kepada harta, melainkan kepada Tuhan semata. Lihat saja sufi terkenal Ibnu Arabi yang kaya raya, tapi dia tidak menaruh hartanya di hati.
Keberhasilan ini juga menjadi bukti kemenangan kita melawan hawa nafsu. Karena, sejatinya kunci dari segalanya adalah nafsu. Nafsu adalah musuh yang dicintai. Jika cinta terhadap nafsu tidak terkontrol akan dapat merugikan seseorang dan dia akan menyesal di hari kemudian. Sebaliknya, jika seseorang berhasil menyembelih nafsunya sebagaimana Ibrahim menyembelih Ismail maka dia akan menjadi pemenang yang dihiasi kebahagiaan.
Sebagai penutup, penyembelihan hewan kurban yang terinspirasi dari kisah Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail hendaknya terus direfleksikan agar ibadah ini membuahkan manfaat kepada diri kita menjadi manusia yang berhasil menyembelih hawa nafsu. Sehingga kita menjadi pemenang sejati yang terus dihiasi kebahagiaan.[] Shallallahu ala Muhammad.








Leave a Comment