Pancasila Di Tengah Gempuran Terorisme

Dr. (c) Khalilullah, S.Ag., M.Ag.

05/06/2024

4
Min Read

On This Post

Harakatuna.com – Juni menjadi bulan yang cukup spesial bagi warga negara Indonesia. Di bulan ini tercatat bahwa Pancasila dilahirkan. Artinya, saban bulan Juni seluruh warga Indonesia merayakan kelahiran Pancasila dengan caranya masing-masing. Ada yang merayakannya dengan mengadakan seminar membahas pancaran dari beragam sisi. Ada yang melakukan tasyakuran dengan membaca Al-Qur’an. Ada yang melakukan refleksi atas nilai-nilai yang tersurat di dalam Pancasila.

Merayakan hari lahir Pancasila membuktikan bahwa warga Indonesia bangga punya Pancasila. Sebagaimana umat Islam merayakan maulid Nabi karena mereka bangga dengan kelahiran Nabi Muhammad SAW. Dalam lingkup yang lebih sempit, banyak orang yang merayakan ulang tahun dirinya sendiri, orang tuanya, anaknya, istrinya, bahkan sahabatnya. Itu semua karena mereka merasa senang dan bangga dengan kehadiran mereka. Berbeda, jika kehadiran seseorang tidak diharapkan alias dibenci pasti hari lahirnya tidak diapresiasi.

Namun, yang sangat disayangkan masih ada beberapa warga Indonesia yang membenci Pancasila. Kelompok ini ciri-cirinya gemar membandingkan Pancasila dengan Al-Qur’an. Yang jelas perbandingan ini tidak pantas. Karena, Pancasila adalah ideologi yang diciptakan oleh manusia. Sedangkan, Al-Qur’an adalah ideologi Tuhan. Apakah sama karya Tuhan dengan manusia? Jelas berbeda. Kelompok yang gemar membandingkan ini jelas tidak menggunakan akal sehatnya, sehingga mereka menyesatkan banyak orang.

Kesesatan itu mulanya berdampak terhadap cara berpikir yang tertutup yang mendorong timbulnya kebencian bahwa Pancasila tidak layak dijadikan ideologi atau dasar suatu negara. Cukup, bagi orang ini, Al-Qur’an sebagai dasar hidup, termasuk negara. Kebencian ini terus bergulir bagai bola salju sehingga mengantarkan kepada hate speech atau ujaran kebencian. Dicacilah orang yang pro-Pancasila. Bahkan, mereka dikafirkan. Tidak berhenti di situ, orang ini dihalalkan darahnya. Sungguh tragis, bukan?

Sampainya di titik menghalalkan darah ini secara tidak langsung sudah berupaya mendukung tindakan pidana terorisme. Pelakunya akan membabi-buta dengan melakukan pengeboman di beberapa tempat yang di sana didiami orang-orang yang pro-Pancasila. Semisal, yang sudah terjadi, dibomlah kapolsek karena di situ ada pihak aparat yang jelas pro-Pancasila. Ada juga gereja yang di dalamnya ada umat Kristen yang beribadah dan jelas mereka pro-Pancasila. Dan masih banyak tempat-tempat yang lain yang dijadikan sasaran.

Memang susah mencegah tindakan terorisme, tapi bukan tidak bisa. Negara sudah lama membasmi terorisme dengan deradikalisasi. Sayap-sayapnya ada BNPT dan ada BIN. Mereka bergerak dengan melakukan pendekatan yang baik terhadap narapidana teroris untuk kembali ke jalan yang benar atau, yang diistilahkan dengan, “hijrah”. Pendekatan ini adalah model dakwah yang lemah-lembut sehingga setiap ajakan selalu menyentuh kalbu. Di sana ada banyak narapidana teroris yang mendapatkan hidayah dan hijrah ke jalan yang benar.

Narapidana teroris diberi seminar seputar Pancasila. Dijelaskan bahwa Pancasila tidak dapat dibandingkan dengan Al-Qur’an. Kehadiran Pancasila adalah menyatukan perbedaan yang terbentang di tengah-tengah Indonesia, mulai perbedaan ormas hingga perbedaan agama. Pancasila memberikan kebebasan dalam beragama, apalagi dalam memilih ormas; NU, Muhammadiyah, atau yang lainnya. Karena, mereka memiliki kebenaran berdasarkan sudut pandang masing-masing. Yang terpenting, mereka tidak mengganggu atau merugikan orang lain.

Lebih dari itu, narapidana teroris diberi seminar tentang nilai-nilai kemanusiaan yang termuat dalam Pancasila. Kemanusiaan mengajak warga Indonesia untuk saling menghormati satu sama lain. Tidak dibenarkan merasa paling benar dan menyesatkan orang lain. Kemanusiaan juga melarang pembunuhan jiwa. Karena, keselamatan jiwa benar-benar dilindungi. Menjaga keselamatan satu jiwa sama dengan menjaga keselamatan semuanya. Sebaliknya, membunuh satu jiwa sama dengan membunuh semuanya.

Seseorang yang benar-benar mengamalkan nilai-nilai kemanusiaan, tidak bakal menyakiti orang lain, baik dengan tangan maupun lisannya, apalagi melakukan tindakan terorisme. Orang ini melihat orang lain adalah saudaranya, meski tidak punya ikatan darah atau kekerabatan. Mereka menyadari bahwa persaudaraan memiliki jangkauan yang cukup luas, bukan hanya sebatas orang-orang yang sefrekuensi.

Sebagai penutup, pada bulan Juni warga Indonesia hendaknya memperbanyak bersyukur bahwa Tuhan menyayangi hamba-Nya dengan menghadirkan Pancasila sebagai ideologi suatu negara. Melalui Pancasila nilai-nilai persatuan, keragaman, dan kemanusiaan yang dibenarkan oleh agama, dapat dipraktikkan. Tidak benar berkata membela agama, sedangkan kelakuannya masih membenci Pancasila.[] Shallallahu ala Muhammad.

Leave a Comment

Related Post