M. Ismail Yusanto dan Narasi Pemecah-Belah Bangsa

Agus Wedi

27/05/2024

4
Min Read
Ismail Yusanto dan Narasi Pemecah Belah Bangsa

On This Post

Harakatuna.com – Ismail Yusanto masih kukuh dalam pendiriannya bahwa negara Palestina remuk gara-gara hilangnya sistem khilafah. Dia berkata bahwa perseteruan hakiki umat Islam bukan hanya dengan Yahudi atau Israel, melainkan juga dengan negara-negara imperialis Barat yang memunculkan krisis ini di tengah-tengah umat Islam.

Bagi Ismail, Palestina adalah bumi jihad. “Jika karena tekad kami menjaga negeri ini kami harus mati, insyaallah itu adalah mati syahid. Syahid adalah setinggi-tinggi derajat kematian yang ganjarannya adalah surga Allah. Adakah kematian yang lebih mulia ketimbang mati syahid?” Sebutnya.

Narasi Pemecah-Belah Bangsa

Karena itu, Ismail dengan yakin memberi rekomendasi kepada kelompok dan umat Islam Indonesia. Saran dia adalah konflik antara Palestina dan Israel harus dilihat sebagai konflik agama. Bukan politik. Kedua, umat Islam tetap harus mengobarkan jihad sebagai satu-satunya jalan untuk mengusir Yahudi dari bumi Palestina. Ketiga: mempertahankan kondisi perang secara terus-menerus terhadap musuh kaum muslim dengan tidak melakukan perjanjian apa pun dengan mereka.

Pandangan Ismail di atas memang selalu dia lontarkan di setiap forum. Dia begitu yakin bahwa konflik Palestina bukan karena persoalan geopolitik melainkan konflik agama. Dia melihat bahwa Islam sesungguhnya memiliki musuh terbanyak dibandingkan dengan agama-agama lain. Karena itu, saran dia selalu tegakkan khilafah.

Saran aneh itu masih dianggap betul oleh pengikutnya. Mereka bahkan meyakini bahwa khilafah sesungguhnya telah menjadi isu global, khususnya di dunia. Bahkan dia sangat yakin kalau khilafah akan tegak kembali di dunia, dan dimulai dari Indonesia.

Ismail beserta kelompoknya begitu sangat yakin melalui Islam politik akan kembali tegaknya khilafah. Bagi dia, khilafah kekuatan umat Islam dunia. Alasan ini dilontarkan karena khilafah telah berhasil mewujudkan sebuah peradaban hebat berbilang abad lamanya saat Barat justru hidup dalam keterbelakangan.

Kerinduan Dari Mana?

Menurut Ismail, hari ini banyak orang merindukan tegaknya khilafah. Tanda-tandanya, katanya, di antara yang paling nyata adalah meningkatnya dukungan umat untuk penerapan syariat secara kaffah. Dia menyebut hasil polling yang dilakukan oleh Pew Research Center yang berpusat di Washington DC di lebih dari 30 negeri muslim menunjukkan hal itu. Mayoritas penduduk di negeri muslim menginginkan penerapan syariat. Di antaranya, 64% muslim di Indonesia, 86% di Malaysia, lalu lebih dari 99% muslim Afghanistan.

Dengan data-data di atas, Ismail sangat percaya diri bahwa khilafah akan tegak kembali dalam waktu dekat ini. Dia sangat yakin umat Islam akan bersatu dan mendapatkan nasrullah atau pertolongan Allah. “Nasrullah itu merupakan qadha’ atau ketentuan Allah yang tidak mungkin kita ketahui di mana, kapan, dan kepada siapa akan diberikan”, sebutnya.

Sampai hari ini Ismail dan kelompok khilafah lainnya masih mengibur diri. Karena menurut mereka, publik hari ini sudah membuka diri bahwa khilafah adalah sistem terbaik yang ada di dunia. Mereka menepuk dada, bahwa khilafah lebih canggih dari Pancasila. Mereka yakin hari ini ada gelombang dahsyat kesadaran umat untuk bangkit.

Aktivis Khilafah Tak Paham Khilafah

Bagi Ismail umat muslim Indonesia hari ini lemah. Karena itu butuh kebangkitan ide yang luar biasa. Ide itu harus bisa menjadi pelindung yang nyata. Nah, menurut dia, pelindung itu tidak lain adalah khilafah, dan khilafah pula satu-satunya yang mampu menyatukan umat sehingga kekuatan Islam bisa diwujudkan, menjadi mudah diterima. Bagi dia, pada waktu yang tidak lama insyaallah cita-cita itu akan tercapai.

Atas kepercayaan Ismail yang luar biasa di atas, kita harus percaya bahwa ide khilafah tegak di Indonesia hanyalah penghiburan semata. Sebab, kita tahu, salah satu hambatan terbesar dari penerapan syariat dan penegakan khilafah adalah bukan dari kelompok luar, melainkan dari aktivis khilafah itu sendiri yang justru belum paham atau salah paham terhadap ide syariat dan khilafah.

Oleh karena itu, penting sekali memahamkan atau meluruskan pemahaman mereka secara terus-menerus, bahwa Pancasila adalah ideologi bangsa terbaik di dunia saat ini. Pancasila sudah bisa menghadapi ancaman, tantangan, hambatan, gangguan, dan rintangan (ATHGR) selama ini. Sementara khilafah hanyalah monster narasi politik yang dijual sekadar untuk mencari cuan dan kekuasaan.

Leave a Comment

Related Post