Harakatuna.com – Ayo membaca buku sejarah. Mendengar ajakan itu, tentu kita pasti membayangkan sebuah buku yang sangatlah besar dan berisi ratusan halaman. Melihat bukunya saja kita langsung muncul perasaan malas untuk membaca, dan merasa akan sangat membosankan untuk membacanya.
Buku-buku tema biasa saja yang lembar halamannya tidak banyak, kita saja malas membaca. Apalagi buku sejarah isinya bisa sampai ratusan halaman. Tentu karena banyaknya halaman ini, akhirnya buku ini akan menjadi sebuah pajangan di lemari buku perpustakaan.
Pada umumnya buku sejarah yang setebal itu tidak hanya membahas satu dan beberapa peristiwa saja. Namun bisa banyak peristiwa. Sebab peristiwa sejarah yang terjadi di dunia ini sangatlah banyak. Banyaknya peristiwa sejarah yang terjadi di dunia ini tidak jarang pula membuat anak muda merasa malas untuk membaca.
Kita juga perlu menyadari bahwa Indonesia saat ini berada pada peringkat ke-60 dari 61 negara yang minat bacanya kedua paling rendah. UNESCO bahkan mengungkapkan, bahwa minat warga negara Indonesia dalam membaca hanya sebesar 0,001% saja. Ini artinya dari 1.000 orang, hanya 1 orang saja yang rajin membaca. Dan mungkin saja 1 orang yang rajin membaca itu belum tentu tertarik pada hal-hal yang bertema sejarah.
Selain faktor minat baca negeri kita di Indonesia yang sangatlah rendah. Masalah ini juga diperkuat dengan pandangan anak muda bahwa mempelajari sejarah itu tidaklah penting. Mereka memandang bahwa peristiwa tersebut telah berlalu, dan untuk apa lagi membahasnya. Jika pun kita mempelajari sejarah, apakah masalah yang terjadi di masa lalu relevan masalahnya dengan masa saat ini? Tentu anak-anak muda ini akan menjawab tentu saja tidak.
Adapun anak-anak muda yang memiliki minat mempelajari sejarah, mereka lebih cenderung mempelajarinya dari film ataupun video yang menjelaskan bagaimana peristiwa sejarah tersebut terjadi. Bukan dari buku yang sangat tebal itu. Padahal ketika mereka membaca buku-buku sejarah. Mereka justru mendapatkan pengetahuan yang mendalam dari buku daripada hanya sekadar melihat lewat film atau video. Sebab sejatinya film ataupun video yang membahas topik sejarah juga mengambil referensi dari buku sejarah.
Buku itu sifatnya mendalam, sehingga dengan membacanya akan memperluas pengetahuan kita. Sedangkan film atau video, tidak jarang ada film yang menambahkan atau melebih-lebihkan isi cerita sejarah. Meskipun memang semuanya seperti itu.
Mempelajari sejarah tidak masalah juga film atau video. Namun akan kurang rasanya jika tidak membaca buku. Sebab tanpa membaca buku, literasi kita akan sangatlah rendah.
Jika anak-anak muda negeri malas membaca buku sejarah, dan memandang sejarah tidak penting, lantas apa dampaknya?
Anak muda yang malas membaca buku sejarah, tentu literasi sejarahnya akan kurang. Mereka tidak akan mengetahui peristiwa hebat yang pernah terjadi di masa lalu. Seperti masa kejayaan imperium Romawi, Persia, Islam Golden Age, dan Renaissance. Mereka juga tidak akan mengetahui mengerikannya masa Dark Ages. Bahkan akan sangat lebih parah lagi jika tidak mempelajari sejarah bangsa sendiri yaitu bangsa Indonesia.
Mereka yang tidak mempelajari sejarah tidak akan pernah mengambil hikmah dari peristiwa masa lampau tersebut. Sehingga pada akhirnya, di masa depan nanti mereka akan melakukan atau mengulangi kesalahan yang pernah terjadi di masa lampau.
Mereka yang tidak mempelajari sejarah bangsa sendiri juga tidak akan memunculkan rasa kecintaan pada bangsa. Mereka tidak akan muncul kecintaan untuk melindungi negara ataupun tanah airnya. Mereka tidak akan mau berjuang seperti para pahlawan bangsanya yang telah berusaha sekuat tenaga untuk membebaskan penjajahan di tanah airnya.
Maka dari itu, lantas bagaimana solusi agar kita semangat dalam membaca buku sejarah?
Solusinya adalah mengubah mindset bahwa sejarah tidak membosankan tapi menyenangkan untuk dipelajari. Dengan mengubah mindset tentang sejarah yang distigmatisasi negatif karena membosankan, tentu hal ini bisa menjadi kunci untuk meningkatkan semangat dalam membaca buku-buku sejarah.
Dengan mengubah mindset, kita akan muncul keinginan untuk memperdalam topik yang menarik menurut kita. Apalagi topik dalam sejarah itu berbagai macam ragam. Mulai dari politik, budaya, dan agama. Dengan mindset sejarah itu menyenangkan, kita akan muncul rasa minat untuk memperdalam tema-tema tersebut. Dengan memperdalam berbagai tema dalam sejarah. Tentu pengetahuan literasi kita akan sejarah akan sangatlah luas.
Kita juga tidak masalah mempelajari sejarah dari film, video ataupun artikel di media sosial. Tentu itu akan semakin bagus. Namun akan semakin bagus jika ditambah dengan membiasakan membaca buku sejarah. Sebab dengan begitu kita akan mendapatkan pengetahuan yang mendalam.
Agar kita tidak malas membaca buku, ayo mulai sekarang ubah mindset bahwa mempelajari buku sejarah adalah hal yang sangat menyenangkan. Bahkan dengan mengetahui peristiwa masa lampau kita akan menjadi pribadi orang-orang yang mampu dalam mengambil pelajaran. Membaca sejarah sangat penting untuk wawasan literasi kita, bukan?







Leave a Comment