Harakatuna.com – Keseriusan masyarakat dalam menentang Wahabi dalam satu bulan terakhir sangat patut diapresiasi. Ini karena, dai Wahabi memang sangat getol mengharamkan sesuatu yang semestinya tidak diharamkan.
Sayangnya, penentangan narasi Wahabi tersebut tidak lahir dari suara kampus atau orang terdidik basis ilmiah di Indonesia. Perlawanan itu justru lahir dari konten kreator dan para mubalig ibu kota.
Kampus Tidak Bersuara
Apakah ini masalah? Sekilas mungkin tidak bermasalah. Namun diamnya para akademisi untuk mengonter narasi haram dan ajaran Wahabi sangat dibutuhkan bagi kalangan kaum terpelajar di Indonesia, khususnya bagi mahasiswanya. Sebab, hanya kaum akademislah yang punya data dan referensi ilmiah kuat untuk menjawab segala masalah yang berkaitan dengan Wahabi.
Jika kondisi kampus diam demikian, maka homo academicus Indonesia tidak peka terhadap isu-isu mutakhir perihal keagamaan. Padahal, akademisi yang berkutat di bidang studi Islam atau isu-isu sosial keagamaan, sungguh begitu banyak di kampus PTKIN di Indonesia ini.
Kepekaan kaum terdidik sangat dibutuhkan untuk mencerdaskan kehidupan masyarakat. Sebab, kaum terdidik atau lembaga pendidikan agama masih memiliki peran dalam menjaga identitas Islam dan masyarakat Indonesia yang moderat dan toleran.
Saya masih teringat dengan Azyumardi Azra. Dia mengatakan bahwa pendidikan, ormas, dan pemerintah menjadi salah satu peranan penting dalam memperkuat kohesi sosial dan keagamaan moderat masyarakat Indonesia.
Berperan Besar
Ketiga tren itu bisa memainkan peran besar dalam keagamaan dan pendidikan agama di Indonesia. Soal pendidikan Wahabi yang terus berkembang dan meresahkan masyarakat misalnya, pemerintah, MUI dan ormas keagamaan yang mendaku moderat, seharusnya terus bersatu membantu menghilangkan kebingungan umat dari paham Wahabi.
Muhammadiyah bisa dengan universitasnya. NU bisa dengan pesantren dan basis massanya. Sedangkan MUI dan pemerintah dengan kebijakan yang menerapkan konsep moderat. Mereka itu sebenarnya bisa memperkuat Islam wasatiah, dapat memperkuat lembaga pendidikan agama seperti pesantren, madrasah dan kehidupan keagamaan masyarakat Indonesia.
Sayangnya, lembaga pendidikan keislaman Indonesia masih jauh dalam merespons isu-isu keagamaan. Mereka selalu berkata bahwa mereka hanya fokus dalam penelitian yang hidupnya di atas langit-langit rumah. Maka tak heran tiap hari mereka selalu melihat atau flexing (seseorang berperilaku menunjukkan prestasi, kebahagiaan, dan gaya hidup mewah secara berlebihan) google scholar yang ratingnya tidak tinggi-tinggi amat dan hanya dikutip oleh mahasiswanya karena atas permintaan si dosen sendiri.
Maka jangan heran bila di sebuah universitas, pelajarnya banyak terpengaruh paham radikal. Karena antara si dosen dan mahasiswa tidak tahu-menahu tentang isu-isu keagamaan terkini, termasuk perihal politik, soal ekonomi, konflik Timur Tengah, dan aktivitas aktivis keagamaan di Indonesia. Mereka tidak mau tahu, karena itu mudah menerima paham radikal.
Berada dalam Kebisuan
Alhasil, sekarang ini muncul pendidikan Wahabi yang menyebar di wilayah Indonesia. Dan ternyata, di dalamnya berisi orang-orang terdidik yang kepincut paham Wahabi karena juga menguntungkan perihal proposal dan uang.
Mereka ini membuat kurikulum nasional, mendirikan tempat olahraga khusus, pasar ekonomi khusus, bahkan membuat tempat tinggal (perumahan) secara khusus untuk kelompoknya. Dan mereka keberatan hingga menolak mengibarkan bendera merah putih dan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia.
Pendidikan Wahabi ini mempertentangkan Islam dengan Pancasila dan demokrasi. Karena Pancasila dan demokrasi ini lahir dari proses ijtihad para manusia, bukan lahir langsung dari Tuhan maupun Al-Qur’an.
Padahal, konsep pemerintah apa pun di dunia, selagi lahir dari proses kesepakatan dan masih menguntungkan masyarakat, membuat kehidupan damai, adil dan sejahtera, sesungguhnya konsep tersebut tidak bertentangan dengan Islam.
Namun demikian, mereka tidak akan menggubris apa pun yang keluar dari mulut seseorang selain kelompoknya. Sebab, yang saya lihat, mereka yang dibangun bukan pengetahuan agama, kedalaman dalam beragama, tapi semangat keagamaannya.
Jadi, emosi keagamaannya yang sampai saat ini terus dipompa dan diproduksi di dalam aktivitas keagamaannya. Ini dilakukan lewat para dai yang berdakwah dari masjid ke masjid. Pola mereka sangat disiplin sehingga mendapatkan tempat di hati masyarakat. Tetapi apakah situasi ini menjadi tantangan bagi homo academicus Indonesia?








Leave a Comment