Mengapa Wahabi Perlu Diberangus di Indonesia?

Muallifah

14/05/2024

4
Min Read

On This Post

Harakatuna.com Khalayak sedang ramai terkait persoalan Salafi-Wahabi di Indonesia. Di Twitter, misalnya. Sederet pembahasan tentang Wahabi yang masuk melalui masjid-masjid Muhammadiyah banyak dibicarakan. Bahkan, sebuah akun Twitter menyebut bahwa, di Madura, kelompok Wahabi mengaku sebagai Muhammadiyah. Hal ini karena mereka tidak memiliki masjid seperti warga NU-Muhammadiyah. Sehingga upaya yang paling bisa mereka lakukan adalah menempel seperti benalu.

Memang benar, kalau kita lihat beberapa kelompok yang mengaku Muhammadiyah di Madura dengan Muhammadiyah yang di Yogyakarta, sangat berbeda jauh. Teman-teman Muhammadiyah yang pernah ditemui oleh penulis sangat santai, adaptif dan tidak kaku. Ini hanya sebagian kecil kelompok, yang bisa jadi adalah mereka kelompok Wahabi, yang menempel ke Muhammadiyah. Tentu, ini adalah pengalaman pribadi penulis.

Lalu, mengapa Wahabi perlu diberangus di Indonesia? Pada Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Lembaga Dakwah PBNU yang digelar di Asrama Haji di Jakarta, 25-27 Oktober 2022 silam, salah satu permintaan dari rekomendasi tersebut adalah melarang paham Wahabi di Indonesia. Ini bukan tanpa alasan. Sebab kalau kita lihat media sosial beberapa waktu belakangan ini, khususnya aplikasi TikTok, ustaz-ustaz Wahabi sudah banyak menguasai media ini sebagai sarana dakwah.

Seandainya pun akun TikTok yang menyebarkan ajaran Salafi-Wahabi ini bukan dari pendakwah itu sendiri, paling tidak kita bisa memahami bahwa, kecenderungan masyarakat media sosial terhadap dakwah halal-haram yang disebarkan oleh para ustaz Wahabi sangat besar. Dengan fakta ini, kita bisa berkesimpulan bahwa akan semakin besar kecenderungan masyarakat untuk menolak terhadap segala jenis tradisi ataupun budaya yang berkembang pada suatu masyarakat, termasuk nasionalisme yang ada dalam diri bangsa Indonesia.

Mengapa bisa begitu? Seperti yang kita ketahui bahwa, gerakan yang dilakukan oleh para Wahabi adalah menekankan keesaan dan kesucian Tuhan, di mana hal ini harus berlandaskan Al-Qur’an dan hadis. Dengan kata lain, mereka berkutat pada pemurnian ajaran Islam serta integritas moral individu. Tidak salah, pada kebanyakan image seorang Wahabi, mereka menekankan niqab bagi para Muslimah dan bagi para laki-laki adalah pakaian dengan celana cingkrang dan jenggot yang bersemayam pada wajah. Mereka terus berkomitmen untuk menegakkan syariat secara komprehensif.

Semangat Puritanisme Wahabi

Puritanisme, ajaran yang menghendaki pemurnian terhadap Islam adalah landasan para Wahabi untuk menggelorakan ajaran Islam di masyarakat. Dengan semangat puritan ini, mereka secara masif menyebarkan ajaran Islam yang keras, kaku, berkutat pada halal-haram dan menentang segala jenis budaya atau aktivitas yang tidak ada dalam ajaran Al-Qur’an dan hadis.

Melalui gerakannnya atas kepedulian terhadap masalah akidah dan moralitas di masyarakat, melalui penerapan monoteisme yang ketat, atribut ketuhanan yang kaku, anti tasawuf, dan memurnikan Islam dari kekusutan, mereka menganggap bahwa masyarakat akan kembali pada ajaran Islam yang sebenar-benarnya.

Padahal, pada faktanya Wahabi akan merusak jati diri bangsa Indonesia karena melupakan sejarah dan dari mana asal bangsa Indonesia. Tradisi ataupun budaya yang sudah melekat pada masyarakat Indonesia, dibumihanguskan oleh para Wahabi dengan semangat yang membara atas dasar pemurnian Islam.

Dengan fakta demikian, bagaimana seharusnya untuk melawan pergerakan Wahabi di Indonesia?

Pertama, mendesak pemerintah untuk diberangus di Indonesia adalah hal yang perlu dilakukan. Pemerintah perlu melakukan berbagai strategi dan informasi kepada masyarakat bahwa, Wahabi akan merusak masa depan Indonesia, dengan kedok ajaran pemurnian Islam. Sebab di masa yang akan datang, jika para Wahabi berkuasa di Indonesia, maka tidak ada lagi nasionalisme, tidak akan ada lagi pengibaran bendera merah putih, upacara, atau menyanyikan lagu kebangsaan. Sebab bagi para Wahabi, itu adalah haram.

Kedua, menjaga tradisi, budaya ataupun ritual yang berkembang di masyarakat adalah upaya perlawanan yang paling utama untuk membentengi diri. Mengapa ini harus dilakukan? Sebab masyarakat adalah pewaris utama dari sebuah tradisi serta seluk-beluk dan sejarah. Hal ini juga menjadi kekayaan bangsa Indonesia yang sudah turun-temurun berkembang di masyarakat. Oleh karena itu, kesadaran masyarakat adalah pondasi utama menjaga tradisi ataupun ritual agar terus dilakukan.

Artinya, semangat membara yang digelorakan oleh para Wahabi untuk memberangus tradisi di masyarakat lantaran dianggap haram, tidak akan berpengaruh apabila masyarakat sudah memiliki kesadaran untuk terus menjaga tradisi dan budaya pada suatu daerah. Wallahu A’lam.

Leave a Comment

Related Post