Hardiknas: Momentum Menengok Realitas Program Merdeka Belajar

Anni Saun Nafingah

03/05/2024

4
Min Read
hardiknas

On This Post

Harakatuna.com – Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) jatuh pada 2 Mei di setiap tahunnya. Pemerintah pun selalu berupaya membenahi dunia pendidikan tanah air. Cara yang ditempuh yaitu dengan berganti-ganti kurikulum guna menemukan sistem yang cocok untuk diterapkan dalam pendidikan Indonesia.

Tema Hardiknas tahun ini adalah Bergerak Bersama Lanjutkan Merdeka Belajar. Perlu digarisbawahi, Merdeka Belajar ini telah dicanangkan oleh Mendikbudristek, Bapak Nadiem Makarim sejak tahun 2022 lalu. Program tersebut dijalankan guna merevolusi sistem pendidikan yang ada di Indonesia saat ini. 

Sebelumnya, Indonesia memakai Kurikulum 2013 untuk mengganti KTSP tahun 2006. Pergantian kurikulum tersebut bertujuan agar siswa mampu berpikir kritis, bertanggung jawab pada lingkungan, dan memiliki kemampuan intrapersonal dan antarpersonal yang baik. Namun, kurikulum ini hanya bertahan hingga awal tahun 2022 karena pada Februari 2022 sudah diluncurkan Kurikulum Merdeka dengan program Merdeka Belajar.

Konsep Merdeka Belajar sejalan dengan konsep pendidikan yang dibangun oleh Ki Hajar Dewantara. Ia mengatakan bahwa mendidik dan mengajar merupakan proses memanusiakan manusia, sehingga harus memerdekakan manusia beserta segala aspek kehidupannya, baik dari segi mental, fisik, jasmani maupun rohani.

Lalu, bagaimanakah realita dari program Merdeka Belajar tersebut? Apakah sudah sesuai harapan atau belum? Topik ini menarik untuk dibahas. Pasalnya, Hardiknas merupakan waktu yang tepat untuk melakukan refleksi sekaligus berbenah dari sistem pendidikan yang sudah dijalankan. Tujuannya jelas, demi masa depan Indonesia.

Konsep Merdeka Belajar

Program ini diusung pada Kurikulum Merdeka. Kurikulum tersebut berfokus pada pengembangan karakter profil pelajar Pancasila dan materi yang esensial. Adanya profil pelajar Pancasila diharapkan mampu memperbaiki karakter siswa yang semakin merosot seiring bertambahnya tahun.

Makna dari Merdeka Belajar adalah kebebasan dari guru dan kepala sekolah untuk menentukan masa depan para siswa sesuai dengan bakat serta minat yang dimiliki. Siswa diberikan kebebasan untuk mengembangkan bakat dan minat tanpa ada tekanan dari siapa pun. Dalam hal ini, sekolah diberikan kebebasan untuk melaksanakan kebijakan yang berdasarkan pada kebutuhan siswanya.

Konsep Merdeka Belajar yang digagas terinspirasi dari konsep Merdeka Belajar Ki Hajar Dewantara. Menurutnya, pendidikan adalah serangkaian proses untuk bisa memanusiakan manusia. Selain itu didasarkan pada sistem among yang diusung oleh Ki Hajar dewantara yaitu tidak adanya paksaan dan hukuman kepada siswa karena mampu mematikan jiwa kreativitas dan jiwa merdeka.

Harapan dari konsep Merdeka Belajar tersebut adalah siswa dan guru mampu memiliki jiwa yang bebas dalam mengembangkan bakat, potensi, dan kemampuan diri tanpa ada aturan yang mengikat di dalam pembelajaran.

Realita Penerapan Merdeka Belajar

Merdeka Belajar terkesan sangat menjanjikan jika mampu diterapkan dengan baik di Indonesia. Namun, pada kenyataannya penerapan program ini masih membutuhkan waktu untuk bisa terselenggara dengan baik. Banyaknya kendala yang dihadapi pendidikan saat ini menjadi penghalang bagi kesuksesan program Merdeka Belajar.

Pertama, guru diharapkan mampu sebagai pendidik dan pengajar. Dalam hal ini, tugas guru tidak hanya sebagai pemberi materi pembelajaran saja, melainkan juga harus melek dengan isu sosial yang sedang hangat diperbincangkan. Bagi guru yang ada di wilayah 3T dan guru yang usianya sudah tak lagi muda tentu akan kesulitan untuk mengakses isu tersebut. Pada akhirnya, mereka cenderung malas untuk membaca kasus terkini.

Kedua, guru dituntut lebih kreatif dalam menggunakan teknologi. Pemanfaatan teknologi untuk membuat pembelajaran yang menarik merupakan tuntutan dari program Merdeka Belajar. Contoh mudahnya yaitu membuat presentasi yang menarik menggunakan laptop. Nyatanya, tidak semua guru mampu membuatnya karena belum terbiasa dengan penggunaan laptop sehingga butuh waktu untuk bisa menyesuaikannya.

Selama ini, pembelajaran yang dilakukan lebih berfokus pada papan tulis sehingga guru enggan untuk upgrade skill yang berkaitan dengan teknologi. Belum lagi ditambah dengan fasilitas dari sekolahan yang kurang memadai. Alhasil, pembelajaran pun belum bisa dilakukan secara maksimal dengan memanfaatkan tekologi.

Ketiga, beban administrasi guru semakin berat. Adanya Kurikulum Merdeka menjadikan administrasi menjadi semakin banyak. Hal tersebut tentu membuat guru semakin tertekan. Belum lagi ditambah dengan beban mengajar yang cukup berat. Guru harus bisa menjadi fasilitator, motivator, demonstrator, mediator, pengelola, pembimbing, dan evaluator bagi murid-muridnya.

Seperti yang telah diketahui bersama bahwa guru memiliki tanggung jawab yang besar terhadap para siswanya di sekolah. Apabila harus ditambah dengan administrasi yang begitu banyak, maka akan membuat guru tidak bisa fokus dengan permasalahan yang dihadapi siswa di sekolah. Alhasil, guru tidak merasakan apa arti dari merdeka.

Pada intinya implementasi Kurikulum Merdeka guna mewujudkan Merdeka Belajar merupakan solusi terbaik untuk pendidikan Indonesia. Hanya saja perlu adanya evaluasi dan kerja sama yang bagus antara, kepala sekolah, guru, siswa, dan pemerintahan. Jangan sampai kurikulum ini menjadi beban bagi beberapa pihak karena tidak adanya keterbukaan untuk menyampaikan permasalahan yang terjadi di lapangan.

Leave a Comment

Related Post