Harakatuna.com – Chris Martin, vokalis Coldplay—dalam wawancaranya dengan Najwa Shihab secara daring—menyatakan bahwa mereka memiliki komitmen memangkas 50 persen karbon di setiap konsernya. Coldlay punya kepercayaan diri tersebut karena mengacu konser setahun terakhir ini telah sukses mengurangi karbon hingga 45 persen. Komitmen Coldplay ini tidak lain merupakan bagian dari komitmen masyarakat global tentang wacana hijau di dalamnya.
Di tengah masyarakat global yang menyuarakan wacana hijau tersebut, sekelompok ormas Islam di Indonesia sibuk dengan penolakan konser Coldplay. Seperti kita tahu, mereka melakukan itu karena Chris (yang atheis) mendukung kampanye Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender (LGBT).
Saya jadi ingin bertanya: kenapa wacana hijau Coldplay tidak dijadikan pertimbangan sebagai bentuk kesalehan? Apa prinsip hidup dan orientasi seks adalah persoalan komunal sehingga perlu ditentang? Di tengah sistem politik yang demokratis, kelompok Muslim ini seharusnya mampu melakukan refleksi atas pertanyaan tersebut secara kritis.
Kesadaran ekologis Coldplay itu mahal di tengah masyarakat Indonesia—yang lebih banyak merenggut lingkungan daripada memberi kebaikan atasnya. Jutaan manusia Indonesia yang gampang terpancing hal-hal viral, secepat angin ramai membicarakan konser Coldplay hingga berebut tiket konsernya. Ini tentu hal baik karena di luar musik yang ditampilkan, Coldpolay secara tidak langsung adalah seruan atas wacana hijau. Bukan tidak mungkin jika banyak dari mereka setelah menonton konser akan lebih ramah kepada lingkungan. Gerakan hijau perlu diviralkan. Dan, barangkali kedatangan Coldplay di Indonesia adalah bentuk usaha dari itu. Kita patut menunggu hasilnya.
Jadi, pertanyaan saya kembali, masyarakat Indonesia lebih membutuhkan kesalehan ekologis atau kesalehan yang bermakna personal berupa iman dan orientasi seks?
Proyeksi Islam Ramah: Kemanusiaan sebagai Jalan
Manusia adalah proyek bagi dirinya sendiri dan yang membentuk dirinya sendiri. Namun, ada batas-batas bahwa manusia tidak dapat membentuk dirinya sendiri. Proyek yang dimaksud adalah menjadikan manusia lebih berkualitas.
Munculnya Islam adalah napas panjang dari proyeksi tersebut. Agama turun dengan tujuan kemanusiaan. Gagasan kemanusiaan pada Islam termanifestasi dalam ajaran-ajaran rahmatan lil alamin dari zaman nabi hingga kini.
Definisi tentang kemanusiaan di sini perlu diperluas, tidak hanya terbatas pada definisi populer seperti peduli sesama manusia. Kita tidak boleh menegasikan makna kemanusiaan yang luas. Ia, sebagai sebuah tujuan, harus tetap berdiri pada makna sesuai visi Islam: memberi rahmat bagi semua.
Dengan kesadaran makna kemanusiaan yang luas, masa depan Islam akan lebih mudah diteropong sebagai suatu yang lebih mungkin diterima manusia sejagat. Itu artinya, proyeksi Islam yang ramah dimulai dari kesadaran universal tentang transpersonalitas.
Secara historis, Islam hadir memang melalui personalitas berupa perintah dari Allah kepada Nabi Muhammad. Tetapi, kedatangannya tidak kemudian membatasi transpersonalitas menjadi personalitas. Justru ia hadir untuk mencerabut batas-batas personal itu sendiri. Barangkali istilah yang cukup bisa menggambarkan pandangan tersebut adalah, “bagaimana menjadikan kami menjadi kita?”
Lalu, seberapa jauh Islam di Indonesia memproyeksikan ini? Mengingat fenomena penolakan sekelompok Muslim terhadap konser Coldplay 15 November 2023 mendatang, Islam hari ini seperti jauh dari keramahannya, apalagi ke-rah-mat-annya. Belum lagi ketika mereka memberi ancaman berupa aksi demo besar jika Coldplay ngotot konser di Jakarta. Sudah saya duga, mereka akan melakukan itu! Saya tak heran jika sekelompok Muslim ada yang begitu.
Memang, dalam beberapa momen, mereka sangat dekat dengan istilah-istilah kafir, bidah, sesat, neraka, dan sebagainya. Kepentingan-kepentingan kelompok Muslim tersebut kemudian diabsahkan melalui dogma-dogma saat upacara, ritus, dan kegiatan-kegiatan keagamaan lainnya. Jika dilihat dari sudut pandang ini, Islam akhirnya tampak sebagai suatu yang dikotomis: kebenaran milik mereka, bukan yang lain.
Agama pada hakikatnya adalah pandangan hidup dengan pendasaran-pendasaran mitis dan metafisik. Agama juga memberikan peran vital kepada para penganutnya yang hidup di tengah-tengah masyarakat modern. Konser Coldplay—di luar misi hijau di dalamnya—adalah bagian dari ekspresi manusia modern dalam menikmati seni. Sudah sepatutnya jika Muslim Indonesia menerapkan etika substansial yang dianutnya, yang mengakar pada tradisi agama dan perkembangan zaman.
Kebenaran imanen harus dikembalikan sebagai suatu yang universal. Sedangkan kebenaran yang transenden harus dikembalikan kepada Tuhan. Tidak ada kelompok tertentu yang mendaku paling benar.
Jika penolakan Coldplay karena kepentingan egistik yang merasa paling benar itu, kelompok Muslim tersebut akhirnya akan tercerabut dari dunia alamiah dan kodrat manusia bahkan agama itu sendiri. Bukan tidak mungkin proyeksi Islam ramah sebagai manifestasi Islam rahmatan lil alamin menjadi bualan belaka.
Seharusnya Islam menjadi suatu realitas yang tetap menjaga eksistensinya tetapi tak mengesampingkan co-eksistensi. Itu artinya, agama tidak bisa terdikotomi oleh kelompok atau apa pun yang kehilangan tujuan kemanusiaan. Adanya dikotomi kebenaran hanya akan membuat kepincangan jalannya tujuan luhur tersebut dan melahirkan penyakit baru di tubuh Islam Indonesia: hilang kemanusiaan.








Leave a Comment