Harakatuna.com. Jakarta. Pilkada seakan menjadi jurang pemisah di antara masyarakat. Mereka yang dulu kerabat seketika saling melaknat. Parahnya, masjid dijadikan panggung untuk menuduh dan meneriakkan dendam kesumat.
Melihat fenomena tersebut, Forum Silaturahim Takmir Masjid (FSTM) se-Jakarta menggelar halaqah dengan tema “Menolak Politisasi Masjid: Upaya mengembalikan fungsi masjid dan merawat NKRI” di Masjid Jami’ Assalafiyah, Jatinegara, Jakarta Timur, pada Jumat (26/1).
Ada kelompok baru yang meniru kegiatannya, tetapi di dalamnya berisi cacian, ujaran kebencian terhadap pemerintah, dan bahkan deklarasi khilafah.
“Kita menolak paham takfiri,” kata Husni Mubarok Amir, koordinator acara saat memandu jalannya halaqah.
NU, Muhammadiyah, dan beberapa ormas lainnya memiliki komitmen yang sama dalam menghadapi kaum takfiri, yakni menolaknya. Takmir masjid yang berlatar belakang ormas berbeda-beda pada kesempatan tersebut hadir sebagai peserta untuk bersilaturahim dan menyatukan pandangan terhadap politisasi masjid yang merebak di berbagai daerah.
“Kita coba rajut kembali,” kata
Masjid harus senantiasa menimbulkan ketenangan. Siapa yang masuk masjid seharusnya mendapatkan ketenangan, bukan malah cacian, cemoohan, atau membicarakan keburukan orang atau kelompok lain. Oleh karena itu, Kiai Hamdi Masyhuri Fathan menyampaikan, bahwa pengurus masjid harus melepaskan masjidnya dari politisasi.
“Masjid harus terlepas dari politisasi,” katanya..
Sementara itu, KH Kholilullah lebih menekankan pada pencegahan. “Kita bentengi dulu masjid. Aktifkan jamaahnya.”
Senada dengan Kiai Kholil, Ketua Forum Komunikasi Ulama Umaro Cakung KH Bahruddin Ali meminta kepada para peserta yang terdiri dari takmir masjid seluruh Jakarta untuk membat kegiatan. Ia mencontohkan programnya sendiri yang sudah berjalan lebih dari 20 tahun, yakni Subuh gabungan.
Semenatara itu, Ketua Dewan Masjid Indonesia (DMI) Jakarta KH Makmun al-Ayyubi mengutip ayat Alquran, lamasjidun ussisa ‘ala (al)-taqwa, bahwa masjid itu dibangun atas landasan ketakwaan. Artinya, tidak boleh ada politisasi, terlebih ajakan untuk bertindak radikal.
Oleh karena itu, Kiai Makmun mengingatkan bahwa bangsa Indonesia harus memiliki dua kesadaran, yakni kesadaran berbangsa dan kesadaran beragama.
Sejatinya, fungsi masjid ada dua yang disampaikan oleh Husni Mubarok Amir saat mengantarkan halaqah, yakni pusat keagamaan dan pemersatu umat. “Masjid memang pusat keagamaan dan mempersatukan umat,” tandasnya.
Syakirnf









Leave a Comment