“Semua anak yang dilahirkan dalam keadaan fitrah, ibu dan bapaknyalah yang menjadikan Yahudi atau Nasrani.” [HR. Bukhari Muslim]
Hadis di atas nyatanya secara tegas untuk dapat kita pahami bahwa keluarga adalah pendidikan pertama dan utama bagi seorang dalam membentuk dirinya, membentuk kepribadian karakternya yang akan ditunjukkan kepada masyarakat.
Hal ini juga menjadi sebuah isyarat yang menegaskan bahwa pembentukan anak berasal dari ibu dan bapaknya atau keluarga. Maka keluarga Muslim Moderat menjadi benteng utama dalam menangkal radikalisme dan Fundamentalisme sehingga, dibutuhkan relasi dan kerjasama antara perempuan dan laki -laki dalam mendidik anak.
Keterlibatan Perempuan dalam Keluarga
Bukan bahasan baru bahwa aksi radikalisme dan terorisme yang selama ini ditempati oleh kaum laki-laki. Hal ini karena laki-laki memiliki previllege kemampuan otot serta gagah dengan penampilan yang bagus untuk melakukan aksi kejam demikian. Namun sejauh perkembangan yang selama ini kita ikuti, aksi radikalisme dan terorisme semakin menguat dengan kehadiran perempuan dan anak yang ikut andil di dalamnya.
Nama-nama perempuan yang muncul dan kemudian dijatuhi hukuman pidana karena terlibat dalam proses aksi terorisme adalah Putri Munawaroh (istri Nurdin M. Top), Ruqayah binti Husen (istri Umar Patek), Deni Carmelita (istri Pepi Fernando pelaku bom buku dan bom Serpong), Munfiatun (istri kedua Nurdin M. Top) menyembunyikan pelaku aksi terorisme, Rasidah binti Subari (istri Husaini bin Ismail (buronan kasus pemboman di Singapura), Inggrid Wahyu Cahyaningsih (istri Sugeng Waluyo yang membantu pelaku teroris Bom Cimanggis), Rosmawati yang ikut terlibat dalam pendanaan untuk kelompok Santoso dan Arina Rahma istri ketiga Nurdin M. Top yang turut serta dalam menyembunyikan pelaku (Bhakti: 2016).
Jika dilihat dari perkembangannya. Pada tahun 2016, keterlibatan perempuan dalam aksi terorisme mulai terkuak dengan keterlibatan Dian Yulia Novi sebagai pelaku bom panci di Bekasi. Setelah itu muncul nama Ika Puspita Sari yang ikut terlibat dalam aksi bom bunuh diri di luar Jawa dan Umi Delima istri teroris Santoso di Poso.
Berdasarkan data di atas, semua pelaku terorisme adalah tidak lain berasal dari mereka sebagian besar yang menjadi istri pelaku (red: terorisme). Hal yang bisa kita garisbawahi adalah penanaman ideologi dalam sebuah keluarga begitu kuat memengaruhi pemahaman seorang anak. Apa yang menyebabkan mereka melakukan aksi tersebut? Ada alasan mengapa perempuan dan anak ikut andil terlibat dalam aksi tersebut, diantaranya:
Dalam sebuah negara patriarkal. Masih kuat pemahaman, bahwa laki-laki adalah pemimpin bagi perempuan. Tidak jarang, statemen semacam ini disalahpahami sebagai sebuah kebenaran mutlak bahwa semua yang hendak dilakukan oleh seorang pemimpin keluarga, wajib dilaksanakan dan diikuti oleh seluruh anggota keluarga, khususnya istri.
Selanjutnya, melalui pemahaman tersebut, doktrin agama masuk di dalamnya sebagai sebuah pemahaman yang cacat bahwa balasan yang akan diterimanya adalah syurga. Disinilah alasan penting mengapa perempuan harus memiliki kapasitas keilmuan yang mumpuni, baik pengetahuan agama dan pengetahuan umum. Tidak lain, salah satunya sebagai sebuah bekal untuk membentuk keluarga yang tidak hanya memahami nilai-nilai ajaran Islam, melainkan kewajiban menerapkannya.
Kemampuan seorang perempuan dalam memahami sebuah fenomena, turut berpengaruh terhadap perkembangan anak. Sebab seorang anak memiliki kedekatan yang begitu intens dengan seorang dibandingkan dengan bapak. Ketika seorang perempuan, yang berperan sebagai ibu terpapar pemahaman radikalisme. Bisa dipastikan, anak-anak juga mengalami hal yang demikian.
Anak sebagai Sasaran Empuk
Setelah perempuan/istri dalam keluarga berhasil menjadi individu yang ikut terlibat dalam aksi radikalisme dan teorisme. Selanjutnya, anak-anak dalam keluarga tersebut juga menjadi orang penting yang akan Mereka terbius dengan janji dan harapan bahwa anak-anak akan mendapatkan tempat yang lebih baik, merasa bahwa tidak mungkin meninggalkan anak-anak hidup sebatang kara, maka pilihan yang terbaik adalah bersamanya dengan alasan surga.
Pemahaman radikalisme dalam keluarga menjadi basis penyebaran yang tidak lazim, sering kita jumpai di berbagai kasus yang terjadi. Menjadi tugas bersama dalam sebuah keluarga baik laki ataupun perempuan. Pun sama halnya menjadi tugas perempuan untuk selalu melakukan berbagai upaya, meningkatkan kapasitas ilmu pengetahuan agar bisa menelaah berbagai informasi, pengetahuan bahkan pemahaman yang ada agar tidak tergerus oleh paham radikalisme, apalagi terlibat aksi terorisme. Na’udzubillah.








Leave a Comment