Serial Kebangsaan (V): Cinta Tanah Air Melahirkan Spirit Kebangsaan

Dr. (c) Khalilullah, S.Ag., M.Ag.

30/12/2020

3
Min Read
Serial Kebangsaan (V): Cinta Tanah Air Melahirkan Spirit Kebangsaan

On This Post

Pada bagian ini, saya ingin melanjutkan spirit kebangsaan. Tema yang menarik dalam tulisan ini tergambar dalam pertanyaan: “Seberapa penting kecintaan kita terhadap tanah air?” Pertanyaan ini dapat dilanjutkan dengan pertanyaan yang lain: “Apa hubungan cinta tanah air terhadap spirit kebangsaan?

Cinta tanah air adalah bagian dari cinta yang sesungguhnya. Maksudnya, belum pantas seseorang mengekspresikan cinta kepada selainnya jika belum mencintai tanah airnya. Karena, tanah air, kendati itu adalah wujud yang lain, benar-benar menyatu dengan diri seseorang seakan tanah air itu bagian dari dirinya.

Tanpa terjebak dalam sikap fanatik terhadap buku “Islam dan Kebangsaan” yang ditulis oleh Quraish Shihab, saya sangat terbantu menumbuhkan kesadaran terkait pentingnya mengekspresikan cinta kepada tanah air saya sendiri. Nabi Muhammad sendiri, sebut Quraish Shihab, digambarkan dalam Al-Qur’an sebagai pribadi yang memiliki kecintaan yang tinggi terhadap tanah airnya Mekkah.

Kecintaan Nabi Muhammad terhadap Mekkah disebutkan dalam surah al-Qashash ayat 85: “Sesungguhnya (Allah) yang mewajibkanmu (menyampaikan dan mengajarkan) Al-Qur’an akan mengembalikanmu (dalam keadaan menang) ke tempat semula (Mekkah).

Melalui ayat tersebut Nabi Muhammad yang disebut sebagai sosok yang merindu tanah airnya setelah sekian lamanya merantau ke Madinah. Quraish Shihab mengingatkan, bahwa bukan hanya Nabi Muhammad yang merasakan cinta tanah air. Nabi-nabi sebelum beliau pun merasakan cinta yang serupa. Disebutkan dalam surah al-Baqarah ayat 126 bahwa Nabi Ibrahim mengekspresikan cinta tanah air dengan mendoakan kota kediaman cucunya.

Begitu kuatnya cinta tanah air, Nabi Muhammad digambarkan dalam sebuah riwayat di mana beliau mengekspresikan kecintaannya dengan sangat emosional: “Demi Allah, (wahai kota Mekkah) sesungguhnya engkau adalah negeri yang paling kucintai, kalau bukan karena pendudukmu mengusirku, aku tidak akan meninggalkanmu.” (HR. Ahmad, at-Tirmidzi, an-Nasa’i, dan lain-lain).

Cinta tanah air akan membentuk pribadi yang mulia seperti Nabi Muhammad dan Nabi Ibrahim. Kedua nabi ini termasuk bangsa yang arif. Tidak seperti para masyarakat Mekkah kala itu yang membangkang dakwah Islam, sehingga mereka merusak tanah air mereka sendiri dengan paham pagan (syirik) yang berseberangan dengan paham monoteis (tauhid).

Sikap masyarakat Mekkah yang tidak punya cinta tanah air memang sudah berlalu. Sekarang sikap ini diupgrade dengan beberapa kelompok radikal yang bermaksud meruntuhkan sistem negara. Mereka biasanya menjelma menjadi kelompok HTI (Hizbut Tahrir Indonesia), ISIS (Islamic State of Irak and Syria), dan beberapa kelompok yang lain. Mereka merusak negara dengan sistem khilafah yang dipaksakannya.

Namun, para pemberontak ini belum berhasil sampai detik ini. Mereka hanya bermimpi tapi belum mampu mewujudkan mimpinya. Karena, mereka belum mendapatkan sambutan yang baik di tengah publik. Publik sudah mencium politik busuk mereka yang jelas-jelas menghancurkan negara. Maka, penting menanamkan sikap kebangsaan yang benar dalam diri agar tidak terjebak pada jurang kezaliman.[] Shallallah ala Muhammad.

Leave a Comment

Related Post