“Pukulan dari sahabatmu lebih baik, daripada ciuman dari musuhmu” [Phytagoras]. Kalimat tersebut kiranya betul untuk melihat kondisi saat ini. Di tengah hiruk pikuk persoalan sosial panjang yang tidak berkesudahan. Lambat laun kita akan merasa bosan dengan segala gerakan, taktik, strategi yang dilakukan oleh para aktivis FPI dengan berbagai argumen yang tidak pernah selesai. Munarman, salah satunya.
Perjalanan terbaru, Munarman menjadi salah satu aktor yang tidak kalah penting dalam perjalanan panjang perjuangan “syahid” para FPI. Terbaru, dirinya dilaporkan lantaran kebohongan dan ujaran kebencian yang dilakukan (okezone.com, 21/12/20). Namun, di titik ini jangan sampai lelah, apalagi banyak mengalami kecolongan dengan segala tipu daya dan komunikasi massa yang bagus. Sebab hal ini akan menjadi sesuatu yang berakibat fatal.
Tidak ada yang merasa dan mengaku salah, lalu ketika semua merasa benar, bagaimana kita bisa membedakan keduanya? Begitu kita hidup di era saat ini. Saat semuanya bisa dijangkau dengan amat sangat mudah disertai berbagai aplikasi di smartphone, membuat kita merasa terlena dengan banyaknya informasi yang disajikan di media yang begitu bertebaran.
Kita sedang hidup di sebuah ruang dan waktu, di mana seseorang bisa saja mengatakan ia benar dengan berbagai argumen yang masuk akal dengan logika yang amat sangat bagus, sebagian yang lain mengatakan hal yang demikian. Semua merasa benar tanpa mengaku salah, tanpa mengalah ataupun apa adanya. Semuanya saling serang dengan beradu argumen.
Perang yang terjadi bukanlah angkat senjata dengan berbagai pistol, pedang ataupun sebagainya. Ini yang kemudian disebut proxy war. Gerakan separatis, gerakan radikal, anti agama, ideologi-ideologi yang merusak persatuan dan kesatuan NKRI menyatu dalam ancaman yang ada di dalam proxy war. Ini jelas-jelas berbahaya, sebab kita tidak tahu siapa yang mengontrol dan dikontrol, siapa yang di menjadi user, pelaku dll.
Munarman dan Kebohongannya
Munarman, sekretaris umum FPI menjadi salah satu aktor dalam perjalanan panjang kisah “syahid” perjuangan FPI yang tidak berkesudahan. Lagi-lagi, kabar yang dibawa oleh dirinya bukanlah sebuah pencerahan di atas gamangnya cahaya kebenaran dari berbagai berita yang beredar. Belum selesai dengan kasus atas terbunuhnya 6 laskar pejuangan FPI. Munarman datang dengan kabar baru yang justru menambah persoalan baru.
Di samping menghina institusi Polri, Munarman juga mengatakan bahwa 6 laskar FPI tidak dibekali senjata apapun (kompas.com). kenyataan yang dikemukakan oleh Munarman kita semakin jengah dengan berbagai strategi pelik yang digencarkan oleh FPI cs. Hal tersebut akan menimbulkan kebingungan baru, masyarakat akan semakin bingung dan khawatir dengan berbagai kondisi.
Tidak cukup dengan narasi demikian, Aziz Yanuar, sekretaris Bantuan hukum DPP FPI masih menyebutnya bahwa hal tersebut dilakukan dalam rangka “amar ma’ruf nahi munkar”. Narasi ini dibuat-buat dan sangat licik. Sebab yang terjadi, selama ini kehadiran FPI dengan segala bentuk kegiatan yang meresahkan masyarakat, membuat kegaduhan, memecah belah bangsa, meng-aku-kan diri dan kelompoknya atas nama agama.
Pada hakikatnya apa yang mereka lakukan hanya sebuah bualan yang mengatasnamakan Islam dan tidak berdasar pada esensi ajaran Islam.
Larangan Memfitnah dalam Islam
Berbagai regulasi untuk mempersempit ruang gerak penyebar hoax (UU No 19 Tahun 2016 tentang Perubahan atas UU No 13 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik) nyatanya belum bisa membuat orang-orang yang tinggal di negara hukum, dalam hal ini Indonesia, untuk diam tanpa menyebarkan berita hoak, ujaran kebencian, dan hal yang membuat resah.
Sangat ironi ketika melihat saudara-saudara FPI begitu sangat keras memperjuangkan sebuah pembenaran dengan menghalalkan segala cara, dimana pada hakikatnya sangat jauh dengan esensi ajaran Islam.
Dalam ajaran agama Islam, perilaku semacam itu sangat dilarang oleh Allah Swt. Allah berfirman; “Sesungguhnya orang-orang yang mendatangkan fitnah kepada orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan, kemudian mereka tidak bertaubat, maka bagi mereka azab jahannam dan bagi mereka azab (neraka) yang sangat pedih.” (QS. al-Buruj: 10).
Tidak sedikit jika kita tela’ah berbagai larangan Allah untuk tidak menyebarkan berita bohong, apalagi memfitnah dengan kalimat kasar, ujaran kebencian dll. Berislam bukan hanya mendeklarasikan firman Allah, lebih dari itu, perbuatan, sikap dan perilaku harus menggambarkan esensi ajaran Islam dengan tidak berperilaku apa yang dilarang oleh Allah Swt. Wallahu a’lam bish shawab.








Leave a Comment