Sudah kita ketahui bersama bahwa manusia tidak akan lepas dari dosa. Supaya dosa diampuni, tentunya seorang hamba harus bertaubat. Lantas bagaimana tanda-tanda taubat diterima? Mari simak ulasan dalam kitab Nashaih al-Ibad karya Syekh Muhammad Nawawi bin Umar al-Jawi berikut ini :
وسئل عن بعض الحكماء: هل يعرف العبد إذا تاب أن توبته قبلت أم ردت؟ قال: لا أحكم فى ذلك، ولكن لذلك علامات: إحداها أن يرى نفسه غير معصومة من المعصية، ويرى فى قلبه الفرح غائبا والحزن شاهدا، ويقرب أهل الخير ويباعد أهل الشر، ويرى القليل من الدنيا كثيرا ويرى الكثير من عمل الآخرة قليلا، ويرى قلبه مشتغال بما ضمن من الله تعالى فارغا عما ضمن الله تعالى منه، ويكون حافظ اللسان دائم الفكرة لازم الغم والندامة
“Sebagian para ahli hikmah ditanya “apakah seorang hamba mengetahui perihal diterima atau tidaknya sebuah taubat?” maka ia menjawab, “Aku sendiri tidak tau persis mengenai hal itu, tetapi perkara itu memiliki tanda-tanda, diantaranya yaitu: Pertama, mengetahui bahwa dirinya tidak dijaga dari perbuatan maksiat. Kedua, mengetahui bahwa di dalam hatinya tidak ada sedikitpun kegembiraan melainkan hanya ada kesedihan. Ketiga, ia mendekat kepada orang yang baik dan menjauhi orang yang jahat (buruk). Keempat, ia mengetahui bahwa dunia yang sedikit itu banyak dan menganggap amal akhirat yang banyak itu sedikit. Kelima, hatinya sibuk dengan perkara yang diperintah oleh Allah dan tenang (santai) dengan apa yang dijamin oleh-Nya. Keenam, menjaga lisannya, senantiasa bertafakkur dan sedih serta menyesal.”
Pertama, beranggapan bahwa dirinya tidak dilindungi oleh Allah dari perbuatan dosa. Sehingga ia akan berhati-hati dalam segala hal yang berpotensi mengantarkannya ke lembah dosa.
Kedua, di dalamnya hatinya terdapat sedikit rasa gembira dan banyak kesedihan. Hal ini dikarenakan ia senantiasa memikirkan masa depan akhiratnya yang masih belum jelas bagaimana kelak. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah SAW. :
مَنْ أَكْثَرَ ذِكْرَ الْمَوْتِ قَلَّ حَسَدُهُ وَقَلَّ فَرَحُهُ
“Barangsiapa yang banyak mengingat kematian maka akan sedikit rasa hasud dan gembiranya.” (Muhammad bin Abi Syaibah, Mushannaf Ibn Abi Syaibah, jus 13 hal 306)
Ketiga, lebih dekat (akrab) dengan orang yang baik budi pekertinya dan jauh dengan orang yang jahat (buruk) perangainya. Hal ini dikarenakan ia dapat selalu menjaga dirinya dan bisa ditegur manakala berbuat salah.
Keempat, ia memandang apapun di dunia ini meski banyak dianggap sedikit, sehingga dirinya hanya mengambil sebagian saja untuk memenuhi kebutuhannya. Sementara amal salehnya dianggap sedikit sehingga ia akan berusaha untuk menambah terus-menerus.
Kelima, hatinya selalu disibukkan dengan kewajiban-kewajiban yang diperintah oleh Allah. Sementara soal rezeki tidakk terlalu pusing, dikarenakan hal tersebut sudah dijamin oleh Allah.
Keenam, senantiasa menjaga lisannya. Hal ini sesuai hadis dalam kitab Sahih Bukhari :
وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ
“Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaknya dia berkata yang baik atau diam.” (Muhammad bin Ismail al-Bukhari, no. 8617)
Itulah tanda-tanda diterimanya taubat seseorang yang disebutkan dalam kitab Nashaih al-Ibad semoga bermanfaat. Wallahu a’lam
(Muhammad Nawawi bin Umar al-Jawi, Nashaih al-Ibad, hal 44)
Riski Maulana Fadli, Mahasantri Ma’had Aly Situbondo








Leave a Comment