Ulama; Guru Literasi Menulis Kita

Hasin Abdullah

22/08/2020

5
Min Read
Ulama; Guru Literasi Menulis Kita

On This Post

Dalam dunia literasi tak hanya memotivasi generasi milenial, dan tak harus identik, hingga dimaknai membaca, dan terus membaca. Namun, literasi memiliki orientasi mengembangkan ide; atau gagasan melalui menulis, sedangkan membaca adalah referensi alias kebutuhan yang harus dipenuhi agar kita kaya wawasan, dan ilmu yang diserap semakin berkembang luas.

Andai saja, saya memiliki banyak waktu, maka hidup ini akan digunakan untuk berdedikasi pada ilmu melalui menulis tanpa memikirkan batas waktu. Sungguh gelisah, setelah mengamati generasi milenial saat ini banyak yang terpapar rasa kemalasan, dan berlarut dalam kesedihan. Hal ini diakibatkan kecanduan berkomentar tak produktif di media-media sosial.

Arus globalisasi tampak membuat generasi milenial terdoktrin rapi, sehingga mempengaruhi pola pikirnya agar semakin tidak produktif. Menulis hal-hal yang tak berbobot mudah kita jumpai di kanal media sosial, seperti Facebook, Twitter, Youtube, Instagram, WhatsApp, dan social media lainnya. Seolah-olah merasa yang paling ahli, padahal menulis status anak RA, TK, SD/MI pun bisa (milenial), apalagi yang dewasa.

Literasi menulis sebagai tradisi intelektual muslim; atau yang kita sebut ulama semakin ke belakang malah bertambah merosot. Ironisnya negeri ini, dapat kita bayangkan, bahwa tidak hanya di kalangan generasi milenial. Tetapi, yang dewasa, dan para dosen pun terkadang lebih banyak mewakafkan waktunya untuk memegang gadjet daripada membaca itu sendiri.

Bagaimana mungkin, jika sebelumnya generasi milenial kita malas baca-baca buku, bagaimana mereka ingin menulis? Motivasi hidup mereka sebenarnya apa? Pertanyaan demikian, berdasarkan pengalaman saya sejak menginjakkan kaki di dunia pendidikan mulai dari SD/MI, hingga ke perguruan tinggi/Universitas sangat jarang siswa, dan mahasiswanya membaca. Apalagi menulis.

Bahkan saja, mereka bergegas ke perpustakaan meminjam buku hanya karena adanya tuntutan tugas menulis makalah dari para dosen, kalau pun tak ada tuntutan, tugas; atau kewajiban. Saya pun yakin pasti tak akan membaca, dan menulis. Inilah kelemahan generasi kita termasuk sebagai umat manusia, makhluknya Tuhan yang terkadang kita dikalahkan oleh godaan setan. Kadang-kala dihantui rasa malas, dan jenis godaan lainnya.

Menulis Tradisi Ulama

Kenapa saya anggap menulis adalah tradisi ulama, intelektual muslim; atau kebiasaan orang-orang hebat-besar? Oleh karenanya, ulama rajin baca, baik baca buku (كتاب). Bahkan, ulama juga giat menulis. Di sisi lain, ulama sangat kreatif, konsisten, istiqamah, dan produktif. Empat hal tersebut, yang memang jarang dijumpai di lingkungan generasi milenial. Terutama, di era digital ini.

Tengok sejarah yang ada, misalnya, seorang ulama sekaligus filsuf terkenal, Imam al-Ghazali yang melahirkan buku fenomenal yaitu Tahafut al-Falasifah tentang kerancuan filsafat. Ibnu Sina dengan karyanya tentang Maqasid al-Falasifah yang mengupas soal tujuan berfilsafat, sedangkan Ibnu Rusyd melahirkan buku fenomenal-kontroversi Tahafut at-Tahafut yang karyanya sebagai kritik keras atas filsafatnya Imam Ghazali.

Dan, Ibnu Rusyd adalah ulama yang produktif menulis sekaligus komentator terbesar dalam sejarah filsafat yang mengkritik keras terhadap teks-teks Aristoteles. Dengan menulis buku-buku kontroversial, karena bacaan-bacaannya yang menginspirasi generasi milenial agar rajin baca, dan menulis.

Sedangkan tradisi menulis tak kalah penting dimotori oleh ulama-ulama di Indonesia ini, seperti halnya, kiai Hasyim Asy’ari, kiai Abdurrrahman Wahid alias Gus Dur,  kiai Shalahuddin Wahid, kiai Ali Mustafa Yaqub, kiai Zawawi Imron, dan Emha Ainun Najib. Selain itu, ada juga Presiden kita, Soekarno, dan Susilo Bambang Yudhoyono. Mereka-mereka ini adalah orang hebat yang giat baca dan produktif menulis.

Dalam konteks ini, tradisi baca harus kita jadikan sebagai kebutuhan dalam memperkaya wawasan, sedangkan menulis harus kita jadikan sebagai bentuk dedikasiatau pengadian terhadap ilmu. Di sisi lain, dengan menulis mendapat dua keuntungan besar yang tak bernilai, dan belum tentu dimiliki banyak orang. Yaitu, keuntungan intelektual, dan keuntungan finansial.

Menulis ibarat kita melaksanakan rukun Islam yaitu shalat, sebelum bershalat harus suci dari najis alias berwudhu agar shalat kita sah. Sedangkan, membaca adalah rukun daripada menulis itu sendiri, agar kelak karyanya dapat dipertanggung-jawabkan, dan bermanfaat bagi orang-orang sekitar. Terutama, bagi generasi milenial Indonesia pada umumnya.

Keteladanan

Dalam buku Much Khoiri (Write or die; Jangan mati sebelum menulis buku: 2017), ia berkata, semasa perang para pejuang berteriak. “Merdeka atau Mati”. Kini, hai pejuang literasi, ayo tekadkan, “Menulis atau Mati”. Pesan ini menginspirasi dan memotivasi generasi milenial supaya menulis sesuka hati, ibarat sepasang kekasih yang saling mencintai, hingga ia sama-sama merelakan waktunya untuk berkelana di area cinta. Sama ketika seseorang mulai istiqamah menekuni tradisi menulis maka ia akan ikhlas dengan sendirinya. Sejatinya, terkadang tak kenal waktu.

Menulis membentuk intelektual muslim untuk berpikir kreatif, dan produktif. Karena itu, memberikan teladan bagi semua umat. Sebagaimana fatwa kiai Ali Mustafa Yaqub sebagai ulama sekaligus penulis produktif, ia berkata, ولا تموتن إلا وأنتم كاتبون. Artinya, janganlah kalian mati kecuali menjadi penulis. Dengan memahami kalimat ini, kita adalah generasi Indonesa memang dipersiapkan, dan akan dinobatkan menjadi ulama. Paling tidak, penulis.

Pun, setiap saya kemana saja pergi selalu ingat dengan kata penutup dari Imam al-Ghazali pernah mengatakan, kalau kamu bukan anak raja, bukan anak ulama besar, maka jadilah penulis. Tampaknya, ia mendorong kita semua kalangan, baik orang biasa, hingga anak ulama dan raja pun wajib menulis. Karena itu, adalah bentuk dan cara kita dalam berdedikasi.

Jadi, mulai detik ini, mengharumkan, dan membesarkan nama baik Indonesia tidak cukup hanya dengan prestasi. Tetapi, Indonesia butuh generasi yang mampu menggerakkan kemajuan bangsa lewat gerakan literasi. Tugas kita, mengembangkan tradisi baca, dan menulis. Sebab itu, adalah kuncinya. Yaitu kunci untuk memperkenal generasi-generasi hebat yang giat.

One response to “Ulama; Guru Literasi Menulis Kita”

Leave a Comment

Related Post