Penyebaran penyakit Corono Virus Disease alias COVID-19 menunjukkan kesaling terhubungan yang makin erat seiring dengan globalisasi, memiliki risiko-risiko yang harus dikelola oleh pemerintah maupun individu diseluruh dunia. Apalagi new normal tidak menjadi solusi efektif pencegahan virus, yang ada makin banyak korban yang positif.
Desentralisasi virus akan terjadi. Hal ini dapat menimbulkan keresahan beberapa kelompok masyarakat yang pro dibuatnya aturan resmi larangan mudik untuk mencegah penyebaran. Bahkan pemerintah daerah sendiri memperlihatkan gestur mulai “ketar-ketir” karena sudah menjadi beban yang menumpuk dalam menghadapi kasus dalam skala regional mereka. Harapan tidak akan pernah sia-sia, apalagi harapan itu dilandasi upaya gigih untuk mewujudkannya.
Efek samping cukup meluas, sebagaimana harus kita maklumi mewabahnya COVID-19 ke seluruh dunia, sampai banyak negara yang aspek perekonomiannya sudah melemah bahkan jatuh, sehingga tidak terkontrol dalam tindakan dan segala program menjadi terabaikan, juga karena rasa cemas dan takut yang mengancamnya dari penyakit tersebut.
Meski tidak lockdown, dengan penerapan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) kita berupaya mencegah wabah seperti yang dilakukan Rasulullah Saw, yang disebabkan kasus-kasus tertentu. Dalam sejarah umat manusia, Nabi Muhammad Saw pernah menyampaikan, ketika seseorang mendengar ada wabah terjadi di suatu wilayah, maka janganlah memasuki wilayah tersebut dan jika berada di wilayah terjadi wabah, ia diminta meninggalkannya (Sahih Bukhari: 5728). Artinya, wabah merupakan kondisi yang secara berulang terjadi sepanjang sejarah.
Semua terjadi karena cemas, takut dan galau dalam menghadapi wabah yang menular ini. Manusia memiliki tabiat seperti itu. Maka amat tepat apa yang disebutkan dalam al-Qur’an an-Nisa/4: 28: “Wa khuliqal insanu Dhaifa…” Manusia itu lemah secara alam aspek apapun, mulai fisik dan psikis. Dengan tenaga yang terbatas karena umur tertentu, sekaligus secara psikis pun terpengaruh. Maka rasa takut seperti ini adalah “Sunnatullah” dan tidak mengenal agama, bangsa dan warna kulit.
Ajakan menyikapi realitas hidup secara wajar juga tengah dikemukakan dan dilakukan di banyak negara. Terlebih, nyaris satu semester dunia menghadapi situasi yang berbeda sejak Covid-19 merebak ke seluruh dunia sejak pertama kali ditemukan di Wuhan, China akhir Desember 2019.
Menyikapi realitas hidup secara wajar ini yang oleh beberapa orang kemudian disebut dan populer sebagai normal baru (new normal). Normal baru itu terbentuk karena perubahan perilaku kita selama beberapa bulan terakhir. Studi menunjukkan, dibutuhkan rata-rata 66 hari untuk terbentuknya perilaku baru. Perilaku kita “terpaksa” berubah karena anjuran bekerja dari rumah, belajar dari rumah dan beribada di rumah sejak 15 Maret 2020.
Konvergensi Media Dakwah.
Media konvergen memadukan komunikasi massa dan komunikasi antar pribadi dalam satu media sekaligus. Oleh karenanya, terjadi apa yang disebut sebagai demasivikasi (demassification), yakni kondisi di mana ciri utama media massa yang menyebarkan informasi secara masif menjadi lenyap. Arus informasi yang berlangsung pun menjadi makin personal, karena tiap orang mempunyai kebebasan untuk memilih informasi yang mereka butuhkan.
Konvergensi media yang berorientasi dakwah, pada bagian tertentu akan mengamankan moral generasi muda, dan ini merupakan salah satu poin penting yang harus dipikirkan para da’i terhadap perkembangan dunia konvergensi media.
Dalam hubungan ini, Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) KH Ma’ruf Amin dalam beberapa kesempatan mengemukakan, gerakan dakwah melalui media massa harus dilakukan secara profesional dengan terus mengedepankan apa yang disebut “Islam Wasathiyah” (Islam moderat). Islam Wasathiyah adalah keislaman yang mengambil jalan tengah (tawassuth), berkeseimbangan (tawazun), lurus dan tegas (i’tidal), toleransi (tasamuh), egaliter (musawah), mengedepankan musyawarah (syura), berjiwa reformasi (islah), mendahulukan yang prioritas (aulawiyah), dinamis dan inovatif (tathawwur wa ibtikar), dan berkeadaban (tadhabbur).(sumber: republika)
Dakwah memang harus dilakukan secara profesional sebagaimana ucapan Ali bin Abi Thalib yang menyebutkan bahwa: “Kebenaran yang tidak dikelola secara profesional akan dihancurkan oleh kebathilan yang dikelola secara profesional.” Artinya, keberadaan media dakwah merupakan esensi penting dalam tatanan kehidupan beragama dan bernegara.
Kehadiran media, terlebih dalam era media konvergensi, suatu realitas yang tidak dapat dihindarkan. Media satu sisi dalam konteks penyebaran informasi sangat penting untuk instrumen dakwah, memberi pencerdasan dan pencerahan. Sebaliknya satu sisi yang lain, media menjadi suatu problem, seperti memunculkan realitas buatan yang berbenturan dengan persoalan moral.
Tranformasi Peran Da’i di Masa Covid-19
Berbagai permasalahan dakwah telah memunculkan fakta bahwa profesionalisme seorang da’i dalam pengertian yang luas masih dipertanyakan. Da’i sebagai agent of change harus mempunyai visi, misi yang jelas, tidak saja menyangkut wawasan Islam yang utuh tapi juga visi menyeluruh tentang problem sosial, ekonomi, politik, budaya dalam mengarahkan umat Islam kepada suatu tatanan yang lebih mapan.
Indonesia adalah mayoritas penduduknya beragama Islam sehingga memiliki peran yang cukup penting dalam memutus mata rantai penyebaran virus tersebut. Tentu disini yang memiliki peran yang sangat disegani dan lebih didengar oleh masyarakat adalah para ulama.
Menurut Imam Ghozali dalam kitab Ihya Ulum Ad-din memiliki kedudukan yang sangat mulia di dalam al-Qur’an sebagai kitab suci umat Islam. Mereka seperti penerang dalam kegelapan, juga sebagai pemimpin yang membawa petunjuk bagi umat Islam, yang dapat mencapai kedudukan al-akhyar (orang-orang yang penuh dengan kebaikan), dan derajat orang-orang yang bertakwa.
Dalam kehidupan kesehariannya, ulama mempunyai peran yang sanga penting di tengah kehidupan umat Islam, dan ulama juga bisa terus eksis sebagai ahli agama dengan posisinya yang terhormat.Ulama memiliki beberapa tugas yang dijelaskan dalam buku yang dikarang oleh M. Quraish Sihab, yang berjudul (Membumikan al-Qur’an: 2007) disitu disebutkan tugas ulama sebagai Warosatul ambiya (penerus para nabi). Pertama, menyampaikan ajaran sesuai dengan perintah Allah Swt. dan meninggalkan larangannya. Kedua, menjelaskan ajaran Allah Swt berdasarkan al-Qur’an. Ketiga, memutuskan perkara yang terjadi dimasyarakat. Keempat, memberikan contoh pengalaman sebagai media dan contoh terhadap masyarakat.
Sehingga disinilah untuk mencegah penyebaran COVID-19, Ulama memiliki tanggung jawab untuk memberikan edukasi terhadap masyarakat untuk bisa bersama-sama mematuhi anjuran pemerintah dan bersama mencegah penyebaran virus berbahaya berikut. Dengan mempertimbangkan keselamatan dan kesehatan umat. Sehingga wabah pagebluk ini segera berakhir dan masyarakat besa kembali dalam aktifitas kesehariannya dengan aman.
Para da’i menyampaikan kepada masyarakat untuk mencegah kontak-kontak dengan orang yang diduga terpapar corona sebagai pencegahan lebih lanjut. Karena itu, kenapa orang yang positif virus corona diisolasi. Sumber keagamaan seperti fatwa MUI menjadi bagian hal penting untuk didakwahkan oleh para da’i baik secara lisan maupun tulisan.
Dakwah Milenial
Beralihnya cara syiar agama rupanya bukan hanya cocok dengan kesan kekinian, tapi juga membuka segmen baru dakwah. Memanfaatkan teknologi untuk berdakwah, lantaran sudah menahbiskan diri sebagai influencer dakwah di media sosial, ketika pandemi virus Corona yang membatasi gerak serta berkumpulnya masa dakwah mereka tak terpengaruh. Perkembangan dakwah via live streaming di media sosial merupakan proses kemajuan syiar dakwah.
Ada atau tidaknya pandemi virus corona, sebenarnya tak terlalu berpengaruh pada tausiyah live streaming. Sebab pasti terjadi sebuah masa dimana salah satu ikhtiar membumikan al-Qur’an dan Sunah Nabi melalui ajakan kebenaran, lewat berbagai media sosial melalui tausiyah live streaming, Pandemi Covid-19, sebuah keadaan atau musibah yang menunjukkan pentingnya media baru dalam dakwah.
Meski dituntut menjaga jarak atau physical distancing, tidak ada alasan bagi urusan dakwah atau mencari ilmu agama. Dakwah bisa juga tetap berjalan tanpa terhalang pertemuan langsung, yang pada saat ini harus kita hindari, demi pencegahan dan kemaslahatan, sesuai anjuran Baginda Nabi Muhammad Saw.”Betapa sesungguhnya Allah Swt telah memberikan jalan keluar yang sangat revolusioner, hadirnya media digital dan media sosial menjadi penunjang dari sebuah hubungan antar manusia, media penghubung yang tak terbatas ruang dan waktu. Ini sangat bermanfaat di masa pandemi virus corona.”
Fungsi dakwah sebagai penyebar pesan kebaikan bagi umat juga tampil maksimal dengan pemilihan tema sesuai dengan kondisi terkini. Pemilihan tema tentang kesabaran dan keikhlasan menghadapi musibah di tengah pandemi virus Corona dinilai paling tepat menjadi pilihan para pendakwah serta ulama. Oleh karena itu, tema-tema membangkitkan semangat ibadah dan semangat saling mencintai sesama, peduli sesama manusia juga penting.
Tema memperbaiki diri dengan bertobat pada Allah, meningkatkan kualitas ketakwaan kepada Allah juga penting dalam menghadapi wabah corona ini. Selain itu, juga perlu ada pembahasan masalah ikhtiar menghadapi wabah virus corona baik yang terkait dengan ikhtiar kuratif (pengobatan) maupun preventif (pencegahan). Masyarakat perlu tema-tema yang menenangkan dan menyejukkan di tengah kecemasan menghadapi wabah corona.
Dalam konteks ini, pemerintah harus merangkul dan melindungi ulama dan para da’i dengan follower tertinggi di media sosial untuk mengajak dan memberi dakwah yang menyejukkan dan menenangkan yang pernah terjadi pada zaman Rasullah Saw yaitu berdiam di rumah (self isolation), menjaga kebersihan dan menghindari bersentuhan secara fisik (physical distancing).








Leave a Comment